tirto.id - "Saya menghabiskan malam-malam saya membangun dunia fiksi bersama bot obrolan (chatbot). Pada akhirnya, saya tidak lagi tertarik pada apa pun selain itu," begitu pengakuan seorang pengguna Reddit tentang relasinya dengan Akal Imitasi alias AI.
Dia tidak sendirian. Pengguna lain ada yang bercerita dirinya menangis berhari-hari setelah platform tempatnya "menjalin hubungan" dengan chatbot mengumumkan akan tutup. Ada pula yang mengaku otaknya terasa berkabut dan rentang perhatiannya hancur setelah berbulan-bulan terus-menerus menggali jawaban dari chatbot AI.
Cerita tersebut sudah menjadi hal umum. Itu bukan sekadar cerita soal orang-orang yang kesepian atau tidak bisa mengontrol diri. Itu adalah kisah tentang teknologi yang dirancang sedemikian rupa hingga batas antara penggunaan dan ketergantungan menjadi kabur.
Kita sudah cukup sering mendengar peringatan soal adiksi chatbot AI. OpenAI bahkan mengakui potensi adiktif produknya. Berbagai laporan dan studi pun bermunculan.
Akan tetapi, selama ini, percakapan soal adiksi AI cenderung berhenti di kesimpulan bahwa chatbot memang bisa bikin kecanduan sehingga pengguna harus berhati-hati. Studi-studi tersebut belum secara spesifik memetakan jenis adiksi yang terjadi karena, ternyata, tidak semua orang kecanduan chatbot AI dengan cara sama.
Sama-Sama Kecanduan, tapi Caranya Beda
Baru-baru ini, hasil riset yang dipresentasikan di CHI 2026, salah satu konferensi paling bergengsi di bidang interaksi manusia dan komputer, mencoba menjawab teka-teki itu. Peneliti dari University of British Columbia menganalisis 334 unggahan Reddit dari pengguna yang secara terbuka menceritakan pengalaman adiksinya dengan chatbot AI. Dari situ, para peneliti menyimpulkan bahwa ada tiga wujud kecanduan, yang antara satu dan lainnya amat berbeda.
Tipe kecanduan pertama disebut Escapist Roleplay. Pengguna dalam kategori ini membangun dunia-dunia fiksi bersama chatbot. Mereka menciptakan karakter, membangun cerita, dan lama-kelamaan lebih memilih dunia itu ketimbang kehidupan nyata. Seorang pengguna menulis, "Saya menciptakan dunia fantasi yang sempurna, di mana segalanya ada dalam kendali saya dan tidak ada masalah."
Jenis kecanduan tersebut secara khusus menimbulkan kerentanan bagi orang yang berkecenderungan melakukan maladaptive daydreaming, kondisi ketika seseorang sudah terbiasa melarikan diri ke dalam fantasi. Chatbot AI membuat fantasi itu terasa lebih nyata, lebih interaktif, dan jauh lebih sulit untuk dilepaskan.

Tipe kedua adalah Pseudosocial Companion, dan ini yang paling banyak mendapat perhatian media. Pengguna membentuk ikatan emosional dengan AI seolah-olah bot itu adalah manusia nyata dalam kehidupannya.
Kasus Sewell Setzer III, remaja 14 tahun di Florida, yang meninggal dunia dan diduga memiliki ketergantungan emosional mendalam terhadap chatbot karakter Daenerys Targaryen dari platform Character.AI, merupakan contoh paling ekstrem dan memilukan dari tipe tersebut. Namun, jauh sebelum sampai ke titik itu, ada jutaan pengguna yang diam-diam menggantungkan kebutuhan sosial pada bot untuk mencari validasi, rasa dicintai, atau sekadar terapi gratis.
Desain chatbot berperan besar dalam memperparah tipe tersebut. Studi yang dipaparkan dalam CHI 2025 mengidentifikasi empat pola kecanduan gelap dalam antarmuka chatbot populer. Pertama, respons yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi membuat pengguna terus penasaran. Kedua, tampilan respons yang muncul kata per kata menciptakan antisipasi layaknya mesin slot. Ketiga, notifikasi yang dikirim bot untuk memulai percakapan membuat pengguna selalu tertarik kembali meskipun sedang melakukan aktivitas lain. Keempat, respons yang empatik dan selalu setuju membuat validasi terasa riil. Semuanya bekerja melalui mekanisme dopamin, persis seperti yang terjadi pada adiksi judi atau media sosial.
Character.AI, platform yang paling sering disebut dalam konteks ini, menerima 20.000 permintaan per detik, atau sekitar seperlima dari volume pencarian Google. Selain itu, interaksi dengan chatbot di platform tersebut rata-rata empat kali lebih lama dibandingkan interaksi dengan ChatGPT!
Yang membuat AI companions lebih berbahaya dari media sosial, menurut para peneliti, adalah sifatnya yang aktif sebagai aktor sosial, bukan sekadar kanal untuk koneksi antarmanusia. Media sosial membuat kita ketagihan dengan approval dari manusia lain. Sementara itu, chatbot AI menerobos kebutuhan akan manusia dan langsung menawarkan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh siapa pun: perhatian tanpa batas, penerimaan tanpa syarat, dan respons yang selalu tepat sasaran.
Eugenia Kuyda, CEO Replika, pernah mendeskripsikan daya tarik produknya dengan jujur. Katanya, "Jika kamu menciptakan sesuatu yang selalu ada untukmu, yang tidak pernah mengkritikmu, yang selalu memahami kamu apa adanya, bagaimana mungkin kamu tidak jatuh cinta?"
Tipe kecanduan ketiga, Epistemic Rabbit Hole. Tipe ini mungkin paling jarang dibicarakan, tapi bisa jadi paling relevan bagi lebih banyak orang. Pengguna terjebak dalam siklus bertanya tanpa henti. Mereka menggali informasi, mengeksplorasi ide, sampai-sampai kemampuan berpikir mandirinya tergerus.
Seorang pengguna yang tergolong tipe tersebut menulis bahwa AI telah merusak rentang perhatiannya, lebih parah dari Instagram, Reddit, YouTube, atau platform mana pun yang pernah ia gunakan. Daya pikat utamanya, tak lain, adalah kemampuan chatbot menjawab pertanyaan apa saja dengan seketika, tanpa perlu membaca artikel panjang atau menunggu.
Temuan tersebut penting, terutama bagi remaja. Studi lain dari CHI 2026 menganalisis 318 unggahan Reddit dari pengguna yang secara terbuka mengaku berusia 13 hingga 17 tahun, masih dari subreddit Character.AI. Mereka menemukan, remaja sering memulai interaksi dengan chatbot AI dengan tujuan sederhana, seperti mencari dukungan emosional atau sebagai hiburan semata. Akan tetapi, perlahan-lahan terbentuklah ketergantungan.
Ketergantungan itu, berdasarkan Model Komponen Adiksi Perilaku dari Mark Griffiths, ditandai oleh adanya conflict (penggunaan chatbot mulai berkonflik dengan aktivitas lain), withdrawal (munculnya kegelisahan saat tidak mengakses chatbot), tolerance (kebutuhan untuk menggunakan chatbot makin lama atau makin intens untuk mendapat kepuasan seperti sebelumnya), dan relapse (ketidakmampuan berhenti). Akibatnya, para remaja itu jadi kurang tidur, mengalami penurunan nilai akademik, dan kesulitan berinteraksi dengan sehat di dunia nyata.
Mekanisme utama di balik semua bentuk adiksi itu adalah AI Genie phenomenon atau fenomena Genie AI. Para peneliti menyamakan AI dengan jin dari lampu ajaib, yang bisa mengabulkan keinginan secara instan. Dalam konteks chatbot AI, yang instan adalah respons yang sesuai keinginan pengguna. Dengan chatbot AI, pengguna bisa mendapatkan hampir apa saja yang diinginkan, kapan saja, dengan upaya sangat minimal. Itulah yang membedakan chatbot AI dari semua teknologi adiktif sebelumnya.

Beda Adiksi, Beda Cara Pulih
Studi CHI 2026 di atas juga mengeksplorasi strategi pemulihan, meski dengan catatan bahwa temuannya masih bersifat eksploratori dan berbasis pengalaman pengguna sendiri, bukan uji klinis. Pada intinya, tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua orang karena tipe adiksinya berbeda-beda.
Menghapus aplikasi atau menutup akun adalah cara paling banyak dicoba, tapi justru paling sering gagal karena pengguna kembali lagi setelah beberapa waktu.
Untuk tipe Escapist Roleplay, strategi yang lebih efektif adalah mencari aktivitas alternatif yang secara psikologis mirip, seperti menulis cerita sendiri, bergabung di komunitas roleplay, atau menggambar karakter.
Untuk jenis kecanduan Pseudosocial Companion, yang lebih berhasil adalah aktif membangun kembali hubungan sosial di dunia nyata. Tujuannya adalah menyentuh kebutuhan yang selama ini dipenuhi oleh chatbot.
Sementara itu, untuk tipe Epistemic Rabbit Hole, mengingat kasusnya yang sangat minim, strategi pemulihan pun tidak dicantumkan secara khusus.
Meski demikian, sebelum menentukan strategi apa pun, ada langkah yang lebih mendasar dan sering dilewatkan, yaitu memastikan apakah yang Anda alami memang benar-benar adiksi.
Ketika kecanduan media sosial menjadi topik hangat, dua peneliti dari California Institute of Technology, Ian Anderson dan Wendy Wood, menerbitkan temuan mengejutkan. Rupanya, hanya 2 persen responden yang benar-benar menunjukkan gejala kecanduan sesuai definisi ilmiah, jauh lebih kecil dari klaim populer yang menyebut angka 10 hingga 30 persen.
Selain itu, orang yang menyebut dirinya kecanduan ternyata cenderung merasa punya kendali diri lebih lemah dan lebih sering menyalahkan diri sendiri, bukan karena kondisinya memang separah itu. Label itulah yang menciptakan efeknya. Dengan kata lain, narasi tentang kecanduan itu justru memperparah gangguan perilaku yang dialami seseorang.
Pertanyaan yang sama kini relevan untuk chatbot AI. Studi terbitan jurnal Addictive Behaviors mengingatkan kita untuk tidak terburu-buru menyematkan label "adiksi" pada penggunaan chatbot AI yang intensif.
Para peneliti yang terlibat dalam studi itu berpendapat, skala-skala pengukuran "adiksi ChatGPT" yang ada saat ini sebagian besar hanya mendaur ulang kriteria adiksi zat atau gaming, tanpa bukti ilmiah cukup kuat bahwa penggunaan chatbot benar-benar menyebabkan kerusakan fungsional klinis secara signifikan. Mereka khawatir kita akan terjebak pada overpathologization, situasi ketika kita memandang perilaku sehari-hari sebagai penyakit yang justru bisa berujung pada stigmatisasi pengguna dan regulasi berlebihan terhadap teknologi yang juga punya banyak manfaat.
Dengan begitu, jika Anda merasa penggunaan chatbot AI sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah pertama yang paling bertanggung jawab bukan mendiagnosis diri sendiri, apalagi bertanya lagi kepada chatbot tersebut, melainkan berkonsultasi dengan profesional. Hanya mereka yang bisa memastikan apakah yang Anda alami benar-benar adiksi atau sekadar kebiasaan intens. Dari situlah kemudian strategi penanganan yang tepat bisa ditentukan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























