7 Juli 1930

Sir Arthur Conan Doyle: Dari Mary Celeste ke Sherlock Holmes

Oleh: Tyson Tirta - 7 Juli 2021
Dibaca Normal 3 menit
Peristiwa kapal Mary Celeste menginspirasi Arthur Conan Doyle menulis cerita pendek secara anonim. Namanya mulai terkenal setelah menulis Sherlock Holmes.
tirto.id - Mary Celeste adalah kapal dagang yang dibangun di Pulau Spencer, Nova Scotia, dan mulai berlayar dengan izin dan registrasi resmi dari Kerajaan Inggris pada 1861. Tujuh tahun kemudian, kapal itu berpindah kepemilikan ke tangan sebuah serikat dagang Amerika Serikat. Pada 7 November 1872, Mary Celeste bertolak dari New York menuju Genoa, Italia. Namun, pada 4 Desember di tahun yang sama, kapal itu ditemukan terombang-ambing di tengah Samudra Atlantik.

Awak kapal Dei Gratia milik Kanada yang menemukannya kebingungan karena tak satupun kru yang tersisa di geladak kapal. Berbagai isu beredar di seputar peristiwa penemuan kapal. Sebagian menganggap kru kapal memberontak di tengah jalan, sebagian lagi menduga kapal itu dibajak. Bahkan, ada juga yang meyakini kapal tersebut sengaja ditinggalkan untuk memperoleh keuntungan dari perusahaan asuransi yang menaunginya. Berbagai teori konspirasi itu masih menyisakan misteri.

Peristiwa ini menginspirasi seorang penulis Inggris untuk membuat cerita fiksi pendek secara anonim dengan judul "J. Habakuk Jephson’s Statement". Belakangan, publik mengetahui penulisnya adalah Arthur Conan Doyle. Dengan karyanya ini, Arthur langsung memopulerkan misteri penemuan kapal Mary Celeste.

Dari Sekolah Katolik ke Fakutas Kedokteran

Arthur Ignatius Conan Doyle lahir dari keluarga Katolik di Edinburgh, Skotlandia, pada 1859. Saat berusia 9 tahun, ia dikirim ke Inggris oleh pamannya untuk sekolah di Stonyhurst Lancashire. Ia kemudian melanjutkan studi di Stonyhurst College hingga 1875. Namun, sekolah yang berlandaskan ajaran Katolik Jesuit itu membuat Arthur muda tidak betah.

Janet Pascal dalam bukunya Arthur Conan Doyle: Beyond Baker Street (2000:14) menceritakan kenangan Arthur tentang sekolah itu. Baginya, sekolah Katolik tersebut menjalankan sistem pendidikan dengan prinsip-prinsip Abad Pertengahan.

“Sekolah dengan prinsip Katolik itu tidak memberikan kasih sayang dan kehangatan melainkan ancaman hukuman fisik dan penghinaan,” kata Pascal mengutip Arthur.

Keluarganya kemudian mengirim Arthur ke Austria dan menempuh pendidikan di sekolah Jesuit Stella Matutina di daerah Feldkirch untuk mempelajari bahasa Jerman dan memperluas wawasan akademis. Meski mendapat pendidikan Katolik sejak usia sangat dini, belakangan Arthur memutuskan untuk meninggalkan iman Katoliknya dan menjadi agnostik.

Setelah setahun di Austria, Arthur pulang ke Edinburgh. Ia melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Edinburgh sambil bekerja paruh waktu dan mendalami ilmu Botani di Royal Botanic Garden. Di masa inilah ia mulai menulis cerita pendek.

Sebagai penulis, ia sempat mengalami penolakan. Naskah pertamanya yang berjudul "The Haunted Grange of Goresthorpe", tidak dimuat oleh Blackwood’s Magazine. Baru pada 6 September 1879, naskah cerita fiksinya diterbitkan oleh Chambers Edinburgh Journal dengan judul "The Mystery of Sasassa Valley". Beberapa minggu kemudian, ia juga menerbitkan artikel akademis pertamanya berjudul "Gelsemium as a Poison" di British Medical Journal.

Meski cukup rajin menulis, namanya tidak langsung dikenal publik. Apalagi dalam cerita pendek penemuan kapal Mary Celeste ia anonim. Tapi kecerdikannya memopulerkan karakter Marie Celeste--satu-satunya orang yang selamat dalam kapal--membuat pembaca penasaran. Meski demikian, Marie Celeste bukan karakter yang benar-benar melambungkan namanya sebagai penulis fiksi misteri legendaris. Ia dikenal publik justru ketika menciptakan karakter Sherlock Holmes yang diakui sebagai gebrakan baru dalam sejarah penulisan cerita fiksi kriminal.


Sherlock Holmes dan Dr. Watson

Tiga tahun setelah "J. Habakuk Jepshson’s Statement" dipublikasikan, Arthur menerbitkan cerita fiksi kriminal yang berjudul A Study in Scarlet. Arthur yang kala itu berusia 27 tahun agak kebingungan mencari penerbit yang mau mengurus naskahnya. Namun naskah yang ia selesaikan dalam waktu sekitar tiga minggu itu akhirnya menarik perhatian Ward Lock & Co, penerbit yang berencana memublikasikannya pada 20 November 1886. Mereka membayar Arthur dengan upah £25 sebagai imbalan untuk hak penerbitan.

Naskah pertama yang menampilkan karakter Sherlock Holmes dan Dr. Watson itu diulas di Beeton’s Christmas Annual setahun kemudian, dan mendapatkan tanggapan yang positif di The Scotsman dan Glasgow Herald.

Robert Louis Stevenson, novelis Skotlandia, pernah mengirim surat pada Arthur yang menanyakan soal kemiripan karakter Holmes dengan Joseph Bell, teman lamanya yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Edinburgh. Belakangan Arthur memang mengakui dalam otobiografinya yang diterbitkan pada 1924, bahwa karakter Sherlock Holmes terinspirasi dari sosok Joseph Bell. Bagi Arthur, Bell merupakan mentor yang bisa melakukan penelitian dan deduksi ilmiah yang sangat cerdas.

Empat tahun kemudian, The Sign of Four, sekuel cerita Sherlock Holmes dipublikasikan oleh Lippincotts’s Magazine yang bekerjasama dengan Ward Lock & Co. Namun, penerbitan ini membuat Arthur merasa dieksploitasi. Ia akhirnya memutuskan berhenti bekerja di bawah naungan Ward Lock Company.


Infografik Mozaik Sir Arthur Conan Doyle
Infografik Mozaik Sir Arthur Conan Doyle. tirto.id/Sabit


Arthur kemudian menulis dan menerbitkan beberapa cerita pendek tentang Holmes secara independen di Stand Magazine. Seiring waktu, popularitas cerita detektif kriminal ini semakin melambung. Alih-alih gembira, Arthur justru jenuh dan ingin berhenti menulis tentang Holmes. Untuk itu ia bermaksud menghentikan permintaan menulis dengan mematok tarif tinggi bagi penerbit yang ingin memublikasikan naskahnya.

Di luar dugaan, banderol harga yang menjulang tidak menghentikan tawaran penerbitan yang terus berdatangan. Hasilnya, Arthur menjadi salah satu penulis fiksi dengan bayaran tertinggi pada masanya. Keuntungan finansial dan popularitas terbukti tidak menurunkan produktivitasnya. Hingga ia benar-benar ingin berhenti dan sengaja menulis cerita The Final Problem yang menampilkan kematian Holmes dan Profesor Moriarty di Reichenbach.

Namun, pada 1901 pembaca yang kecewa dengan berakhirnya cerita Holmes membuat Arthur kembali menampilkan novel The Hound of Baskervilles. Cerita pendek pun kembali ditulis dan secara keseluruhan Sherlock Holmes muncul di 56 cerita pendek dan 4 novel.

Terkesan oleh Sulap

Di luar urusan medis dan literatur, Arthur juga dikenal sebagai spiritualis dan meyakini hal-hal bernuansa mistik. Ia sempat berteman baik dengan Harry Houdini, pesulap Amerika. Dalam suatu acara di rumah temannya Bernard M. L. Ernst, Houdini melakukan pertunjukan. Arthur yang hadir sebagai penonton begitu terkesan dan yakin bahwa Houdini memiliki kemampuan supernatural.

Belakangan, meski Houdini berkali-kali meyakinkan Arthur bahwa penampilannya adalah ilusi dan trik yang dibuat sedemikian rupa, Arthur tidak pernah percaya. Dalam bukunya The Edge of the Unknown (1930), Arthur menuliskan kekaguman serta alasannya meyakini bahwa Houdini bisa tampil begitu mengesankan karena punya kekuatan magis.

Di sisi lain, Houdini justru sangat menolak hal-hal berbau magis. Sejak pertengahan 1920-an, terutama sejak kematian ibunya, Houdini menjadi tokoh publik yang menolak keras semua trik yang mengaku mengandalkan magis dan menyebut mereka penipu. Perbedaan pandangan ini akhirnya membuat hubungan Arthur dan Houdini merenggang.

Di masa tuanya, Arthur aktif dalam kegiatan filantropis. Pada 1926 ia ikut meletakkan batu pembangunan sebuah kuil untuk para spiritualis di London dan menyumbangkan £500 dari total kebutuhan £600 ongkos pembangunan.

Pada 7 Juli 1930, tepat hari ini 91 tahun lalu, Arthur ditemukan terdiam sambil memegang dadanya di aula Windlesham Manor, East Sussex. Ia meninggal karena serangan jantung di usia 71 tahun. Ia dimakamkan di taman mawar Windlesham pada 11 Juli, sebelum akhirnya dipindahkan ke halaman Gereja Minstead di New Forest, Hampshire.

Baca juga artikel terkait SHERLOCK HOLMES atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight