Spider-Man dalam Sains: Apa Laba-laba Bisa Sesakti Peter Parker?

SPIDER-MAN: FAR FROM HOME. Youtube/Sony Pictures Entertainment
Oleh: Husein Abdulsalam - 9 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Peter Parker memiliki kemampuan adimanusia setelah digigit laba-laba radioaktif. Nyatanya, beberapa kemampuan ini tidak dimiliki laba-laba.
tirto.id - Apa yang tidak disuguhkan Spiderman: Homecoming (2017), tapi disajikan Spiderman: Far From Home (2019)? Apalagi kalau bukan "Peter Tingle".

May, bibinya Peter, menciptakan istilah itu dalam Far From Home untuk menyebut kemampuan indera laba-laba Peter mendeteksi bahaya. Sang sutradara, Jon Watts, tidak mau menampilkan itu di Homecoming sebab ia tidak ingin film itu berisi hal-hal yang telah disajikan film-film Spiderman sebelumya, Spider-Man ala sutradara Sam Raimi dan Amazing Spider-Man ala sutradara Marc Webb.

"Idenya adalah, sekali lagi, hanya Anda ingin membuat film ini [Homecoming] berisi lebih sedikit tentang hal-hal yang telah Anda lihat sebelumnya, dan Anda pasti sudah melihat adegan indera laba-laba yang disajikan dengan sangat baik di film garapan Marc [Webb] dan [Sam] Raimi," ujar Watts seperti dilansir Collider.

Untuk mengobati dahaga para penggemar, indera laba-laba Spiderman ditampilkan sedikit dalam Infinity War (2018). Dalam film itu, rambut-rambut Peter berdiri saat kapal ruang angkasa mengapung di New York City. Sebagian penggemar juga berspekulasi, di bagian akhir film, Peter begitu ketakutan sebab indera laba-labanya mengatakan dirinya bakal mati di-blip Thanos.

Dalam Far From Home, Peter Tingle muncul lebih banyak lagi. Ia juga menjadi senjata pamungkas Spider-Man mengahadapi musuhnya.

Di Balik Peter Tingle

Sebenarnya, tanpa digigit laba-laba, manusia memiliki kemampuan menghindari bahaya. Ada kalanya, bulu roma dan kuduk kita berdiri ketika kita merasa takut. Perasaan yang sering disebut merinding ini sebetulnya ialah hasil kontraksi otot-otot kecil yang terhubung dengan folikel rambut pada kulit. Kontraksi ini muncul setelah otak mengaktifkan mode siap siaga dan tubuh memproduksi adrenalin dari kelenjar di atas ginjal kalau kita merasa takut.

Peter Tingle tentu digambarkan lebih menakjubkan daripada itu. Ia mampu mendeteksi lebih banyak bahaya. Juga mampu merasakan bahaya yang lokasinya lebih jauh daripada yang bisa dirasakan manusia biasa. Semua kemampuan ini didapat Peter setelah digigit laba-laba radioaktif.

Pertanyaannya, apa laba-laba benar-benar memiliki kemampuan itu?

Dalam The Science of Superhero: Sains Asyik Bersama Para Jagoan Super (2013), Lois H. Gresh dan Robert Weinberg menjelaskan bahwa di tungkai laba-laba tumbuh rambut-rambut peraba yang dinamakan setae. Rambut-rambut ini terhubung ke otak dan mengirimkan segala macam informasi inderawi ke laba-laba.

"Setae di ujung tungkai laba-laba sangatlah sensitif terhadap pelbagai senyawa kimia, yang memungkinkan seekor laba-laba tahu seketika saat ia menyentuh mangsanya apakah mangsanya itu bisa dimakan atau tidak," sebut Gresh dan Weinberg.

Selain itu, laba-laba juga memiliki rambut trichobothria. Rambut ini dapat mendeteksi perubahan sekecil apapun dalam udara sekitar yang disebabkan calon mangsa.

Gresh dan Weinberg menegaskan indera-indera laba-laba itu tidak bisa digunakan untuk mendeteksi bahaya. Namun, memberi manusia kemampuan mengindera secara sangat tajam tersebut dapat membuat manusia itu memiliki tingkat kepekaan yang jauh lebih tinggi terhadap situasi sekitar.


Laba-laba, Arachnida, Marvel, dan DC

Tentu, Peter Tingle hanya satu dari sekian banyak kemampuan Spider-Man. Setelah digigit laba-laba radioaktif, Peter juga semakin bertenaga, lincah, dan mampu merambat di dinding. Namun, Spider-Man bukan satu-satunya tokoh komik yang kekuatannya terinspirasi dari laba-laba, hewan invertebrata yang masuk kelas Arachnida dalam taksonomi biologi ini.

Elidiomar Ribeiro Da-Silva dan kawan-kawan menuliskan dalam "Marvel dan DC Characters Inpired by Arachnids" (2015) bahwa ciri-ciri utama Arachnida ialah memiliki dua bagian tubuh, yakni gabungan kepala dengan toraks (sefalotoraks) dan abdomen; memiliki chelicerae (semacam taring); dan memiliki delapan kaki.

Fitur itulah yang kemudian membedakan Arachnida dengan serangga, meskipun keduanya sama-sama invertebrata, berangka eksosekleton, dan masuk filum Arthropoda.

Serangga memiliki tiga bagian tubuh—kepala, toraks, dan abdomen; dan memiliki enam kaki. Sementara serangga punya antena, laba-laba tidak. Sebagian besar serangga punya sayap, sedangkan laba-laba tidak.

Da-Silva dkk menelaah 84 tokoh Marvel dan 40 tokoh DC tergolong tokoh Arachnida memiliki fitur-fitut Arachnida seperti jaring-jaring (milik laba-laba), racun, rangka eksosekleton, bermata banyak, chelicerae, berkaki delapan, perpanjangan abdomen (seperti sengat kalajengking), dan dapat merambat di dinding. Sebagian besar tokoh ini dibuat pada warsa 1990-an.

"Mungkin sebagai dampak kesuksesan Spider-Man sebagai ikon kebudayaan populer, Marvel memiliki lebih banyak tokoh arachnida ketimbang DC," sebut Da-Silva dkk. Tokoh-tokoh Arachnida mencakup 1,68 persen dari lima ribu tokoh Marvel. Sedangkan dari lebih sepuluh ribu tokoh DC, hanya 0,83 persen saja yang memiliki fitur-fitur Arachnida.

Laba-laba Radioaktif dan Perambat Dinding

Sejauh ini ada 114.275 spesies Arachnida. Ayak-ayak, kalajengking, tungau, dan kutu juga merupakan bagian dari kelas tersebut. Sekitar 35 ribu di antaranya merupakan spesies laba-laba. Meski demikian, apakah laba-laba, atau serangga-serangga, radioaktif benar-benar ada?

Dalam catatan Gresh dan Weinberg, serangga radioaktif memang benar-benar ada. Semut-semut merah pemanen beradioaktif ditemukan di bawah tanah dekat kompleks nuklir Hanford, Richland, Washington. Di keranjang sampah umum pembangkit nuklir itu, juga sempat ditemukan lalat-lalat radioaktif.

Enam bulan setelah ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima, perak radioaktif terdeteksi terdapat dalam laba-laba spesies Nephila clavata yang diambil dari Desa Iitate, Prefektur Fukushima. Pelbagai benda dan makhluk, termasuk laba-laba, juga jadi korban paparan radiasi ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir Uni Soviet, Chernobyl.





Masalahnya, tidak semua laba-laba bisa merambat di dinding. Kemampuan itu hanya dimiliki laba-laba pemburu karena memiliki scopula—semacam rambut tebal di antara cakar pada ujung tungkai. Tiap helai rambut terdapat ribuan filamen mikroskopik berlapis uap lembab yang bisa bikin mereka lengket di permukaan licin. Berapa laba-laba yang masuk tipe ini antara lain tarantula, laba-laba pelompat, dan laba-laba serigala.

Riset terhadap 225 hewan perambat dinding, dari tungau, laba-laba, hingga tokek, menyatakan luas permukaan bantalan perekat hewan meningkat sebanding berat badan mereka.

"Jika seorang manusia, misalnya, ingin berjalan di dinding seperti halnya tokek, ia membutuhkan kaki luas nan lengket yang tidak praktis—sepatunya harus berukuran 145 (Eropa) atau 114 (Amerika Serikat)," ujar Walter Federle, ahli zoologi dari Cambridge University yang menjadi kepala tim riset tersebut.

Lagipula, laba-laba pemburu itu tidak membuat jaring-jaring benang yang dibuat dari enam kelenjar serat sutera di bawah abdomen. "Ini adalah protein yang terbentuk sebagai cairan dan ditekan keluar dari pemintal sama seperti odol dipencet keluar dari bungkusnya. Selepas keluar dari pemintal, benang cair itu mengeras jadi benang sutera," sebut Gresh dan Weinberg.




Perihal ini, dalam versi komik dan film Spider-Man tahun 1970-an, Peter Parker memang membuat sendiri semprotan jaringnya. Dalam Homecoming dan Far From Home, jaring itu turut mendapat sentuhan teknologi canggih ciptaan Tony Stark.

Tapi, Peter yang diperankan Toby Maguire dalam Spider-Man (2002) diceritakan memiliki jaring dalam lengannya. Jaring ini keluar ketika Peter memencet telapak tangannya menggunakan jari telunjuk dan jari manisnya.

Selain itu, Gresh dan Weinberg menyoroti kemampuan Peter dalam bergerak lincah. Seturut penelusurannya, laba-laba memang bergerak sigap tapi tidak tergolong cepat untuk ukurannya. Ia juga tak pernah tercatat memiliki banyak tenaga dan malah tidak punya koordinasi untuk menjaga agar kaki-kakinya tidak saling terbelit sendiri.

Mengutip Spiders: The Story of a Predator and Its Prey (1986) yang disusun Dick Jones, "Seberapapun pandai mereka tampaknya dalam menangkap, misalnya saja, lalat, laba-laba sesungguhnya predator yang sangat tidak efisien. Penganyam jaring ini tidak secara aktif menangkap mangsa mereka—mangsa mereka itu terperangkap sendiri, hampir seperti ikan terperangkap pukat. Laba-laba pemburu, terutama jenis nokturnal, nyaris tak berburu."

Jelas sudah bahwa kemampuan Peter Parker tidak semuanya dimiliki laba-laba. Bila Peter benar-benar mewarisi kemampuan laba-laba, dia tidak selincah dan sekuat itu. Mungkin saja merambat di dinding, tapi dia tidak akan bisa memproduksi benang. Sebaliknya, bila ia bisa memproduksi benang, ia kemungkinan besar tidak bisa merambat di dinding.

Baca juga artikel terkait SPIDER-MAN atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Film)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight