Mengenang Masa Emas Bones Brigade, Skate Team yang Sarat Warisan

Penulis: R. A. Benjamin - 7 Mei 2022 19:40 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Peralta mencari anak-anak tekun dan berbakat untuk jadi tulang punggung Bones Brigade. Mereka menorehkan banyak catatan emas dalam sejarah skateboarding.
tirto.id - "Ketika menjadi skater profesional, aku memimpikan punya tim skateboard sendiri. Aku ingin menciptakan keajaiban dan ingin hal itu bertahan. Aku tak mau ia berakhir," kata Stacy Peralta dalam dokumenter Bones Brigade: An Autobiography (2012).

Pada awal 1970-an, Peralta tergabung dalam tim skateboard Zephyr Team bersama Tony Alva, Jay Adams, dan beberapa yang lain. Gaya agresifnya mengubah skena skateboarding selamanya.

Tapi ketenaran dan gelimang uang mencederai anak-anak muda, menggoyah
kan tim skate sehebat apa pun.

Ketika Peralta memiliki perusahaan skateboarding yang dibangun bersama George Powell, Powell Peralta, dia akhirnya berkesempatan membangun tim sendiri dan bertekad takkan mengulangi kesalahan yang sama. Pada 1979, tim yang kelak dinamai Bones Brigade itu pun dibentuk.

Sederet skater sekaliber Danny Way, Per Welinder, Bucky Lasek, dan Guy Mariano tercatat pernah tergabung di dalamnya. Ada pula nama-nama lain yang kelak dikenang sebagai wajah utama Bones Brigade. Berkat para pionir ini, lahirlah trik-trik yang menjadi fondasi bagi banyak trik modern.

Pengaruh mereka sudah barang tentu melampaui perkara trik dan manuver. Kita bisa mengaitkan kelahiran fingerboarding, sepatu skate populer macam Vans Half Cab, seri video gim Tony Hawk's Pro Skater, hingga sejumlah perusahaan skateboarding ternama dengan andil para pentolannya. Para "anggota elite" Bones Brigade dengan kontribusi tak terukur bagi skateboarding itu tak lain ialah Lance Mountain, Steve Caballero, Mike McGill, Tommy Guerrero, Rodney Mullen, dan Tony Hawk.


Rockstar-nya Skateboarding

Dengan cara berbeda-beda, anak-anak muda itu menjadi outcast—terkucil dari pergaulan, aktivitas, atau olahraga lainnya. Dengan jalan masing-masing pula, mereka menemukan skateboarding sebagai tujuan dan sarana berbicara.

Di saat yang bersamaan, Stacy Peralta mulai bergerilya untuk membangun tim skate impiannya. Layaknya pemandu bakat, dia mendatangi kontes demi kontes, memilah para skater amatir untuk dikembangkan.

Peralta tak menginginkan mereka yang sudah terkenal, begitu pun nama-nama yang telah dicomot tim-tim skate lain. Peralta mencari anak-anak yang memiliki “api” dalam diri mereka. Begitulah caranya memilih Tony Hawk—bukan ketika sang Birdman muda tengah menuntaskan trik hebat, melainkan ketika anak kurus ceking itu tetap bangkit dengan mata menyala kendati terbanting berkali-kali.

Rekrutan Peralta yang bisa dibilang cukup beken saat itu ialah Rodney Mullen yang pada usia awal belasan telah memenangi banyak kontes amatir freestyle skate.

Anak-anak "temuan" Peralta itu tinggal di berbagai kota di negara-negara bagian yang berbeda di AS. Setiap kontes skate dihelat, Peralta menerbangkan mereka ke Los Angeles dan menyetir sendiri mobil yang mengangkut anak-anak ini menyusuri California.

Mereka bersaing sekaligus mendorong satu sama lain demi menjadi skater jempolan. Ketika Alan Gelfand melakukan ollie pertama di pucuk kolam renang kosong, Mullen menerjemahkan trik yang sama ke tanah datar. Tatkala Caballero melakukan satu putaran penuh di udara tanpa memegangi papan (Caballerial), McGill memutarnya lebih jauh menjadi 540 derajat (McTwist).

Begitu pula halnya dengan Hawk dan Mullen yang lazim bertukar trik, dari tanah datar ke udara dan sebaliknya.



Anggota tim super ini tumbuh menjadi langganan juara setiap kontes, terutama Tony Hawk. Peralta mulai memetik buah usahanya. Bagaimanapun, salah satu tujuan utama status profesional bagi skater adalah menjual produk—dalam hal ini, menjual papan seluncur profesional yang diproduksi Powell-Peralta.

Demi mempromosikan anak-anak asuhannya, Peralta menggamit Craig R. Stecyk III. Dari mulut jurnalis foto cum seniman inilah nama Bones Brigade muncul. Orang yang sama juga bertanggung jawab atas citra unik tim ini berkat foto-foto arahannya yang tak lazim—seminimal mungkin menampilkan skateboard, berpose di depan Cadillac yang terbakar, atau menyertakan cercaan Thrasher dan media lain sebagai copy untuk produk dan tim.

Berkat pendekatan unik itu, model skateboard profesional dengan nama Hawk dkk. laku keras. Persepsi publik pada awal 1980-an soal skater profesional pun ikut terangkat. Ia yang semula diremehkan atau tak dipandang sebagai karier mulai berubah seiring uang yang mengalir.

Bones Brigade menjelma bintang rock, bahkan melebihi Alva Posse (tim bentukan Tony Alva) yang dari segi penampilan lebih menyerupai rockstar. Jika para bintang rock dinantikan tampil membawakan gubahan terbaik mereka dalam konser, para skater diharapkan menampilkan trik-trik andalan dalam demo maupun pertunjukan.

Fenomena semacam skateboard mania menanti ke mana pun Bones Brigade singgah. Anak-anak muda ini diundang untuk mengajar skateboarding di Swedia, makan malam di rumah George Harrison, hingga tampil di acara televisi di Jepang.

Selain figur ayah dalam diri Peralta, solidnya Bones Brigade terjaga berkat sifat alami para personelnya: mereka tak larut dalam alkohol dan obat-obatan. Bones Brigade seolah hanya sekumpulan skate nerd yang kecipratan bonus berupa ketenaran.

Bagi Lance Mountain, perkara tersebut sederhana belaka. Minum-minum, pesta, dan perempuan diperuntukkan hanya bagi mereka yang tak merasa tercukupi oleh skateboarding. "Kau pesta dan bersenang-senang, karena kau tak bisa bersaing dengan Caballero."


Warisan Berupa Video

Tak puas berhenti di foto sebagai sarana promosi, Peralta lantas menjajal format video. The Bones Brigade Video Show (1984) dirilis dalam format VHS dan terjual 30 ribu kopi, jauh melampaui ekspektasi awal 300 kopi. Video perdana itu lantas diikuti Future Primitive yang rilis pada 1985.

Kedua video skate itu tak melulu soal kepiawaian Caballero, atraksi ajaib Mullen, dan betapa teknikalnya Hawk. Video Bones Brigade juga selalu berarti kesenangan di atas skateboard, entah itu kekurangajaran anak-anak muda yang melompati gembel yang tertidur di emperan jalanan LA atau membuat para pejalan kaki kocar-kacir.

Aksi Mountain dan Guerrero cruising ke seantero kota sembari melakukan trik-trik serius maupun nyeleneh turut membantu disiplin skateboarding yang berbeda, seperti street dan downhill. Mendaratkan early grab di pelataran toko tentu lebih aksesibel bagi kebanyakan orang ketimbang mencoba melakukan McTwist. Banyak anak muda sontak menyadari bahwa kota tempat mereka tinggal ternyata tak buruk-buruk amat, bahwa mereka tak perlu arena khusus nan mahal demi bisa skate.

Rilisan berikutnya, The Search for Animal Chin (1987) mengambil pendekatan yang berbeda. Kali ini, Peralta ingin video skate dengan jalan cerita. Namun ketika menyaksikannya, kita bisa dengan cepat menilai bahwa cerita dan pendekatannya memang kurang bermutu—hal yang diakui Peralta sendiri.

Meski begitu, aksi skate dalam video ini tak lekang, begitu juga pengaruhnya. Sebagaimana dua video sebelumnya yang mengilhami Mike Vallely dan banyak skater ke jalanan, Animal Chin turut menginspirasi filmmaker macam Spike Jonze dan lebih banyak orang lagi.

Bagi Hawk dkk., video-video itu tak hanya menjadi panggung atraksi tapi juga memberi tempat bagi kepribadian mereka untuk bersinar, setidaknya hingga industri skateboarding bertransformasi.


Infografik Bones Brigade
Infografik Bones Brigade. tirto.id/Tino


Akhir Bones Brigade

Pada periode tersebut, Powell Peralta memperkirakan uang $30 juta masuk per tahun. Kesuksesan mulai membuat dua pendirinya memandang beberapa perkara dari sudut pandang berbeda. Peralta yakin anak-anak asuhannya akan berangkat membangun perusahaan sendiri dan dia bersikeras bahwa Powell Peralta-lah yang semestinya turut membidani bisnis-bisnis baru itu. Namun, Powell tak sepakat dengan gagasan tersebut.

Industri skateboarding menemui siklus menurunnya pada 1990-an, saat para street skater mulai menggantikan popularitas vert skater dan Powell Peralta berubah menjadi Powell Corporation.

Bones Brigade memang bertahan setidaknya hingga bertahun-tahun kemudian, tapi tidak lagi bersama formasi terbaiknya. Mullen dan Hawk membangun perusahaan skateboarding masing-masing. Hingga kini, mereka masih menjadi pemain-pemain utama di industri. Sementara Guerrero tampak sibuk sebagai musisi multidisiplin dan Mountain mungkin kini lebih dikenal sebagai seniman serta Bapak Fingerboarding. Hanya Caballero dan McGill yang masih bertahan sebagai skater profesional untuk Powell Peralta.

"Aku senang melihat mereka berhasil, mereka sangat berbakat. Aku bahkan lebih menyukainya ketimbang karierku sendiri," kenang Peralta emosional.

Berkat permintaan Lance Mountain dkk., kedua pendiri Powell Peralta akhirnya rujuk dan kembali melanjutkan bisnis dengan nama tersebut sejak 2010 lalu. Namun, Bones Brigade sendiri kadung berakhir dan kita harus puas hanya mendapatinya dalam aksi reuni sarat nostalgia.

Mimpi Peralta akan tim skateboard yang tak lekang mungkin tak terwujud, tapi sebagai gantinya dia sukses membangun tim yang selamanya sulit ditandingi. Tim yang tak hanya mendominasi kompetisi dan mengkreasikan manuver-manuver revolusioner dalam skateboarding, tapi juga para individu yang mewariskan jejak mendalam pada sejarah papan seluncur kayu beroda ini.

Baca juga artikel terkait SKATEBOARD atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight