Jackass, Maskulinitas Gaya Baru dan Kultur Skateboarding Amerika

Penulis: R. A. Benjamin - 5 Mei 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Tontonan berisi aksi-aksi nekat dan konyol yang bermula dari majalah Big Brother. Seiring sejalan dengan skena skateboarding.
tirto.id - Pada 2000, acara komedi realitas berjudul Jackass baru saja dirilis. Seiring dengan popularitasnya, budaya tandingan terkait punk rock dan skateboarding terasa kian marak. Selain citra atletis skater di ranah arus utama, Jackass juga menawarkan maskulinitas gaya baru berwujud orang-orang yang dengan sadar dan nekat menyakiti diri sendiri atas nama hiburan.

Jackass dengan cepat menjadi acara andalan MTV dan dipancarkan ke seluruh penjuru dunia. Ketika skateboard kelewat mahal dan di banyak tempat infrastrukturnya belum sememadai California, Johnny Knoxville dan Steve-O seolah menjadi model anutan.

Gara-gara nonton Jackass, saya dan teman-teman sekolah—atau mungkin banyak anak era 2000-an—sontak mengerjai satu sama lain atau diri sendiri pada level berbeda. Gerbang gagasan tolol-tololan anyar tiba-tiba terbuka untuk menantang diri sedemikian rupa, kerap kali tanpa kamera, hanya untuk gelak tawa.

Aksi membahayakan diri serta-merta menjadi keren. Untungnya, kami setidaknya tak begitu nekat menjiplak stunt awak Jackass yang berpotensi mematahkan tulang atau menghadirkan cacat permanen. Paling banter, kami akan mencoba melompat dari ketinggian ke sungai dangkal (baiklah, itu masih berpotensi mematahkan tulang) atau mencampuradukkan makanan di kantin sekolah, memakannya, untuk kemudian termuntah-muntah.

Sementara di luar sana, menurut tuturan Steve-O, tiba-tiba saja banyak anak kecil yang dilarikan ke rumah sakit akibat terinspirasi melakukan stunt mereka sendiri.

Lumrah saja kru Jackass dianggap sebagai pionir pergerakan self-monetization. Siapa nyana konsep acara yang bukan main goblok itu laku keras bahkan mengilhami anak-anak muda di mana-mana kendati tak diupah selayaknya para awak Jackass.


Di samping sebagai pionir dan pembawa pengaruh buruk, kru Jackass juga dianggap mengubah wajah televisi. Mereka bisa jadi pula salah satu peletak dasar keinginan viral yang kian mewabah sejak media sosial lahir. Mereka dianggap berpartisipasi dalam maskulinitas kulit putih sekaligus menantang dan menertawakannya. Para penggemar bahkan telah meminta untuk digampar Bam Margera jauh sebelum videonya bisa dipamerkan ke Tiktok atau Youtube.

Kini dua dekade sejak kemunculannya, kru Jackass menua, tapi masih melakukan hal-hal tolol, kalau bukan lebih tolol lagi, dalam Jackass Forever (2022). Deretan stunt baru dihadirkan, begitu pula stunt lama yang direka ulang atau dikembangkan. Tank beramunisikan pelor paintball dilibatkan dan penis serta testis terus dianiaya. Tetap bikin ngilu, mual, dan terbahak. Seperti kedunguan yang tinggal, pengaruh skateboarding juga tetap bertahan.

Berangkat dari Majalah Skate Kurang Ajar

"High level functioning pieces of shit", demikian Johnny Knoxville mendefinisikan rekan-rekan Jackass-nya. Sebagian dari mereka berpapasan jalur hidup dengannya berkat skateboarding.

Kau mungkin pernah melihat "kapten" Jackass ini sukses terjerembap di dasar tangga Hollywood 16 atau terhempas tubuhnya dari pucuk vert ramp tatkala hendak drop in menggunakan skateboard. Penyebab "suksesnya" stunt macam itu sederhana: Knoxville sama sekali bukan skater. Kendati demikian, namanya telah marak dikenal di skena skateboarding berkat kontribusinya untuk Big Brother, sebuah majalah skate nyeleneh bentukan Steve Rocco yang jauh dari political correctness.

Johnny Knoxville muda hengkang dari Tennessee menuju Los Angeles dengan mimpi menjadi aktor. Namun, dia menyadari bahwa segala upayanya tidaklah cukup untuk meraih mimpi itu. Di saat yang bersamaan pasangannya hamil dan Knoxville otomatis butuh uang banyak dalam waktu singkat.

Dalam situasi kepepet, muncullah ide untuk memperagakan beragam stunt berbahaya. Media yang bakal menampung ide macam itu tak lain adalah Big Brother. Jadilah Knoxville mulai menulis artikel soal "perlengkapan pertahanan diri" dengan contoh yang diperagakan sendiri. Knoxville bersedia disemprot dengan pepper spray di wajah, ditembaki tubuhnya dengan stun gun dan taser dart, hingga puncaknya, mempertaruhkan nyawa dengan menembakkan pistol ke dadanya sendiri. Berbekal rompi anti peluru murah, dia melakukan stunt-nya.

Knoxville selamat, tentunya, dan namanya pun mulai meroket sebagai pelaku stunt berbahaya nan nekat.

Aksi-aksinya menginspirasi Steve-O, kontributor Big Brother lain. Aksi pertamanya untuk majalah ini adalah membakar kepalanya sendiri. Sementara itu, stunt yang dilakukan Steve-O (semisal melompat dari jembatan yang tinggi) lantas mengilhami skater profesional Bam Margera yang memfilmkan berbagai prank terhadap keluarga dan temannya dalam label CKY crew (Camp Kill Yourself).

Aksi-aksi prank Margera lantas balik mengilhami Knoxville. Jadi, para pentolan Jackass sebenarnya saling memengaruhi satu sama lain sebelum acara itu sendiri ada.

Di Big Brother sendiri, bercokol para staf penulis dan fotografer seperti Jeff Tremaine dan Spike Jonze yang mulai naik namanya sebagai sutradara film berkat debut feature Being John Malkovich (1999). Di majalah yang sama pula, terdapat para pegawai yang kelak meramaikan Jackass seperti Chris Pontius dan Jason Acuña alias Wee Man.


Berangkat dari stunt Knoxville dkk. yang ditayangkan dalam video-video produksi Big Brother, Tremaine mendapatkan ide segar. Dia lantas berbicara kepada Jonze, "Hei, ada sesuatu tentang video ini yang sangat disukai orang, dan kupikir mereka sama sekali tak peduli dengan skateboard."

Bersama Knoxville, keduanya sepakat untuk membawa stunt ini ke arah yang lebih jauh: acara televisi. Berbekal pamor Jonze sebagai sutradara nominator Oscars, mereka mempresentasikan idenya ke studio-studio di Hollywood. Mereka sempat ditolak HBO hingga akhirnya MTV menerima ide acara aksi-aksi bergajul itu.

Salah satu karya awal mereka yang hendak dijadikan episode pilot Jackass direkam secara sembunyi-sembunyi oleh Jonze. Saat itu, Knoxville mengenakan baju tahanan dan berkeliaran di kota. Aksi itu pun berujung pada diringkusnya Knoxville oleh polisi.

Usai kegagalan video itu, ketiganya belajar banyak tentang video-video prank dan stunt hingga akhirnya menemukan warna ugal-ugalan mereka sendiri. Menurut Tremaine, aksi bergajul mereka itu dimaksudkan sebagai "kaotis, tapi tak bermaksud jahat."

Knoxville dkk. lantas meninggalkan Big Brother demi berfokus pada Jackass yang kelak menghasilkan sejumlah produk spin-offseperti Wildboyz, Viva La Bam, dan sebagainya. Dari acara televisi, Jackass berkembang menjadi enam judul film, sederet dokumenter, program televisi lain, hingga seri gim video.

Kala Big Brother harus gulung tikar lantaran tak banyak orang yang mau beriklan di majalah yang bukan main kurang ajar, panji Jackass justru terus berkibar.

Selaras dengan Kultur Skate

Tony Hawk cosplay sebagai dirinya sendiri versi remaja tatkala terkena semprotan cairan putih lengket dari sungut kaiju yang menyerang kota. Sementara itu, Aaron "Jaws" Homoki—satu-satunya skater yang sukses melompati Lyon 25—dikabarkan patah-mematah dan menderita luka bakar usai menjalani hari-hari bersama Jackass. Lalu, dalam tantangan The Quiet Game, Steve-O menjadi satu-satunya yang gagal untuk tak bersuara manakala tulang keringnya dihantam gilotin skateboard.

Seluruh aksi itu muncul dalam Jackass Forever (2022), di mana para awak Jackass telah dua dekade lebih tua, tapi tetap tidak lebih dewasa. Deretan stunt mereka tak kalah berbahaya ketimbang dulu dan kultur skateboarding masih berada di posisi sentral show ini.

Kegiatan mainan kayu beroda ini toh memang tak pernah luput dari film-film Jackass. Entah itu Pontius melakukan cruising sembari berbugil ria, Margera yang melakukan drop in dari posisi berisiko tinggi, atau kehadiran para skater profesional dengan stunt berbahaya. Bersama X Games dan serial gim video Tony Hawk's Pro Skater, Jackass bisa dibilang turut andil dalam mengembalikan gairah industri skateboarding pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.


Infografik Jackass and Kultur Skate
Infografik Jackass and Kultur Skate. tirto.id/Fuad


Dalam bukunya yang berjudul Skate Life: Re-Imagining White Masculinity (2009), Emily Chivers Yochim menyebutkan bahwa Jackass dan seluruh spin-off-nya memberlakukan mode maskulinitas kulit putih. Itu tampaknya secara tidak langsung selaras dengan cemoohan skater pada "maskulinitas jock", kecenderungan untuk bekerja sama alih-alih bersaing, dan nilai-nilai inti terhadap kepercayaan diri individual.

Sama-sama dicap tak dewasa, pula berbagi karakteristik tahan banting dan kerentanan akan cedera, demi kejayaan dalam klip hitungan detik. Jackass berbagi banyak kesamaan dengan subkultur tempatnya lahir di mana kesuksesan dan kegagalan dirayakan bersama.

"Aku pikir Jackass keluar ketika dunia membutuhkannya. Ia membawa kultur bawah tanah skateboarding yang konyol ke dunia. Kupikir banyak orang tertarik karena mengingatkan mereka bagaimana bersenang-senang dengan teman-teman mereka saat tumbuh dewasa," ujar Chris Pontius.

Ucapan Pontius tentu berlaku bagi para penggemar Jackass yang kadung menua seperti mereka. Di lain sisi, Jackass sepertinya belum berhenti membuat anak-anak dilarikan ke rumah sakit usai menghantamkan skateboard ke tulang kering sendiri—entah karena menjajal satu trik atau bukan, disengaja maupun tidak.

Baca juga artikel terkait ACARA TELEVISI atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight