Soeharto Mencoba Baju Baru dan Bagaimana Ia Bangkit dari Kemiskinan

Ilustrasi Derita Soeharto di Masa Kecil. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 28 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kepahitan hidup hadir dalam masa kecil Soeharto. Ia patut berterima kasih pada mbah buyut, paman, serta bibinya yang telah menjadi jalan bagi kesuksesannya.
Warsa 1920-an, saat Soeharto--yang kelak menjadi presiden--masih bocah, karena miskin ia seringkali hanya memakai celana tanpa baju. Masa kecil Soeharto dihabiskan di Kemusuk, dekat Godean, Yogyakarta.

Suatu hari seperti ia ceritakannya dalam autobiografinya Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989:9), ketika sedang bermain bersama sepupunya di depan rumah Notosudiro--buyutnya dari pihak ibu--Soeharto dipanggil. Kala itu Notosudiro tengah menjahit surjan, baju yang biasa dipakai orang Jawa.

“Kemari,” kata Notosudiro.

Soeharto disuruh mencoba surjan tersebut. Ia amat senang karena menyangka baju itu akan segera jadi miliknya. Namun tak lama kemudian ia disuruh Darsono, sepupunya. Setelah Darsono tiba, Soeharto disuruh melepaskan baju yang tengah ia coba dan memberikannya kepada sepupunya.

”Saya lepaskan baju baru itu. Ternyata baju itu cukup baginya. Dan selanjutnya Mas Darsono disuruh memakai terus baju itu. Benar, terbukti pakaian itu memang untuknya,” kenang Soeharto.

Darsono sebetulnya tak lebih membutuhkan baju itu daripada Soeharto. Sebelum masuk sekolah, adik sepupunya tak pernah memakai kemeja dan hanya telanjang badan. Apapun alasan mbah buyutnya, Notosudiro, yang jelas kejadian itu membuat Soeharto nelangsa.

“Wah, hidup ini kok begini,” keluh Soeharto mengenang insiden baju baru tersebut.

Dititipkan di Keluarga Paman

Tak jadi memiliki baju baru hanya satu dari sekian derita Soeharto di masa kecil. Ia juga kenyang diolok-olok kawan sepermainannya dengan panggilan "Den Bagus tahi mabul" yang artinya Raden Bagus tahi kering. Menurut Soeharto, panggilan itu muncul sebab buyutnya punya hubungan pengawas Keraton Jawa.

Soeharto lahir dari perkawinan Sukirah dan Kertosudiro yang berakhir dengan perceraian. Ia kemudian mempunyai bapak tiri. Dari perkawinan ibunya dengan bapak tirinya itu kemudian lahir anak laki-laki bernama Probosutedjo.

Karena orang tuanya berpisah, oleh mbah buyutnya Soeharto kemudian dibawa ke Wuryantoro, sebuah kecamatan di Wonogiri, untuk diasuh oleh Prawirowihardjo dan istrinya.

“Saya menyerahkan Soeharto kepadamu. Silahkan asuh. Saya kuatir, kalau dia terus tinggal di Kemusuk, dia tidak akan menjadi orang. Saya sangat bersyukur jika anak ini memperoleh pendidikan dan bimbingan yang baik,” ucap Kertosudiro.

Paman dan bibinya, seperti dicatat OG Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1976:144) membawa Soeharto naik kereta api untuk pertama kali. Mereka juga membelikan pakaian baru di toko Fuji ketika singgah di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Perlakuan baik ini membuat Soeharto bersyukur. Apalagi paman dan bibinya menganggap ia sebagai anak tertua dan menyekolahkannya. Meski demikian, mungkin karena orang tuanya berpisah, Soeharto tumbuh menjadi pribadi yang pendiam.

Selepas menyelesaikan pendidikan dasar di Schakel School Muhammadiyah, Soeharto mulai mencari kerja. Mula-mula ia sempat jadi pembantu klerek di sebuah bank desa. Namun ternyata pekerjaan itu tak cocok baginya, terlebih setelah ia tertimpa sial.

Sekali waktu Soeharto meminjam kain dari bibinya untuk ia pakai ketika menemani klerek keliling bersepeda. Kain itu sobek secara tak sengaja, yang membuat Soeharto dicela Klerek dan dimarahi bibinya karena kain itu adalah kain bagus satu-satunya. Soeharto kemudian angkat kaki dari bank.


Mengadu Nasib Jadi Tentara KNIL

Setelah keluar dari bank desa, Soeharto yang menganggur sering ikut kerja bakti membangun masjid yang dirasakannya lebih menyenangkan daripada bekerja di bank. Ia juga mencoba melamar masuk KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

”Saya ikut ujian dan ternyata lulus,” ujar Soeharto. Menjadi serdadu kompeni membuatnya punya penghasilan yang cukup, lebih dari sekadar untuk membeli baju baru.

Soeharto masuk pendidikan militer di Gombong. Ia merasa cocok dan kian tertarik dengan pekerjaannya sebagai tentara. Ia bahkan termasuk lulusan terbaik. Menurut OG Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1976:171), anak Kemusuk ini menjadi prajurit teladan dan dalam waktu yang singkat pangkatnya dinaikkan menjadi sersan saat ia berusia 21 tahun.

Soeharto menikahi seorang putri priyayi, yakni Raden Siti Hartinah alias Ibu Tien. Tak seperti kedua orangtunya, pernikahan Seoharto dengan Siti Hartinah hanya dipisahkan sang maut.

Baca juga artikel terkait MILD REPORT atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight