Skateboarding di Olimpiade Bukan Sekadar Olahraga

Oleh: R. A. Benjamin - 11 Agustus 2021
Dibaca Normal 5 menit
Skateboarding di Olimpiade membuktikan diri tak sekadar jadi olahraga kompetisi yang mencari sang pemenang.
tirto.id - Setengah satu siang di Tokyo. Pengukur temperatur di Ariake Urban Sports Park menunjukkan angka 33 derajat Celsius. "Hari yang sempurna untuk skateboarding," kata komentator televisi. Dia barangkali luput melihat para skater yang senantiasa bernaung di bawah payung dan mengenakan rompi es saat menanti giliran.

Keegan Palmer menjadi skater keempat yang tampil di final skateboarding nomor men's park Olimpiade 2020. Ia memadukan trik-trik flip, grab, dan spin di transisi, lalu menyelipkan beragam grind dan slide pada coping (bagian atas transisi). Saya terperenyak. Demikian pula sang skater saat melihat poinnya diumumkan. Para juri tanpa ragu mengganjarnya poin mendekati sempurna, 94,04. Dengan poin setinggi itu, skater lain seolah hanya tinggal memperebutkan perak.

Poin Keegan akhirnya berhasil dilampaui oleh dirinya sendiri. Itu ketika pada run terakhir yang tanpa cela, skater berusia 18 tahun menambahkan trik kickflip body varial 540. Ia membanting papannya dengan puas sebelum juri kelar menghitung poin terbarunya: 95,83.

Poin sedemikian tinggi tak mampu disaingi jagoan Brasil, Pedro Barros, dan skater Amerika Serikat yang tersisa di final, Cory Juneau, yang berturtut-turut kebagian perak dan perunggu. Medali emas resmi jadi milik Australia.

Final untuk nomor women's park digelar 24 jam sebelumnya. Tak seperti nomor men's park, medali pada nomor ini diperebutkan hingga detik terakhir; trik terakhir.

Seorang anak 15 tahun melesat lebih cepat ketimbang yang lain. Kecepatan itu memungkinkannya mendaratkan lebih banyak trik, juga membuat trik-triknya tampak penuh otoritas ketika didaratkan. Tentu margin kesalahan yang lebih besar juga membayangi ketimbang jika melaju lebih lambat.

Dia tidak banyak menebar senyum dan laku keramahan layaknya skater perempuan lain. Fokus akan segera dialihkan ke arah pelatih saat poin diumumkan demi mendiskusikan strategi selanjutnya. Ia seperti mesin skateboarding yang hanya bisa terus lebih baik. Bocah itu Misugu Okamoto, skater peringkat satu dunia.

Dua run pertama tidak berjalan semulus rencana. Misugu mendapati namanya di peringkat empat sebelum memulai run terakhir. Jelang tiga detik tersisa sebenarnya medali perunggu sudah di depan mata andai dia memilih trik penutup yang lebih mudah. Tapi Misugu, yang meluncur untuk emas, memilih kickflip indy yang sayangnya gagal didaratkan. Sang juara dunia terjatuh dan menangis.


Dua remaja kelahiran Jepang lain resmi menjadi peraih medali termuda Olimpiade sejak 1936. Kokona Hiraki, peraih perak, baru 12 tahun; sementara Sky Brown, peraih perunggu yang mewakili Britania Raya, berusia 13. Sementara emas diraih senior mereka, skater tuan rumah berusia 19 tahun, Sakura Yosozumi.

Dengan demikian tiga dari empat emas skateboarding direngkuh skater tuan rumah, setelah dua nomor street dimenangkan Yuto Horigome dan Momiji Nishiya.

Wajah Asli Skateboarding

Seluruh skater peringkat satu dunia pada tiap nomor gagal meraih medali. Semua skater yang mengumpulkan poin tertinggi pada babak penyisihan juga gagal meraih emas. Tekanan berat sebagai skater yang tampil terakhir menambah panjang daftar faktor kurang menguntungkan seperti cuaca yang panas, lembap, dan berangin.

Rail yang digunakan sebagai wahana trik pada kategori street baru selesai dicat H-1 kontes, lapor utusan Jenkem yang hadir di lokasi. Cat yang bercampur dengan kelembapan dan panas membuat wax (lilin yang digunakan sebagai pelicin rail) tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah mengapa kita melihat lebih sedikit trik yang sukses didaratkan para skater di Olimpiade ketimbang pada kontes lain.

Ada pula beberapa respons yang tepat terhadap keluhan penonton soal betapa seringnya para skater terjatuh, terutama pada kategori street. Dua di antaranya, yang paling sederhana: Trik-trik yang coba didaratkan para olympian sama sekali bukan trik-trik mendasar; dan skateboard tidaklah melekat di telapak sepatumu.

Para penonton macam itu barangkali tidak pernah kembali ke kanal televisi yang menayangkan nomor skateboarding tersisa, kategori park. Sebagian lagi mungkin kembali dan lantas merasa skateboarding jenis ini bisa lebih mudah dinikmati. Normal saja, sebab kategori park memungkinkan laju para skater lebih mengalir. Plus, percobaan trik-trik vertikal di udara lebih mudah memukau mata awam ketimbang grinding dan slides di pegangan tangga.

Pada kategori park, selain dipertontonkan atraksi memukau, mereka yang baru kali ini terpapar skateboarding juga bakal mendapati rupa sebenarnya kegiatan ekstrem ini.

Kembali ke hari final women's park, tepatnya detik terakhir, di mana anak berumur 15 tahun sedang meluncur cepat di arena. Ketika bocah juara dunia menangis sesenggukan tatkala trik terakhirnya gagal didaratkan, para finalis lain dari berbagai negara serta-merta menghampiri, memeluk, dan mengangkat-angkat tubuh mungil Misugu Okamoto tak ubahnya merayakan pemenang.

Pada nomor men's park, aksi tak jauh berbeda ditampilkan. Para skater berbendera mana pun menunjukkan suka cita bila ada yang baru saja menuntaskan run hebat. Aksi-aksi camaraderie mengingatkan pada kodrat skater yang sebetulnya bukan kompetitor; yang bersama-sama merayakan kemenangan sekecil apa pun.

Gestur sportivitas dan pertemanan macam itu mungkin juga bisa ditemukan pada cabang olahraga (cabor) lain. Namun di skateboarding, ia selalu ada di sana mengiringi perjalanan aktivitas ini. Barangkali didasari rasa pengertian betapa sulitnya mendaratkan tubuh di atas papan beroda tanpa terjengkang. Pada hari-hari itu, kita tidak hanya membicarakan medali.


Mainan Kayu yang Mendorong Batas

Sebagian skater sebenarnya tidak sepakat jika olahraga ini dilombakan di Olimpiade. Namun, menurut Neftalie Williams, dosen tamu di Yale Schwarzman Center yang mempelajari kultur skateboarding, "menghindari institusi sekuat Olimpiade akan berlawanan dengan apa yang dimaksud dengan skateboarding itu sendiri: mendorong batas dan membuka potensi."

Seberapa jauh batas itu didorong dan seberapa besar potensi baru itu terbuka? Setidaknya sebelum Olimpiade belum pernah skateboarding dirayakan sebegitu meriah selayaknya, katakanlah, sepak bola.

"Gue sama nyokap teriak-teriak nontonnya, kayak ngerti," kata salah seorang rekan saya di Tirto, selepas final nomor men's park. Di beberapa tempat di AS, para skater menggelar nonton bareng. Di Brasil, skateboarding dan surfing berkontribusi memecahkan rating tertinggi televisi. Di Twitter, pada empat hari skateboarding dimainkan di Olimpiade, ia selalu menempati jajaran trending topic.

Akun media sosial Olimpiade beberapa kali mengunggah foto-foto para skater yang tampil modis dengan "seragam" yang tidak bisa betul-betul disebut seragam. Skater dari negara yang sama sangat mungkin memakai jenis atasan berbeda, entah itu jersei, kemeja, bahkan jumpsuit—apa pun yang lebih sesuai dengan karakter dan kebiasaan mereka. Beberapa skater bahkan menggunakan AirPods. Saat menunggu giliran, mereka dengan cuek mengecek ponsel. Lagu-lagu punk, rock, hingga hip-hop diputar di arena kala para atlet berlaga.

Skater AS Alana Smith memamerkan griptape skateboard yang bertuliskan kata ganti identitasnya: they/them. Bersama rekan senegaranya Alexis Sablone, Alana mendeklarasikan diri bagian dari kelompok LGBTQ yang itu sekaligus menampilkan kesan skateboarding selalu inklusif seperti seharusnya. Dallas Oberholzer, skater berkulit putih mewakili Afrika Selatan, juga bicara keberagaman. "Aku tahu penerusku adalah orang kulit berwarna dan aku tahu mereka akan segera tiba di sini," ujar Dallas. Melihat perkembangan terkini, kita memang bisa mengharapkan skater Uganda atau Etiopia akan tiba di Olimpiade berikutnya.

Di balik semua itu, di balik layar televisi, terdapat pemandangan ironis. Tak terhitung jumlah tanda "SKATING BANNED" dipajang di luar venue. Tiga emas untuk tuan rumah diharapkan berbuah perubahan, membuka peluang dibangunnya lebih banyak skate park atau ruang publik di mana skateboarding dibiarkan hidup.

Infografik Olimpiade Tokyo Panggung Terbesar Skateboarding
Infografik Olimpiade Tokyo Panggung Terbesar Skateboarding. tirto.id/Quita


Merangkul Ketakutan

"Embrace fear, safe haven for difficult time," komentator televisi yang saya saksikan melontarkan kalimat yang jitu. Skateboarding adalah perihal merangkul ketakutan sekaligus menjadi tempat aman untuk masa-masa sulit.

Olimpiade telah lewat dan menghadirkan sensasi yang belum pernah ada. Akan ada lebih banyak orang yang mencoba mengisi masa-masa sulit dengan belajar meluncur. Para skater kontes (atau kini bisa disebut atlet) akan kembali menyiapkan diri untuk kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Sebagian lainnya akan tetap menyusuri jalanan atau kolong jembatan, mencari spot terbaik untuk syuting video parts—kumpulan klip skate yang disusun sedemikian rupa, kadang difilmkan selama bertahun-tahun. Jika musisi punya album rekaman atau EP, para skater punya video parts.

Skateboarding memang bukan olahraga yang hanya nikmat disaksikan dua atau empat tahun sekali. Selain tayangan ulang kontes-kontes skate yang banyak beredar di Youtube, kau bisa selalu merasakan sensasi olahraga, seni, dan kultur mainan kayu ini melalui video, film, dan video parts. Berbeda dengan di kontes, penikmat anyar olahraga ini dapat melihat para skater mendaratkan trik-trik hebat tanpa terjatuh. Adegan-adegan kegagalan jarang disertakan (biasanya untuk video lain lagi), menyisakan klip-klip sukses di mana tak jarang pakaian mereka penuh noda, kadang darah, bekas terjatuh. Bekas menaklukkan ketakutan.


Selalu mendebarkan saat melihat tim skateboard seperti GX1000 melakukan teknik-teknik berbahaya di turunan jalan. Ada bagian fenomenal pula kekinian tim Illegal Civ dalam Godspeed. Video tim Worble yang menghibur. Ada pula film seperti Skate Kitchen (2018) dan video garapan Vans bertajuk Credits yang mengedepankan para skater perempuan. Belum lagi video-video bikinan Baker, Polar Skate Co., atau yang lebih artistik seperti film-film pendek arahan Brett Novak. Dan banyak lagi.

Para atlet olahraga lain mungkin bisa mulai memikirkan untuk membuat video parts kalau itu belum dilakukan. Atlet-atlet gimnastik dan lompat indah, misalnya, punya kans besar membuat olahraga mereka tampak semakin keren, kekinian, atau artistik bagi kita yang jarang menyaksikannya. Hitung-hitung sarana promosi sekalian mencari pemasukan di luar kompetisi.

Olimpiade memang butuh cool factor yang melekat di skateboarding seperti yang sempat dikatakan sang legenda, Tony Hawk. Momen mengharukan di antara para skater perempuan bakal terpatri kala mengenang Olimpiade Tokyo 2020. Saya sendiri mulai mempertimbangkan untuk mengenakan jumpsuit meski tinggal dan skate di kawasan yang bertemperatur 33 derajat C atau sering kali lebih tinggi.

Selalu dan bakal terus seperti itu, lebih dari sekadar olahraga.

Baca juga artikel terkait SKATEBOARDING atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight