Menuju konten utama
GWS

Trauma Masa Kecil Diam-diam Menggerogoti Tubuh Manusia

Trauma masa kecil membekas di hati seseorang hingga dewasa, membebani pikirannya hingga menua, dan bahkan, tanpa disadari, menggerogoti fisik manusia.

Trauma Masa Kecil Diam-diam Menggerogoti Tubuh Manusia
Ilustrasi trauma masa kecil. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Ada empat hak yang semestinya dimiliki setiap anak di dunia. Konvensi Hak Anak, yang ditetapkan pada 1989, telah mengatur hal tersebut. Setiap anak berhak hidup, mendapat perlindungan, bertumbuh kembang, dan berpartisipasi. Keempat hal tersebut menjadi panduan dasar untuk menciptakan situasi ideal bagi anak, wabil khusus dalam rumah mereka sendiri.

Namun, lain ideal, lain pula realitas. Yang seharusnya menjadi hak acap kali gagal terpenuhi karena satu dan lain hal. Yang selumrahnya didapatkan sering kali hanya jadi angan-angan karena situasi tidak mendukung. Realitasnya, menurut catatan World Health Organization (WHO) tahun 2025, ada sedikitnya satu miliar anak usia 2-17 tahun mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk. Ini jelas bukan perkara sepele.

Kekerasan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang meninggalkan trauma bagi seorang anak. Selain kekerasan, ada penelantaran. Bahkan, kondisi keluarga yang disfungsional pun, apa pun penyebabnya, masuk dalam kategori Adverse Childhood Experience (ACE). Pengalaman-pengalaman tak menyenangkan macam itu tidak hanya membekas di ingatan, tetapi juga berefek negatif secara fisiologis. Jejak trauma akibat ACE masih bisa ditemukan di dalam darah, di jaringan tubuh, bahkan di cara kerja sistem imun anak-anak itu sampai mereka tumbuh dewasa.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa dampak ACE jauh melampaui masalah psikologis. Paparannya bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami 7 dari 10 penyebab kematian utama di AS, termasuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kanker. Korelasi ini sudah konsisten ditemukan dalam banyak studi di berbagai negara.

Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya pengalaman buruk di masa kecil bisa mengubah tubuh secara biologis?

Kunci untuk memahaminya adalah konsep yang disebut toxic stress. Dalam situasi bahaya, tubuh manusia secara alami mengaktifkan respons "lawan atau lari" (fight-or-flight). Jantung berdegup lebih cepat, hormon stres seperti kortisol dan epinefrin mengalir lebih deras ke dalam darah, dan sistem imun aktif dalam kondisi siaga.

Fenomena tersebut sebenarnya merupakan mekanisme bertahan hidup yang sehat jika terjadi sesekali. Masalah muncul ketika respons itu diaktifkan berulang-ulang tanpa jeda yang cukup, terutama pada anak-anak yang sistem sarafnya masih dalam tahap perkembangan.

Paparan stres kronis semacam itu bisa mengubah cara otak belajar membedakan antara ancaman dan rasa aman. Sebuah penelitian menggunakan fMRI (functional MRI) menemukan, orang yang pernah mengalami trauma menunjukkan perubahan pada salience network, yaitu jaringan otak yang berperan dalam proses belajar dan bertahan hidup.

Yang lebih mengkhawatirkan, pada penderita PTSD atau stres pascatrauma, komunikasi antara hipokampus, amigdala, dan jaringan otak lainnya, menjadi terganggu saat ada komponen emosional yang terlibat.

Emosi bisa membanjiri kemampuan kognitif mereka saat otak tengah membedakan mana yang berbahaya dan mana yang aman. Imbasnya, bagi mereka yang mengalami ACE, dunia terasa seperti ancaman terus-menerus, bahkan ketika tidak ada bahaya nyata.

Para peneliti menggunakan sebuah konsep bernama allostatic load atau beban alostatis untuk mengukur akumulasi kerusakan itu. Simpelnya, beban alostatis adalah ukuran seberapa besar "keausan" (wear and tear) yang dialami tubuh akibat paparan stres berulang dan berkepanjangan. Makin tinggi beban alostatis seseorang, makin banyak sistem biologis yang bekerja di luar kapasitas normalnya.

Keausan itu sudah bisa terdeteksi sejak masa remaja. Sebuah studi yang menganalisis data dari 3.787 remaja berusia 13 tahun di Portugal menemukan, mereka yang terpapar ACE pada usia 10 tahun sudah menunjukkan peningkatan beban alostatis. Makin banyak ACE yang terkumpul hingga usia 13 tahun, makin tinggi bebannya. Tubuh mereka, bisa dibilang, menua lebih cepat.

Sistem yang paling cepat merespons tingkat beban alostatis ini adalah sistem metabolik dan imun. Remaja dengan ACE cenderung memiliki kadar HDL (kolesterol "baik") lebih rendah, lingkar pinggang lebih besar, dan kadar hs-CRP (protein penanda inflamasi kronis dalam tubuh) lebih tinggi. Inflamasi kronis tingkat rendah merupakan salah satu mekanisme biologis yang menghubungkan trauma masa kecil dengan penyakit-penyakit di kemudian hari.

Setelah anak tersebut tumbuh dewasa, inflamasi yang terus membara perlahan-lahan merusak berbagai sistem organ. Salah satu dampaknya adalah nyeri kronis. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis, yang melibatkan 826.452 orang dewasa dan mencakup penelitian selama 75 tahun, menyimpulkan bahwa individu yang pernah mengalami berbagai bentuk trauma di masa kecil, termasuk kekerasan fisik, seksual, atau emosional, 45 persen lebih mungkin melaporkan nyeri kronis di masa dewasa.

Tentu saja, risiko itu meningkat seiring bertambahnya jumlah ACE yang dialami. Mereka yang terpapar empat jenis ACE atau lebih berkemungkinan lebih tinggi menderita kondisi seperti nyeri punggung bawah, artritis, atau migrain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan banyaknya jumlah anak yang mengalami ACE berdasarkan data WHO di atas, dampak biologis ACE tidak bisa dipandang hanya sebagai urusan individu, melainkan krisis kesehatan publik yang nyata.

Ilustrasi trauma masa kecil

Ilustrasi trauma masa kecil. FOTO/iStockphoto

Dampak ACE pun tidak berhenti di satu sistem tubuh saja. Ia bisa merembet ke mana-mana. Penelitian dari Kanada menemukan, individu yang datang ke unit gawat darurat psikiatri memiliki beban alostatis jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Ini, utamanya, didorong oleh disregulasi kortisol, interleukin-6, tekanan darah sistolik, dan detak jantung abnormal. Artinya, stres kronis yang tidak tertangani bisa mendorong seseorang ke titik kritis, dan tubuh ikut menanggung bebannya.

Studi lain bahkan menemukan bahwa penderita skizofrenia tahap awal sudah memiliki beban alostatis yang signifikan lebih tinggi dibandingkan orang sehat seusianya. Itu ditandai dengan tingginya kadar penanda imun dan hormon stres. Temuan tersebut mengisyaratkan, kerentanan biologis akibat stres kumulatif sudah hadir jauh sebelum penyakit mental itu benar-benar meledak sepenuhnya.

Dalam konteks pengobatan, beban alostatis juga menimbulkan masalah. Pasien depresi yang sulit diobati, dengan tingkat beban alostatis lebih tinggi sebelum memulai perawatan, lebih kecil kemungkinannya merespons repetitive transcranial magnetic stimulation atau rTMS (terapi stimulasi otak non-invasif yang digunakan untuk depresi yang resistan terhadap obat). Dengan kata lain, tubuh yang sudah terlalu aus lebih sulit pulih, bahkan dengan bantuan teknologi medis modern.

Meski demikian, ada kabar baik di balik semua ini. Otak manusia memiliki kapasitas untuk beradaptasi. Penelitian menunjukkan, sebagian orang yang terpapar trauma justru mengembangkan kompensasi berupa aktivasi lebih kuat pada executive control network, jaringan otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pengendalian diri. Ini adalah penanda ketahanan resilience secara biologis.

Sejumlah faktor pendukung, seperti relasi baik, lingkungan stabil, dan intervensi dini, terbukti dapat meredam dampak buruk ACE. Makin dini seseorang mendapatkan bantuan setelah mengalami trauma, makin besar peluang memutus rantai biologis destruktif itu. Terapi trauma-focused cognitive behavioral therapy dan cognitive processing therapy bisa membantu orang mengubah hubungannya dengan pengalaman traumatis tanpa bisa menghapus masa lalunya.

Pada akhirnya, memahami ACE bukan tentang menyalahkan siapa pun atas masa lalu kelam. Ini adalah soal mengakui bahwa tubuh menyimpan cerita-cerita tak terucapkan, bahwa sains kini punya cara membacanya, dan mungkin perlahan-lahan menyembuhkannya.

Baca juga artikel terkait CHILDHOOD TRAUMA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin