Tanda & Arti Ambivert, Apa Bedanya dengan Ekstrovert dan Introvert?

Oleh: Alexander Haryanto - 14 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Ambivert adalah seorang yang memiliki kecenderungan ekstrovert dan introvert sekaligus, berikut penjelasannya.
tirto.id - Anda mungkin pernah ditanya berkali-kali terkait apakah kamu seorang introvert atau ekstrovert? Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah pertanyaan yang mudah untuk dijawab, tetapi sebagian orang terkadang sulit untuk memilih salah satunya.

Ide tentang ekstrovert dan introvert datang dari psikiater asal Swiss, Carl Gustav Jung pada awal 1900-an. Saat itu, dia percaya bahwa beberapa orang diberi energi yang berasal dari luar (ekstrovert) dan beberapa orang diberi energi dalam dirinya (introvert).

Seperti dilansir Healthline, seorang ekstrovert akan menarik energi dari orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, orang ekstrovert lebih suka jalan-jalan, menghadiri acara sosial dan terlibat dengan orang lain.

Sementara seorang introvert akan menarik energi dari sebuah refleksi yang tenang atas dirinya. Untuk itu, orang introvert lebih senang menghabiskan waktu sendirian atau dengan satu atau dua orang teman yang mereka rasa dekat. Mereka juga sering membutuhkan waktu menyendiri untuk memulihkan tenaga setelah berada dalam lingkungan sosial.

Namun, sayangnya, ada banyak orang di luar sana yang menuduh seorang introvert seorang pemalu atau antisosial, padahal itu bukan bagian dari sifat introvert. Sebab, introvert juga senang bersosialisasi, tetapi dalam kadar yang kecil. Umumnya, orang-orang introvert ini tidak terlalu suka obrolan yang ringan, tetapi lebih suka obrolan yang berkualitas dan bermakna.

Jika Anda merasa tidak sepenuhnya masuk dalam kategori ekstrovert dan introvert, atau malah memiliki ciri-ciri keduanya, yakni merasa lebih dekat dengan sisi ekstrovert dan merasa dekat juga dengan introvert, bisa jadi Anda memang tergolong ambivert, yakni punya sisi ekstrovert dan introvert sekaligus.

Dilansir Forbes, seorang psikolog, Adam Grant pernah mempelajari fenomena ini dan temuannya sangat menarik. Dia menemukan bahwa dua pertiga orang tidak secara kuat mengidentifikasi diri sebagai introvert atau ekstrovert. Orang-orang ini disebut ambivert, yang memiliki kecenderungan introvert dan ekstrover.

Berikut ciri-cirinya sebagaimana dilansir Healthline:

1. Pendengar sekaligus komunikator yang baik

Orang-orang dengan ekstrovert mungkin lebih suka banyak bicara, tetapi orang introvert mungkin lebih senang mengamati dan mendengarkan. Akan tetapi, orang ambivert bisa mengetahui, kapan ia harus mendengarkan dan kapan dia harus berbicara.

Dalam contoh kasus, seorang ambivert mungkin akan membuka rapat dengan singkat, kemudian memberikan kesempatan kepada karyawan lain untuk membicarakan masalah mereka sendiri.

2. Mampu mengatur perilaku

Seorang ambivert disebut mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan orang lain. Dalam contoh kasus, seorang ekstrovert mungkin akan mulai berbasa basi ketika sedang bertemu orang di lift, sementara seorang introvert akan memasang headset. Tapi, seorang ambivert bisa memilih salah satu opsi dari itu, tergantung pada situasi dan keadaan.

3. Merasa nyaman di tempat ramai, tetapi menghargai waktu sendiri

Seorang ambivert bisa merasa nyaman ketika berada di keramaian, tetapi bisa juga menikmati malam yang tenang di rumah. Saat ada teman yang mengajak keluar malam, seorang ekstrovert kemungkinan besar akan menerima ajakan itu, sementara seorang introvert cenderung menolak dan memilih tinggal di rumah. Tetapi, orang ambivert mungkin akan mempertimbangkan untuk menerima ajakan atau menolak ajakan tersebut.

4. Empati

Ambivert mampu mendengarkan lawan bicaranya sehingga bisa tahu kapan mereka harus diam dan kapan harus bicara. Jika seorang teman mengalami masalah, seorang ekstrovert mungkin langsung mencoba menawarkan solusi, sementara seorang introvert akan mendengarkan. Tetapi, seorang ambivert mungkin akan mendengarkan persoalan terlebih dahulu, kemudian mengajukan pertanyaan yang bijaksana untuk mencoba membantu.

5. Bisa memberikan keseimbangan

Dalam kasus pengaturan kelompok, ambivert dapat memberikan keseimbangan yang sangat dibutuhkan untuk dinamika sosial. Seorang ambivert mungkin bisa menjadi orang yang membantu memecah keheningan yang canggung, sehingga bisa membuat orang lain, yang cenderung lebih tertutup, merasa nyaman untuk memulai percakapan.


Baca juga artikel terkait AMBIVERT atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight