tirto.id - Indonesia Accounting Fair (IAF) merupakan sebuah ajang internasional bergengsi yang digagas oleh mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan pemahaman konseptual dengan praktik profesional, sehingga menjadi ruang pengembangan bagi calon akuntan dalam memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring di tingkat global.
Pada edisi ke-27, IAF membangun suatu ekosistem kolaboratif yang diwujudkan melalui rangkaian program utama, antara lain Pre-Event Talk Show, International Seminar, Training and Company Visit, serta Accounting Competition dan Business Case Competition. Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis peserta, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan pola pikir inovatif yang relevan dengan dinamika transformasi global.
Sebagai komponen sentral dalam keseluruhan agenda, International Seminar IAF menjadi forum diskusi strategis yang mempertemukan regulator, akademisi, serta pelaku industri. Forum ini dirancang untuk mengulas isu-isu aktual, tantangan kontemporer, serta peluang masa depan di bidang akuntansi, dengan tujuan memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan disiplin ilmu dan praktik profesional.
International Seminar IAF ke-27 diselenggarakan pada Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di Balai Serbaguna Purnomo Prawiro FISIP UI. Mengangkat tema “Beyond Digital Precision: Advancing Market Agility Through Accounting Insights,” seminar ini membedah urgensi peran akuntansi dalam meningkatkan kelincahan pasar melalui dua sesi diskusi utama yang dikemas secara komprehensif.
Sesi pertama menyoroti perubahan lanskap profesi di tengah era disrupsi digital. Pembahasan mencakup peran strategis akuntan dalam menghadapi otomasi dan integrasi sistem, kolaborasi antara penilaian profesional manusia dengan konsistensi kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat respons pasar, serta analisis dari sisi regulasi, etika, dan standar profesional terhadap pemanfaatan teknologi dalam praktik akuntansi.
Sesi kedua berfokus pada penerapan konkret dalam ekosistem keuangan modern. Diskusi pada sesi ini mengkaji optimalisasi teknologi untuk memperkuat fungsi keuangan, strategi implementasi sistem akuntansi digital guna menghapus hambatan operasional, hingga penerapan nyata sistem terintegrasi dalam lingkungan bisnis berskala internasional yang dinamis.
Reputasi International Seminar IAF ke-27 semakin diperkuat oleh partisipasi pembicara dari berbagai institusi ternama dunia. Para profesional tersebut berkontribusi dalam sesi Opening Remarks, Keynote Speech, serta Moderated Sessions. Tokoh-tokoh yang hadir meliputi:
- Sandiaga Uno (Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia)
- SumitPopli (Partner pada McKinsey & Company)
- Didi Laksana (Director of SAP pada KPMG)
- Sylvanus Gani Mendrofa (ChiefFinancialOfficer pada AdiraFinance)
- TomiParisiantoWibowo (Associate Partner pada ParkerRussell Indonesia)
- DeniPoerhadiyanto (Anggota Dewan Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia)
- Faransyah Agung Jaya (CEOOneIntegraVentures)
- Ponco Widagdo (Director of Assurance pada PwC Indonesia)
- Hengky Jaya (CertifiedAccountingSpecialist)
- UmarudinZaenuri (Founder/TechAdvisor pada PT Reka Karya Teknologi)
- EvyYulianti (ServicesAccountExecutive pada Microsoft Indonesia)
Kehadiran pembicara lintas sektor tersebut memperlihatkan komitmen IAF dalam menjembatani kebijakan strategis, standar profesional, serta perkembangan teknologi mutakhir di bidang keuangan.
Dalam sesi eksplorasi strategis, Sumit Popli menekankan bahwa percepatan adopsi AI dan perubahan struktur tenaga kerja global telah membentuk dinamika pasar yang kompleks. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan geopolitik yang dihadapi para CFO, fungsi keuangan dituntut bertransformasi menjadi mitra strategis sekaligus pengelola nilai organisasi. Penguasaan teknologi digital serta kemampuan menghasilkan insight berbasis data menjadi kunci daya saing di masa mendatang.
Tomi Parisianto Wibowo menambahkan bahwa banyak perusahaan masih memposisikan akuntansi sebagai fungsi administratif semata, dengan proses manual dan data yang terfragmentasi. Transformasi melalui otomasi dan integrasi sistem dipandang sebagai perubahan mendasar yang memungkinkan akuntan beralih dari pekerjaan rutin menuju analisis strategis dan pengambilan keputusan berbasis data.
Pada sesi implementasi, Ponco Widagdo mengingatkan bahwa mayoritas inisiatif transformasi digital gagal apabila hanya menitikberatkan pada aspek teknologi. Keberhasilan transformasi memerlukan perubahan pola pikir, standardisasi proses, tata kelola data yang baik, serta penguatan pengendalian internal. Hengky Jaya menyoroti pentingnya sistem terintegrasi sebagai sumber data tunggal (single source of truth) yang memungkinkan analisis profitabilitas secara real-time. Sementara itu, Umarudin Zaenuri menekankan urgensi roadmap transformasi yang terukur serta manajemen perubahan yang efektif, terutama dalam menghadapi kompleksitas pelaporan ESG dan ancaman keamanan siber berbasis AI.
Secara keseluruhan, International Seminar IAF ke-27 menegaskan bahwa masa depan akuntansi bertumpu pada sinergi antara kecanggihan teknologi dan kebijaksanaan profesional manusia. Profesi akuntan kini bergerak dari fungsi administratif menuju peran strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Teknologi dan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk memperkuat kapasitas analitis dan interpretatif dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
Keberhasilan penyelenggaraan IAF ke-27 kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu forum akuntansi internasional paling prestisius yang diinisiasi mahasiswa di Indonesia. Dengan mempertemukan perspektif akademis dan praktik industri global, IAF tidak hanya menjadi sarana pengembangan kompetensi, tetapi juga katalisator lahirnya generasi profesional yang adaptif, tangguh, dan siap menghadapi dinamika ekonomi masa depan.
Editor: Siaran Pers
Masuk tirto.id




























