tirto.id - “Ya Allah… terima kasih aku dipanggil datang ke sini…”
Kalimat itu diulang-ulang, merasa tak cukup sekali untuk menggambarkan rasa syukur yang meluap. Air matanya jatuh tanpa terasa. Momen melihat Ka’bah di depan mata saat tawaf di Masjidil Haram sangat membekas bagi Nenek Epa (82 tahun).
Jemaah haji asal kloter 3 Embarkasi Palembang atau PLM-03 ini tak kuasa menggambarkan isi hatinya. Semua rasa ada. Senang, haru, tiba-tiba nangis, tak terasa air matanya tumpa.
Harapannya hanya sederhana. Doa yang ia panjatkan juga sangat sederhana, tapi dalam dan bermakna. Doanya tidak muluk, hanya harapan tulus untuk orang-orang-orang-orang tercinta.
“Untuk anak-anak… suami… semua keluarga… ibu…” demikian Nenek Epa berharap.
Di Makkah, Nenek Epa tinggal di Hotel Abraj Almisk, kawasan Jarwal Sektor 6. Tim Media Center Haji (MCH) berkesempatan berkunjung ke kamar Nenek Epa bersama tim kesehatan dan pembimbing ibadah yang sedang visitasi dan edukasi (visduk).
Di kamar bernomor 471 di kawasan Jarwal tersebut, ada haru yang tak tertahan setelah 13 tahun menunggu panggilan. Kini, di usia senja, Nenek Epa bukan hanya berhasil menuntaskan umrah tanpa kursi roda, tetapi juga merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: berhaji dengan tenang, terlayani, “seperti raja selama 40 hari.”
Kedatangan tim kesehatan, pembimbing ibadah (bimbad), tim MCH Media, dan petugas haji lainnya, sempat membuatnya salah tingkah. Ia mengaku jantungnya berdebar kencang.
“Deg-degan seperti mau dapat hadiah,” kata dia sambil tertawa, membuat seisi kamar ikut terbahak.
Namun di balik candaan itu, dokter menemukan tekanan darahnya meningkat.
“Nenek ada darah tinggi?” tanya petugas.
“Tidak… tapi kenapa naik?” jawabnya polos, masih dengan senyum yang tak lepas.
Tim kesehatan pun meminta Nenek Epa untuk beristirahat dan tidak dulu pergi ke Masjidil Haram.
“Jangan dulu ya, istirahat dulu. Belum boleh keluar,” kata tim kesehatan dengan lembut.
Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan KBIHU, Erti Herlina, menambahkan penjelasan yang menenangkan. Ia sebut salat di musala hotel tetap bernilai pahala besar karena masih berada di wilayah Kota Suci Makkah. Di sana pun tersedia manasik dan bimbingan ibadah.
Meski usianya telah melewati delapan dekade, Nenek Epa membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk beribadah. Ia menuntaskan seluruh rangkaian umrah wajib tanpa kursi roda.
“Semua jalan kaki… alhamdulillah sampai tahalul selesai,” ujarnya mantap.
Bahkan, ia mengaku tidak memiliki keluhan berarti. Ingatannya masih tajam, pendengarannya baik, penglihatannya jelas, dan lututnya kuat.
“Lutut saya tidak sakit. Di rumah saya tinggal di rumah kayu, naik turun tangga bisa sampai 40 kali sehari,” kata Nenek Epa.
Kebiasaan itu, ditambah rutinitas ibadah malam, tahajud menjadi rahasia kebugarannya.
Ia tinggal bersama anak-anaknya, yang juga menjadi pihak yang membiayai perjalanan hajinya.
Perjalanan Nenek Epa menuju Tanah Suci bukan tanpa cerita. Ia telah menunggu selama 13 tahun sejak mendaftar.
“Tapi waktu daftar masih muda,” kata dia sambil ketawa.
Tahun lalu sebenarnya ia sudah mendapat panggilan, namun ia memilih menunda. Alasannya, ia takut tidak ada yang mendampingi.
Keputusan itu berubah di 2026. Ia akhirnya berangkat karena ditemani sahabat setianya, Herawati—yang juga masih memiliki hubungan keluarga dan tinggal berdekatan dengan rumahnya.
“Karena ada kawan setia… jadi saya berani,” katanya lirih.
Ia pun meyakini, semua ini adalah skenario terbaik dari Allah. “Sudah diatur… berangkatnya tahun ini.”
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id



























