Advertorial

Tantangan Hari Ini Jadi Kekuatan di Masa Depan

Penulis: Advertorial, tirto.id - 24 Okt 2022 13:45 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Sebagai perusahaan global, multinasional, dan lokal yang kuat, Zurich selalu inovatif, memperkuat produk-produk yang ada, bertumbuh, dan sustainable.
tirto.id - Sudah lebih dari 25 tahun saya, Edhi Tjahja Negara, bekerja di perbankan dan kemudian asuransi. Jangan kaget, selama itu, bagi saya, momen terbaik justru hadir di saat krisis terjadi. Saya baru sadar, ini artinya sudah tiga krisis besar yang saya hadapi: krisis 1998, 2008, dan pandemi COVID-19 pada 2020.

Ada momentum yang datang ketika krisis, masa di mana dunia langsung terpisah dua: orang hopeless dan orang hopeful. Padahal, saat krisis seperti sekarang, semua orang berada di playing field yang sama.

Salah satu pemimpin panutan saya, Nelson Mandela, pernah bilang bahwa yang mengendalikan hidup kita itu jangan rasa takut, tapi harapan. Hope. Sederhana tapi sangat berarti. Makanya saya suka orang-orang hopeful di saat krisis seperti sekarang.

Bukan kebetulan, mindset itu juga yang membuat saya teringat jika ada yang bertanya apa milestone dalam hidup saya. Buat orang lain, milestone itu mungkin sesuatu yang bagus. Namun buat saya, milestone saya justru pengalaman yang paling sulit dalam hidup saya.

Pada enam tahun pertama saya mulai bekerja di bank, saya menghadapi office politic. Singkat cerita, saya dimutasi dan akhirnya dengan terpaksa saya mengundurkan diri. Saat itu tidak mudah mencari pekerjaan. Itu adalah masa-masa terkelam saya.

Waktu itu saya hampir 10 bulan di Jakarta, istri saya di Balikpapan, dan anak pertama saya sudah lahir tapi saya titipkan ke ibu di Kediri. Itu masa-masa tersulit. Namun, hari ini, saya sangat mensyukuri masa-masa tersebut.

Kalau dianalogikan, waktu itu saya ibaratnya orang main sirkus yang main ayunan. Ada sepersekian detik ketika pemain sirkus melepas tangan dari ayunan satu menuju ayunan lainnya, sambil berputar di udara, tidak memegang apa-apa. Itu saya. Namun untuk saya bisa menangkap ayunan yang satunya lagi, yang sebelumnya ini harus saya lepas. Itu jadi momen yang paling bikin stres buat saya, padahal lagi di posisi yang cukup tinggi.

Dari momen itu, saya belajar, ketika dalam tekanan yang luar biasa, jangan pernah kehilangan integritas dan nurani kita. Tidak ada orang yang jadi kuat kalau tak mengalami tekanan. Semua tekanan itu berpotensi jadi kekuatan kita. Saya sangat bersyukur, yang membawa saya hari ini, semuanya berasal dari situ; di saat saya mengalami krisis.

E dan R: Dua Huruf yang Jadi Mantra Hidup

Saya anak pertama dari keluarga saya. Satu hal yang saya tekankan di awal karier saya yang sulit adalah: saya harus survive. Saya harus kerja dan memberi sesuatu buat keluarga saya. Itu meaning hidup saya, bukan hanya passion.

Ada beberapa yang saya tidak sukai, misalnya jualan. Saya introvert, makanya saya tidak suka jualan. Namun situasi mengharuskan saya untuk berjualan. Saya masih ingat ketika saya bekerja di Pontianak sebagai karyawan baru, saya menjadi salesman door-to-door di weekdays, kemudian jadi driver di weekend. Saya tidak selalu suka itu semua, tapi saya melakukan yang terbaik, sehingga kemudian itu yang jadi way of life saya, yang menjadi meaning saya.

Itu yang timeless, semua orang harus ketemu meaning (bukan passion) kita. The meaningful in life hampir tak pernah datang dari sesuatu yang kita sukai.

Dalam hidup saya, saya punya prinsip untuk percaya dengan dua huruf ini yang selalu menghiasi hidup saya: E dan R. Pertama, di masa awal dalam karier saya yang sulit, ketika menghadapi Emergency, sehingga Response-nya harus benar supaya bisa survive.

Setelah fase pertama itu terlewati, ada E dan R kedua, yaitu Excellence, yang jika bisa kita lakukan, maka kita akan mendapatkan Result. Di tingkat tersebut, saya sadar bahwa excellence itu not accident. Excellence itu harus intentionally. Dalam apa pun, saya selalu melakukan yang terbaik. Soalnya, jika saya sudah melakukan sesuatu yang terbaik, result itu otomatis akan datang.

Nah, hari ini, saya naik level ke E dan R yang ketiga: E yang terakhir adalah Expected, sehingga saya bisa mendapatkan R yang ketiga: Reward.

Jadi, dalam tim, yang saya inginkan adalah mereka expect saya sebagai pemimpin yang bisa memberikan navigasi ke depan. Ini bukan soal emergency atau result lagi, sudah lebih dari itu: Menavigasi pertumbuhan organisasi saya, artinya pertumbuhan orang-orang di dalamnya.

Asuransi Itu Penting, Nak

Lebih dari 25 tahun saya bekerja di perbankan, saya tidak pernah bosan. Dalam dunia profesional, saya tak bosan karena selalu ada tantangan baru. Orang bosan biasanya karena mudah berpuas diri.

Setelah seperempat abad di perbankan, saya pindah ke industri asuransi. Buat orang awam, mungkin rasanya tidak ada bedanya antara perbankan dan asuransi. Memang, persamaan keduanya adalah soal trust. Bagaimana menjaga kepercayaan customer. Dua industri ini juga punya risiko sistematik terhadap perekonomian sebuah bangsa.

Ketika di perbankan, saya sangat memperhatikan bagaimana menjaga reputasi. Di asuransi juga demikian, bagaimana kita menjaga trust. Bahkan menurut saya di asuransi lebih challenging karena sesuatu yang tidak tangible. Kalau di bank, semuanya masih tangible, masih kelihatan tabungannya, uangnya. Sementara kalau asuransi belum kelihatan, tapi justru ini lebih penting.

Sayangnya, asuransi penetrasinya masih kecil di Indonesia. Padahal negara yang maju adalah negara yang insurance rate-nya tinggi. Namun itu bisa dipahami karena kita membagi itu semua dengan populasi Indonesia yang hampir 270 juta.

Maka dari itu, pemerintah dan semua stakeholders—termasuk perusahaan asuransi—harus bersama-sama memberikan waktu, energi, dan sumber daya untuk melakukan pendidikan, dan penetrasi. Kalau tidak diedukasi, orang juga tak akan pernah tahu, kan.

Tantangan berikutnya juga datang melalui gap generasi. Jujur saja, kalau anak muda ditawari asuransi, biasanya jawabannya adalah “nanti dulu” atau “belum sekarang”. Itu semua seolah adalah hal kecil, tapi penting, karena kita tak pernah tahu risiko. Dengan perlindungan asuransi yang ada, itu bisa menghadirkan rasa aman.

Melalui banyaknya opsi dan informasi, saya percaya ke depannya generasi muda akan aware. Namun kita harus sadar juga makin ke sini orang-orang makin tidak mau pusing dan ribet. Itu pentingnya edukasi dan penyesuaian. Industri finance terus berevolusi untuk mendukung ini semua, mulai dari cara term of payment sampai digitalisasi.

Salah satu buku favorit saya adalah The Advantage: Why Organizational Health Trumps Everything Else In Business (Patrick Lencioni), di mana saya jadi tahu yang penting itu bukan look smart, melainkan look health. Banyak organisasi terlihat smart, teknologi bagus, finance oke, marketing oke. Padahal yang paling penting itu sehat.

Kenapa ada organisasi yang bisa bertahan ratusan tahun? Itu bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Yang paling penting sehat, bukan kelihatan smart. Kalau kita sehat, maka hanya soal waktu kita akan jadi smart. Tapi kalau kamu cuma smart, belum tentu kamu akan survive. Orang asuransi bilang “the greatest wealth is health” itu bukannya tanpa alasan, karena jika kita sehat, kita bisa menambahkan apa saja.

Infografik Zurich Inception Edhi Tjahja Negara
Infografik Advertorial Zurich Inception Edhi Tjahja Negara. tirto.id/Mojo


Work-Life Balance Ternyata Sudah Ada dari Zaman Dulu


Pada dasarnya, generasi muda itu sangat smart. Mereka punya edukasi dan akses terhadap informasi yang sangat bagus. Contoh sederhana, salah satu istilah yang sekarang banyak dibahas oleh generasi muda adalah work-life balance—istilah yang sebenarnya baru mengemuka. Saat zaman saya dulu, tidak ada istilah itu.

Padahal, saat zaman saya dulu, balance dalam work dan life juga pastinya ada. Tidak dibicarakan dan tidak diistilahkan bukan berarti tidak eksis. Itu terjadi karena the essence of balance selalu ada dan balance itu bukan semata semuanya harus di tengah. Balance itu di mana keadaan membutuhkan kita, fokus kita ada di sana.

Generasi muda hari ini, mereka itu suka sekali kerja keras, asal jelas yang dikerjakan. Masalahnya, banyak perusahaan itu “tidak jelas”. Capek, stres sampai malam, tapi tidak jelas.

Dalam menjadi pemimpin, baik di work maupun life. yang penting itu influence dan komunikasi. Sekilas, dulu mungkin lebih mudah karena di kantor bertemu terus. Namun budaya kerja sekarang sudah berubah.

Di satu sisi, budaya sekarang lebih mudah engagement-nya tapi tidak lebih melelahkan karena digitalisasi. Semua bisa lewat Zoom. Tapi di sisi lain, harus kita akui juga bahwa sebagai manusia, beberapa kali kita harus bertemu in person.

Jadi, lagi-lagi, balance itu penting. Namun ingat, balance itu tidak harus 50-50. Bagaimana kita mengaturnya, itu yang penting. Secara umum, saya lebih suka budaya work dan life sekarang. Bukan karena saya tidak mau mundur ke belakang, tapi memang sekarang lebih banyak fleksibilitas. Dengan fleksibel juga ternyata result-nya juga bisa dicapai dengan baik.

Memimpin Generasi Baru

Sebagai CEO PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, saya percaya pemimpin itu tak ada batas. Eranya sudah beda. Saya harus mudah diakses oleh semua orang, siapa pun itu. Menurut saya, inklusif itu penting. Dengan menjadi inklusif, saya bisa meng-influence di semua level.

Cara saya membangun komunikasi juga justru dengan menjadi diri sendiri, dengan tidak menutup-nutupi kelemahan saya. Kadang, saya juga being vulnerable. Saya ceritakan kekurangan saya, kelemahan saya. Buat saya, being vulnerable itu penting karena memang tak ada orang yang sempurna.

Menjadi pemimpin itu sebenarnya sederhana. Saya selalu pakai empat huruf “LEAD”. “L” sebagai pemimpin itu kita harus bisa look for opportunity, lalu “E”-nya adalah empower strength, “A”-nya adalah amplifying creativity, dan “D”-nya adalah delivery karena kita adalah pemimpin jika kita bisa men-deliver.

Jadi, empat hal itu sederhana, yang selalu mengingatkan saya setiap hari ketika menjadi leader. Ini juga saya bicarakan ketika saya menyiapkan the next generation of leaders.

Selain itu, saya selalu percaya bahwa kita harus bisa menyentuh hati. Saya sadar semua orang punya masalah masing-masing. Makanya sebagai leader, saya berusaha sebisa mungkin mengurangi tekanan yang ada. Saya gak pengin ada tekanan secara emosional. Kalau pressure dalam arti pekerjaan, itu normal. Malahan bagus untuk membuat pressure itu jadi kekuatan.

Krisis dan Harapan untuk Zurich Indonesia

Saya sangat bersyukur, berbahagia sekali dengan kesempatan yang ada hari ini, karena tahun ini di Indonesia, Zurich, dengan global expertise-nya, merayakan 150 tahun kekuatan kami sebagai global insurance di Indonesia. Saat ini, Zurich memiliki dua mesin pertumbuhan: memperkuat bisnis inti yang sudah ada dan berinvestasi kepada bisnis-bisnis baru. Semua soal inovasi dan adaptasi.

Kembali ke awal tulisan ini, krisis selalu bisa menjadi momen bagus. Sama seperti industri lain, selama krisis kita semua mengalami tekanan. Zurich sangat bergantung dengan pembiayaan multifinance. Ada suplai pasokan yang berkurang karena krisis. Namun, untungnya hari ini sudah ada recovery. Kita semua berharap setelah pandemi, ekonomi kita mulai bertumbuh, suplai pasokan juga mulai berjalan dengan baik. Artinya, ada hope yang bisa mengendalikan hidup kita.

Hope atau harapan saya adalah agar Zurich bisa jadi pilihan utama untuk masyarakat Indonesia. Sebagai perusahaan global, multinasional, dan juga lokal yang kuat, kami selalu inovatif, memperkuat produk-produk yang ada, makin bertumbuh, dan sustainable ke depannya. Saat ini, Zurich Indonesia memiliki tiga entitas yang lengkap: general, life, dan syariah.

Di umur 150 tahun, tentunya ini adalah masa yang penting di mana kami berharap ke depannya kami bisa mempunyai akses yang lebih besar terhadap banyak masyarakat Indonesia di bidang asuransi. Makin banyak masyarakat Indonesia yang ter-insurance, maka akan makin baik untuk memperkuat ketahanan ekonomi kita secara nasional.

Jika masyarakatnya kuat, semuanya well-insured, negaranya kuat, maka kita akan punya daya tahan, punya resiliensi ekonomi. Itu yang penting sekali. Setiap krisis melanda, selalu ada harapan. Mungkin setiap industri beda-beda, tapi spiritnya adalah, apa pun kesulitan hari ini harus bisa kita manfaatkan untuk menjadi kekuatan kita di masa depan.[]

Artikel ini adalah hasil kerjasama dengan Zurich Indonesia.
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Advertorial
Editor: Advertorial

DarkLight