tirto.id - Presiden Prabowo Subianto berjanji bakal mengawasi secara langsung hubungan moneter antara Indonesia dengan Rusia. Hal ini dimaksudkan agar kesepakatan yang telah diteken dengan Rusia, setelah Indonesia bergabung BRICS, dapat berjalan lebih cepat.
BRICS adalah blok ekonomi-geopolitik negara berkembang utama yang pada awal 2025 resmi beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, UEA, dan Arab Saudi.
“Hampir semua bidang yang kita sepakati beberapa bulan yang lalu [dengan masuknya Indonesia ke dalam BRICS] mengalami kemajuan yang pesat. Ada 1-2 yang perlu kita percepat saya akan segera menangani sendiri, terutama antara hubungan moneter di antara kedua pihak, saya akan mengawasi sendiri,” katanya di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam kunjungan kenegaraan ke Kremlin, dikutip akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (13/4/2026).
Pada kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Rusia yang telah menggelar karpet merah dengan cepat untuk masuk dan bergabung sebagai anggota BRICS.
Belum lagi, Putin juga memberikan dukungan atas keperluan-keperluan Indonesia yang cukup penting, termasuk untuk menjadi anggota blok ekonomi-geopolitik tersebut.
“Maksud dan tujuan saya hari ini datang intinya adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada Presiden Putin, pemerintah Rusia atas dukungan Rusia kepada Indonesia. Pertama, kami diterima begitu cepat di BRICS. Selanjutnya dalam beberapa hal yang sangat penting bagi indonesia, Presiden Putin mendukung dan memberi dukungan kepada keperluan-keperluan Indonesia,” tutur dia.
Dalam kesempatan yang sama, Putin menyebut, dengan masuknya Indonesia ke dalam BRICS, peluang kerja sama dengan Rusia kian terbuka lebar. Bahkan, ke depan Rusia mengajak Indonesia untuk bekerja sama dengan Uni Ekonomi Eurasia (UEE), blok integrasi ekonomi regional yang beranggotakan Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgizstan.
“Indonesia sudah menjadi anggota BRICS. Hal ini membuka peluang baru untuk mengembangkan kerjasama kita. Hal sama kita bisa bicara mengenai kerjasama dengan Uni Ekonomi Eurasia,” katanya.
Meski begitu, dalam dialog tersebut Putin menyoroti perlambatan kesepakatan bilateral antara Rusia dan Indonesia pada awal tahun ini. Kondisi ini praktis menjadi titik balik, karena pada sepanjang 2025 kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan antara kedua negara tumbuh sebesar 12,5 persen.
“Tapi kami punya berbagai cara untuk meningkatkannya. Kami memberikan makna besar kepada komisi bersama antarpemerintah, dan kami berharap bahwa dalam pertemuan hari ini Yang Mulia, kita akan sempat mencari berbagai solusi untuk tetap meningkatkan kemitraan antara kedua negara kita,” tegas Putin.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




































