tirto.id - Indonesia bakal meningkatkan nilai ekspor ke Uganda, Afrika Timur dalam rangka menekan defisit peedagangan sebesar 35,97 juta dolar Amerika Serikat (AS) dalam tiga bulan pertama 2025. Selain produk-produk seperti baja tahan karat (stainless steel), minyak nabati dan kaca yang biasa dikirim ke Uganda, Indonesia juga akan meningkatkan nilai ekspor produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Sebagai catatan, pada periode Januari-April, total nilai ekspor Indonesia ke Uganda hanya senilai 9,42 juta dolar AS, sementara total impor dari Uganda ke Indonesia mencapai 44,40 juta dolar AS.
"Jadi, seperti yang Anda lihat dari angka-angka tersebut, saya yakin ada banyak hal yang dapat kita perluas, kita dapat jelajahi lebih jauh dan untuk melihat bagaimana kita dapat meningkatkan ini ke depannya," ujar Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam Uganda-Indonesia Business Forum, di Park Hyatt Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2025).
Lebih lanjut, Roro menjelaskan, perluasan ekspor ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga agar ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi. Pada saat yang sama, perluasan pasar ekspor juga sejalan dengan beberapa perjanjian perdagangan yang saat ini sedang dijajaki Indonesia dengan sejumlah negara di dunia.
"Dan benar-benar hanya memperluas portofolio internasional itu dan yang terakhir adalah bagaimana UKM lokal kami, usaha kecil menengah, dapat lebih dikenal di ruang internasional seperti yang Anda lihat, Anda tahu ini berkontribusi cukup besar terhadap PDB kami dan cara apa yang lebih baik daripada memiliki produk lokal ini, baik buatan tangan atau buatan industri," jelasnya.
Roro mengakui, mengatasi defisit neraca dagang dengan Uganda menjadi tantangan bagi Indonesia. Namun, melalui forum bisnis yang diadakan Indonesia dapat mengetahui apa saja pelung ekspor yang dijajaki ke Uganda.
"Dan ini merupakan avenue (jalan) untuk kita menekankan, untuk kita berkolaborasi, untuk berdiskusi mengenai potensi apa saja yang perlu kita gali. Jadi, justru pasar-pasar non-konvensional seperti ink yang harus kita garap dan Kementerian Perdagangan siap untuk menggarap potensinya," tambah dia.
Di sisi lain, Uganda juga berencana meningkatkan impor kakao dan juga kulit domba dari Indonesia. Duta besar Uganda di Malaysia, Betty Oyella Bigombe, pun menekankan kesiapan negaranya untuk terlibat dalam kerja sama perluasan perdagangan ini.
"Forum ini lebih dari sekadar memamerkan potensi Uganda. Kami berharap dapat membangun masa depan di mana pasar Afrika dan Asia bekerja sama lebih erat dari sebelumnya. Visi kami berjangka panjang. Kami di sini untuk menciptakan kemitraan yang memajukan industri, memberdayakan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan bersama," ujar Bigombe.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































