tirto.id - Lima orang warga negara Mozambik dilaporkan tewas dalam gelombang kekerasan xenofobia di Afrika Selatan pada pekan lalu. Imbasnya, ratusan WN Mozambik di Afrika Selatan kini berusaha kembali pulang ke negara asal mereka demi mencegah korban bertambah.
Dinukil dari Al Jazeera, Pemerintah Mozambik secara resmi mengumumkan kematian lima warga negaranya akibat “serangan xenofobia” di Afrika Selatan. Hal ini diduga terjadi seiring meluasnya protes anti-migran di negara tersebut pada akhir pekan lalu.
“Tujuh warga negara Mozambik telah meninggal, lima di antaranya sebagai akibat langsung dari serangan xenofobia dan dua lainnya akibat kecelakaan lalu lintas, ketika bepergian dengan kendaraan pribadi dalam perjalanan kembali ke Mozambik,” bunyi pernyataan Pemerintah Mozambik pada Selasa (2/6/2026).
Seturut The Guardian, kepolisian Afrika Selatan juga telah mengonfirmasi tewasnya WN Mozambik dalam unjuk rasa anti-migran yang berujung pada kekerasan di Kota Mossel Bay sejak Jumat (29/5) lalu. Namun, WN Mozambik yang dikonfirmasi polisi telah tewas akibat kekerasan hanya berjumlah dua orang.
Pihak kepolisian Afrika Selatan melaporkan bahwa aksi protes itu menjadi penuh kekerasan ketika massa berupaya membakar puluhan gubuk ilegal berpenghuni di pesisi Mossel Bay. Seorang remaja Afrika Selatan juga tewas di tengah gelombang protes.
Lembaga penyiaran nasional SABC melaporkan bahwa kekerasan di Mossel Bay pecah karena munculnya tuduhan bahwa migran ilegal di sana telah dipekerjakan oleh perusahaan konstruksi setempat.
Wali Kota Mossel Bay Dirk Kotze menyebut dalam keterangannya pada akhir pekan lalu bahwa serangan xenofobia yang terjadi di kota tersebut membuat “orang-orang telah dibunuh, rumah-rumah dibakar, dan keluarga-keluarga mengungsi”.
Aksi protes yang berlangsung dengan kekerasan di Mossel Bay pada akhir pekan lalu merupakan protes anti-migran terbaru yang terus meluas di Afrika Selatan sejak beberapa pekan terakhir.
Dalam beberapa pekan terakhir, aksi penuh kekerasan serupa telah terjadi di sejumlah wilayah di Afrika Selatan. Protes anti-migran di negara itu meluas hingga Johannesburg, Durban, dan beberapa kota di Provinsi Eastern Cape.
Afrika Selatan sejak lama telah menjadi destinasi bagi para imigran di Benua Afrika untuk bekerja karena ekonominya yang maju. Namun, hal ini telah menyebabkan berkembangnya sentimen negatif kepada warga negara asing yang bekerja di negara itu.
Tak sedikit warga Afrika Selatan ikut dalam gelombang protes yang dipicu oleh anggapan bahwa imigran identik dengan pelaku kejahatan dan telah mengambil lapangan pekerjaan dari warga lokal. Stereotipe dan klaim tersebut juga turut disulut oleh partai-partai politik lokal untuk meraup simpati publik.
Seiring gelombang protes dengan kekerasan yang terjadi di Afrika Selatan, negara-negara macam Mozambik kini mulai melakukan upaya evakuasi warga negaranya yang terdampak fenomena ini.
Mozambik menyebut lebih dari 500 warga negaranya tengah menunggu proses evakuasi untuk pulang ke tanah kelahiran mereka.
“Lebih dari 500 orang yang tersisa telah ditampung di lokasi yang aman di Provinsi Western Cape, dan pada hari ini, 1 Juni, proses pemulangan mereka ke Mozambik sudah berlangsung,” bunyi keterangan pemerintah Mozambik pada Selasa.
Sebelumnya, Pemerintah Ghana juga memulangkan sekitar 300 warganya pada pekan lalu sebagai evakuasi di tengah gelombang kekerasan di Afrika Selatan. Nigeria juga dilaporkan telah mengumumkan rencana pemulangan serupa.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























