tirto.id - Jumaroh (16), seorang murid Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, melihat sampah sebagai berkah tersendiri. Saban hari, sebelum tinggal di asrama Sekolah Rakyat, gadis ini membantu ibunya yang bekerja sebagai pemulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang.
"Aku bantu milih sampah di rumah seperti botol-botol, beling-belingan, kardus, sandal, jadi dipisah-pisah karung," kata Jumaroh, Rabu (29/10/2025).
Sehari-hari ibunya memulung sampah dari subuh hingga pukul 12 siang. Setelah istirahat di tengah hari, aktivitas itu kemudian dilanjutkan kembali saat sore.
"Biasanya sehari setengah karung doang. Kita jual kotor aja, dipisahin, kita langsung jual ke tukang jual dengan timbangan," ujar dia.
Jumaroh dan sang ibu biasanya akan membawa empat karung sampah ke pengepul setelah dikumpulkan selama sepekan. Dari pengepul, ibunya mendapat penghasilan Rp200 ribu per minggu.
Sementara itu, ayah Jumaroh bekerja sebagai penjaga warung kelontong dengan upah tak menentu. "Bapakku kadang sehari [dapat upah] Rp70 ribu," katanya.
Dia mengisahkan, kondisi ekonomi orang tuanya itu mengharuskan mereka makan hanya dua kali dalam sehari. Biasanya, setiap pagi ibu Jumaroh hanya memasak nasi. Jumaroh membantu membikin lauk untuk ayah dan kakaknya.
"Mamaku kadang pagi masak nasi doang, terus kalua malam baru masak. Makan dua kali, tapi pagi nggak ada lauknya," kata dia.
Kini, kehidupan Jumaroh berubah drastis setelah diterima di Sekolah Rakyat. Dia tak lagi memulung sampah.
Jumaroh pun bisa fokus belajar. Bahkan, ia kini sudah bisa makan teratur sebanyak tiga kali sehari, ditambah dua kali makanan ringan.
"Dari tata makan teratur banget dan bergizi," katanya.
Selain itu, ia pun mengaku pola hidupnya lebih tertata dengan adanya jadwal rutin. Berbeda ketika di rumah, aktivivitas yang ia jalani cenderung tidak terjadwal dengan tertib.
"Kalau di rumah kadang kan suka males-malesangitu, tapi kalau di sini aku enggak bisa males-malesan," lanjut dia.
Di asrama, Jumaroh senang karena memiliki meja belajar yang sebelumnya tak ia miliki di rumah. Karenanya, ia mengaku tak butuh waktu lama untuk kerasan seketika pindah ke asrama Sekolah Rakyat.
"Aku orangnya cepat beradaptasi," katanya.
Di Sekolah Rakyat, Jumaroh menggemari pelajaran Biologi dan PJOK. Dia juga menekuni olahraga bela diri pencak silat yang sejak lama menjadi hobinya.
Sebelum belajar di Sekolah Rakyat, ia sudah pernah menorehkan prestasi membanggakan dalam kejuaraan Pencak Silat. "Aku juara 1 Indonesia Student Sport Championship Tahun 2023 dan juara dua Bekasi Challenge Tahun 2023," ujar Jumaroh.
Dengan hadirnya program Sekolah Rakyat, harapan Jumaroh kembali muncul. Dia memiliki mimpi menjadi ilmuwan biologi agar bisa mengatasi masalah sampah. Jumaroh ingin suatu saat nanti bisa meneliti pemanfaatan sampah di Bantargebang.
"Supaya sampah di Bantargebang bukan menjadi suatu hal yang menjijikkan tapi hal yang membanggakan," ujar dia.
Di Sekolah Rakyat, semangat belajarnya terus tumbuh meski harus tinggal di asrama. Dia pun bertekad untuk tidak menjadi beban keluarga.
"Aku mau ngebanggain orangtuaku pakai jalur prestasi di sini," kata Jumaroh bersemangat.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































