Menuju konten utama

Soal Vtuber Sena ASN Digital, DPD akan Evaluasi Tampilan Visual

DPD mengubah visualisasi Sena karena kritik terkait penampilannya yang dianggap tidak pantas, salah satunya bajunya yang ketat dan rambut berwarna hijau.

Soal Vtuber Sena ASN Digital, DPD akan Evaluasi Tampilan Visual
Kepala Biro Protokol, Humas dan Media (Karo PHM) Setjen DPD RI, Mahyu Darma di Ruang DPD RI, Nusantara V, Jakarta, Kamis (30/10/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tengah menjadi sorotan setelah mengunggah video yang memperkenalkan virtual youtuber (Vtuber) melalui Youtube hingga Instagram resminya.

Berdasarkan video yang beredar, Vtuber yang bernama Sena itu memperkenalkan dirinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) digital DPD RI yang bertugas untuk menyebarkan berita dan informasi terkait senator. Sena pun mengaku bahwa dirinya merupakan seseorang yang lahir pada 1 Oktober 2004, atau berusia 21 tahun.

Unggahan tersebut pun menuai pro dan kontra dari masyarakat. Kepala Biro Protokol, Humas, dan Media (Karo PHM) Setjen DPD RI, Mahyu Darma, menyatakan Sena merupakan sebuah karya dari calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Dia pun mengapresiasi karya tersebut, yang mana merupakan buatan anak bangsa. Namun, DPD akan mengubah visualisasi Sena setelah mendapat kritik terkait penampilannya yang dinilai tidak pantas, salah satunya bajunya yang ketat dan rambut berwarna hijau.

“Kita harus melihat juga pandem keindonesiaan gitu loh. Itu lah yang kita akan coba poles sehingga masyarakat itu juga lebih harmonis menerima ini. Jangan kita kasih tampilkan yang negatif-negatif. Ya mohon maaf, rambutnya si hijau,” kata Mahyu saat ditemui di Ruang DPD RI, Nusantara V, Jakarta, Kamis (30/10/2025).

“Ada manusia rambutnya hijau, nah dari nilai kepantasan itu. Apakah pantas ini kita tampilkan? Itu saja. Jadi dari karakter visualnya yang kita akan coba elaborasi,” tambahnya.

Mahyu menjelaskan, ASN Digital merupakan bagian dari proses latihan dasar (latsar) CPNS di DPD. Dalam hal ini, seluruh CPNS wajib mengikuti latsar, salah satunya adalah harus membuat sebuah karya.

Dengan demikian, Mahyu menekankan bahwa proyek latsar tersebut tidak mewakili institusi DPD, melainkan proyek individu yang diperuntukkan untuk kepentingan seleksi CPNS. Dengan demikian, Mahyu menegaskan Sena tidak memiliki tugas pokok yang mewakili DPD RI.

“Dia hanya menyelesaikan tugas pribadi dalam rangka tahapan seleksi dari CPNS menjadi PNS,” ucap Mahyu.

Mahyu pun berasumsi pembuat animasi, terutama dari kalangan generasi Z sebagian besarnya mengikuti tren dari luar negeri, seperti Anime dari Jepang dan K-pop dari Korea Selatan. Ia menilai, hal itu pun terbukti dengan melihat visual Sena yang dinilai seperti ala-ala anime Jepang. Maka dari itu, Mahyu beserta jajarannya akan mengevaluasi hal tersebut. Harapannya, tampilan Sena bisa digambarkan dengan ciri khas fisik orang Indonesia.

“Itu lah yang kita akan coba review ulang, apakah iya kita pakai nuansanya Jepang, tapi kan kita enggak tau nih modelnya Gen Z saat ini meniru. Meniru yang dari luar. Misalnya dulu kan Korea banget, sekarang Jepang banget,” ucapnya.

“Nanti mungkin kita masuk ‘Eh teman-teman yang Gen Z kenapa kamu nggak angkat visualnya atau ciri khasnya Indonesia? Kenapa sih kamu mengambil orang luar?’ Karena mengikuti mungkin viewernya,” imbuhnya.

Selain bentuk visual Sena, Mahyu mengakui DPD lalai mengawasi pendistribusian konten di laman resminya. Mahyu menyebut seharusnya konten proyek latsar CPNS itu diunggah di akun media sosial pribadi peserta CPNS, bukan di laman DPD RI.

“Ini produknya produk pribadi seorang CPNS yang tiba-tiba muncul. Nah, harusnya itu kan kita harus koreksi dulu, kita evaluasi,” katanya.

Meski demikian, Mahyu menegaskan pihaknya tidak akan memberi sanksi kepada pembuat Sena. Mau bagaimanapun, animasi Sena merupakan sebuah kreativitas anak bangsa. Dia pun menyebut proyek tersebut tidak melibatkan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Seluruh proses pembuatan animasi Sena murni dirancang langsung oleh peserta CPNS.

“Orang yang sudah punya kemampuan, sudah profesional. Ngedit itu dia sendiri, yang mengisi suara dia sendiri,” kata Mahyu.

Baca juga artikel terkait DPD atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher