tirto.id - Berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran menjadi momen yang paling dinanti banyak orang. Suasana haru saat saling bermaafan kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut.
Harapan serupa juga dirasakan para warga binaan, termasuk di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta, Pondok Bambu. Sinta dan Novi, dua narapidana yang ditemui Tirto, turut menantikan momen Lebaran meski masih menjalani masa hukuman.
Tirto berkesempatan mengunjungi Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta pada Selasa (10/3/2026). Hari itu, menjadi momen membahagiakan bagi para warga binaan karena keluarga diizinkan masuk ke area lapas untuk mengikuti acara buka puasa bersama.
Saat ditemui, Sinta bersama sejumlah narapidana lain tengah mempersiapkan acara tersebut. Sebagian terlihat menghias tenda, sementara lainnya berlatih bernyanyi dan bermain musik untuk tampil menjelang waktu berbuka. Di tengah kesibukan itu, Sinta juga menanti kedatangan keluarganya.

Sinta, yang merupakan terpidana kasus korupsi, mengaku telah melewati empat kali Ramadhan di dalam lapas dan satu kali saat masih menjadi tahanan di rutan. Menurutnya, suasana Ramadhan di lapas terasa lebih teratur karena adanya berbagai agenda ibadah bersama, seperti tarawih dan tadarus.
“Suasana Ramadhan di sini lebih teratur. Dari pagi sudah ada one day one juz, tadarus bareng-bareng,” kata Sinta.
Dia menyebut, para warga binaan juga menjalankan salat berjamaah secara rutin, mulai dari zuhur hingga tarawih. Sinta bahkan memilih menjadi perbantuan di masjid agar bisa lebih aktif mengikuti kegiatan ibadah selama Ramadhan.
Perempuan yang divonis 10 tahun penjara itu mengaku, Ramadhan di lapas justru membuatnya lebih disiplin beribadah dibandingkan sebelum terjerat kasus. Dia juga banyak melakukan introspeksi diri dan berencana menjadi ustazah setelah bebas nanti.
Kata Sinta, setiap Ramadhan, pihak lapas menghadirkan ustaz untuk memberikan tausiah dan membuka sesi tanya jawab. Tak jarang, pertanyaan para warga binaan justru mengundang tawa dan menjadi hiburan tersendiri.
“Berkesan banget. Ternyata selama ini saya membuang waktu di luar,” ujar Sinta.
Menjelang Lebaran, Sinta menanti kedatangan ibu, kakak, dan keponakannya yang akan berkunjung. Momen tersebut menjadi yang paling ditunggu karena keluarganya akan membawa makanan khas Lebaran.
Namun, kerinduan terbesar Sinta adalah kepada anaknya yang kini berada di Bandung. Dia terakhir bertemu pada 2023 dan mengaku berusaha menahan rindu agar tidak larut dalam kesedihan.
“Sudah tiga tahun tidak ketemu,” ucap Sinta.
Hal senada disampaikan Novi, narapidana lain yang menjalani hukuman empat tahun atas kasus penggelapan. Bagi Novi, Ramadhan pertamanya di lapas menjadi pengalaman yang berkesan, meski harus jauh dari keluarga.
Dia mengaku paling menikmati momen salat tarawih berjamaah, karena hanya pada bulan Ramadhan, dia bisa keluar dari kamar sel pada malam hari dan melihat langit malam.
“Jadi kayak excited kalau sudah mau tarawih,” kata Novi.
Selain itu, suasana sahur juga menjadi hal yang menyenangkan. Petugas kerap memutar lagu melalui pengeras suara untuk membangunkan para warga binaan.
Meski tersedia fasilitas kunjungan dua kali dalam seminggu dan video call, Novi tetap merasakan perbedaan besar menjalani Ramadhan di lapas dibandingkan di rumah.

Namun, kebersamaan dengan sesama warga binaan membuat suasana tetap hangat.
Dia bercerita, dirinya bersama teman sekamar melakukan tradisi bersih-bersih menjelang Lebaran, seperti yang biasa dilakukan di rumah.
“Kamar dibersihin semua, dari loker sampai tralis,” ujarnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Novi mengaku telah ikhlas menjalani hukuman dan menganggap lapas sebagai tempat untuk memperbaiki diri.
“Kalau kata ustaz, ini sudah takdir,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas (Kapalas) Perempuan Kelas IIA Jakarta, Netty Saraswaty, mengatakan selama Ramadhan para warga binaan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, seperti pesantren kilat dan tadarus yang berlangsung dari pagi hingga sore di masjid.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan salat tarawih yang dilaksanakan secara bergantian karena keterbatasan kapasitas. Dari total 320 warga binaan, sebanyak 245 di antaranya beragama Islam.
Netty juga mengungkapkan, terdapat empat anak warga binaan yang tinggal di dalam lapas, terdiri dari dua bayi dan dua balita.
Menurutnya, para warga binaan menunjukkan antusiasme tinggi selama Ramadhan. Namun, rasa rindu terhadap keluarga tetap menjadi hal yang kerap disampaikan, terutama bagi mereka yang jarang mendapat kunjungan.
Untuk itu, pihak lapas menggelar acara buka puasa bersama keluarga sebagai upaya mengobati kerinduan tersebut. Netty juga mengingatkan para warga binaan untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen introspeksi diri dan menerima keadaan.
“Di sini bukan akhir segalanya,” ujar Netty.
Dia juga mencontohkan mantan narapidana yang mampu bangkit setelah menjalani masa hukuman, seperti Angelina Sondakh, sebagai motivasi bagi warga binaan lainnya.
Selain itu, Netty berharap masyarakat dapat menerima kembali para mantan narapidana setelah bebas. Menurutnya, penerimaan sosial menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembinaan.
“Kalau masih distigma, mereka bisa kembali ke lingkungan lama,” tutur Netty.
Ke depan, pihak lapas berencana meningkatkan pelayanan serta memberikan pelatihan keterampilan bagi warga binaan. Program pendidikan seperti paket A, B, dan C juga disiapkan, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi keagamaan.
Menjelang waktu berbuka, setelah sesi wawancara selesai, makanan mulai berdatangan. Keluarga yang sebelumnya menunggu di ruang tunggu pun dipersilakan masuk ke lapangan lapas untuk mengikuti buka puasa bersama.

Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id
































