Sinopsis Film Sultan Agung Karya Hanung yang Tayang Mulai Hari Ini

Penulis: Sarah Rahma Agustin (Magang), tirto.id - 23 Agu 2018 16:55 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Film buatan Hanung Bramantyo ini mengisahkan sepak terjang Sultan Agung menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai berai oleh politik VOC, di bawah panji Mataram.
tirto.id - Sutradara Hanung Baramantyo kembali ke layar lebar dengan merilis sinema teranyar berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (selanjutnya disebut Sultan Agung). Film bergenre drama kolosal ini mulai tayang di bioskop seluruh Tanah Air hari ini, Kamis, 23 Agustus 2018.

Dalam film ini, Hanung mengangkat tokoh Sultan Agung yang selama ini digambarkan sebagai sosok yang ambisius dan kejam dalam literatur Belanda, salah satunya karena keputusannya menyerang Batavia.

"Saya harus gali lagi dari berbagai macam literatur. Saya temukan literatur dari kelompok Islam. Kerajaan Turki Osmani membuka literatur tentang kerajaan Islam. Ada alasan mengapa Sultan Agung harus menyerang Batavia," papar Hanung pada 13 Agustus lalu, seperti dikutip Antara.

Gelar Sultan Agung Hanyakrukusuma segera disandang Raden Mas Rangsang tepat selepas ayahnya, Panembahan Hanyokrowati, wafat. Bukan perkara mudah baginya untuk menggantikan peran sang ayah, terlebih saat itu ia masih remaja.

Sultan Agung (Ario Bayu) memiliki tugas besar yakni harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai-berai oleh politik VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen di bawah panji Mataram.

Di sisi lain, hati Sultan Agung tak lepas dari pergolakan. Ia harus mengorbankan cinta sejatinya kepada Lembayung (Putri Marino) dengan menikahi perempuan ningrat (Anindya Kusuma Putri) yang bukan pilihannya. Tentu bukan perkara gampang bagi Sultan Agung untuk menerima perempuan ningrat tersebut di hatinya.

Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui bahwa VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram dengan membangun kantor dagang di Batavia,” demikian penggalan cerita di film ini, seperti dilansir filmindonesia.or.id.

Sultan Agung lantas mengibarkan Perang Batavia sampai meninggalnya Coen dan runtuhnya benteng VOC. Dalam perjuangan ini, ia juga harus menghadapi berbagai pengkhianatan. Menjelang akhir hidupnya, Sultan Agung menghidupkan kembali padepokan tempatnya belajar, melestarikan tradisi dan karya-karya budaya Mataram.

Hanung mengungkapkan, meski menceritakan sosok legenda Tanah Air, film Sultan Agung tidak bisa menjadi rujukan sejarah. Dia berpendapat film ini hanya berfungsi mengembalikan ingatan anak-anak muda mengenai sosok Sultan Agung.

“Siap mukti utowo mati [menang atau mati] tanggal 23 Agustus 2018 di bioskop mulai jam 12 siang hingga jam 21.00 WIB,” tulis Hanung di akun Instagram pribadinya sehari sebelum film tayang.

Film berdurasi 148 menit tersebut diperankan sederet aktor dan aktris kenamaan Indonesia seperti Ario Bayu, Marthino Lio, Adinia Wirasati, Putri Marino, Lukman Sardi, Teuku Rifnu, Anindya Putri, Putri Marino dan Christine Hakim.

Untuk mendalami peran sebagai Sultan Agung, Ario Bayu mengaku buku-buku mengenai sang sultan dan tokoh-tokoh sejarah yang berkaitan dengan sosok sultan.

"Semangatnya menjadi sebuah alat saya untuk bisa riset mengenai beliau. Kok ada seorang yang punya semangat untuk membebaskan diri dari penjajah, penjajah yang mengambil bukan miliknya," ujar Ario dalam konferensi pers di Jakarta, pada 12 Agustus lalu.



Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Sarah Rahma Agustin (Magang)
(tirto.id - Film)

Penulis: Sarah Rahma Agustin (Magang)
Editor: Yuliana Ratnasari

DarkLight