tirto.id - Mantan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, Fiona Handayani menjelaskan awal mula dirinya mengenal Nadiem hingga tujuan pembentukan grup Whatsapp ‘Mas Menteri Core Team’. Hal ini ia sampaikan dalam persidangan lanjutan kasus dugaan korupsi Chromebook di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa (27/1/2026).
Mulanya, jaksa menanyakan kepada Fiona sejak kapan dirinya mulai mengenal Nadiem Makarim. Fiona mengatakan bahwa dirinya mengetahui Nadiem sejak menjadi mahasiswa.
Namun menurut jaksa, eks Stafsus Nadiem itu tak mencermati pertanyaannya. Sehingga, jaksa berulang kali menanyakan bagaimana Fiona mengenal Nadiem.
"Kalau dengan Pak Menteri Nadiem Anwar Makarim saudara sudah lama kenal ya?," kata jaksa.
"Saya mengetahui Mas Nadiem saat saya menjadi mahasiswa, di mana saya mengikuti program pelatihan kepemimpinan. Saat itu Mas Nadiem adalah seorang konsultan, tapi saya tidak tahu Mas Nadiem kenal dengan saya atau tidak waktu itu," jawab Fiona.
"Pertanyaan saya jelas dulu. Saudara kenal tidak dengan Nadiem Anwar Makarim?"
"Kenal. Iya, tadi saya jawab kan."
"Saudara jawab tahu ini. Saya tanya kenal. Sejak kapan saudara kenal dengan Nadiem Anwar Makarim?"
"Saya mengenal semenjak saya bekerja bersama," begitu cuplikan isi tanya-jawab antara jaksa dan Fiona.
Fiona mengatakan bahwa dirinya sempat mengenal Nadiem saat dirinya menjadi Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).
"Kita independen. Jadi PSPK itu adalah lembaga riset dan advokasi kebijakan pendidikan yang berfokus pada kebijakan yang berpusat pada anak. Independen dengan Kementerian (Kemendikbudristek). Kementerian adalah salah satu stakeholder yang kami advokasikan. Jadi kami melakukan advokasi ke Kementerian Pendidikan, Bappenas, Kantor Staf Presiden, pemerintah daerah dan lain sebagainya," kata Fiona.
Fiona menuturkan bahwa lembaganya itu memiliki kerja sama khusus dengan Mendikbudristek sejak zaman Menteri Muhajir Effendy. Dia mengatakan bahwa terjalin sejumlah kerja sama terpisah pada periode dua menteri itu.
"Ada banyak kerja sama-kerja sama yang terpisah," kata Fiona.
Grup WhatsApp "Mas Menteri Core Team"
Lebih lanjut, jaksa juga mempertanyakan soal pembuatan grup di aplikasi pesan WhatsApp, "Mas Menteri Core Team". Fiona kemudian menjalaskan bahwa dalam grup itu berisi sejumlah anggota dan hanya membahas persoalan pendidikan secara umum, tak membahas persoalan pengadaan Chromebook.
"Tidak berkaitan dengan Chromebook, berbeda dengan narasi yang disampaikan oleh Kejaksaan. Tidak pernah ada pembahasan terkait Chromebook, ada pembahasan terkait visi-visi pendidikan," kata Fiona.
Fiona menyampaikan bahwa grup tersebut merupakan grup informal yang dibuat oleh Nadiem, yang saat itu ingin membicarakan seputar pendidikan. Dia juga mengkonfirmasi bahwa orang-orang yang berada dalam grup tersebut kemudian diangkat menjadi Staf Khusus Menteri.
"Tidak semua yang ada di dalam grup tersebut, tapi memang grup tersebut diminta oleh, beberapa orang dalam grup tersebut diminta dan menyanggupi untuk menjadi Staf Khusus Menteri," katanya.
Fiona lantas mengatakan SK pengangkatannya sebagai Staf Khusus terbit pada tahun 2020.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
























