Menuju konten utama

Keluarga Harap Polda Sulsel Ungkap Tuntas Kematian Bripda DP

Dari hasil pemeriksaan awal, tubuh korban mengalami memar dan sempat mengeluarkan darah dari mulutnya.

Keluarga Harap Polda Sulsel Ungkap Tuntas Kematian Bripda DP
Ayah korban Aipda H Jabir menyampaikan keterangan pers terkait kasus dugaan kekerasan disertai penganiaayan anaknya Bripda DP diduga oleh seniornya di Asrama Polisi (Aspol) Kantor Polda Sulsel disela menunggu jenazah anaknya menjalani visum dan otopsi di ruang tunggu Biddokkes Polda Sulsel Rumah Sakit Bayangkara, Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2025) malam. ANTARA/Darwin Fatir
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keluarga almarhum Bripda DP mengharapkan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Selatan mengungkap kasus kematian korban serta memproses hukum para pelakunya. Bripda DP diduga menjadi korban tindakan kekerasan disertai penganiayaan oleh seniornya di Asrama Polisi Polda Sulsel sampai akhirnya meninggal dunia.

"Kami harap ini diproses. Meminta keadilan. Apabila ada penganiayaan, kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya," kata ayah korban, Aipda H. Jabir, di ruang tunggu Biddokkes Polda Sulsel Rumah Sakit Bayangkara, Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2026) malam.

Dari informasi yang diterima Antara, Bripda DP diduga mengalami penganiayaan pada Minggu (22/2/2026) usai salat subuh, setelah sahur. Belum diketahui apa penyebab penganiayaan itu.

Jabir mengatakan sempat berkomunikasi dengan anaknya beserta ibunya melalui telepon sebelum kejadian itu. Rencananya, akan dibawakan makanan bebek Palleko khas Pinrang sekaligus motornya diantarkan hari ini.

"Kemarin saya juga telepon untuk kasih naik motornya (diantarkan ke Polda). Dia juga chat ibunya, karena mau dibawakan Palleko dari Pinrang makan sama seniornya. Dia chat ibunya jam lima subuh, tapi saat di balas jam enam, sudah tidak ada jawaban," tutur Jabir.

Merasa ada sesuatu, Jabir lantas berusaha menelepon anaknya, namun tidak direspons. Kemudian, dia menghubungi rekan seangkatan DP untuk menanyakan posisi anaknya. Namun, dijawab dengan alasan masih tidur.

"Sempat saya hubungi temannya, tapi temannya beralasan semua masih tidur, saya minta dikasih bangun. Ternyata, dia (korban) barusan tidak tidur di baraknya. Dia tidur di kamar Danton (komandan pleton) waktu kejadian, dibangunkan dia. Dia dapat di kamar Danton (sudah) tergeletak," ucap Jabir lirih.

Kabar duka itu baru diterima sekitar pukul 07.00 WITA saat hendak tidur, setelah mendapat telepon dari letting-nya bahwa anaknya sudah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya. Awalnya, DP dikabarkan sakit. Namun, Jabir tidak percaya sebab anaknya kemarin baik-baik saja.

Saat tiba di RSUD Daya, korban sudah dinyatakan meninggal dunia.

Dari hasil pemeriksaan awal, tubuh korban mengalami memar dan sempat mengeluarkan darah dari mulutnya. Untuk kepentingan penyelidikan, jenazah korban di bawa ke Rumah Sakit Bayangkara untuk kepentingan visum dan otopsi

"Semenjak di sini (RS Daya) keluar darah terus dari mulut, dan indikasi ada yang mengatakan dibenturkan kepalanya, tapi tidak ada benturan di kepalanya. Tidak ada luka di kepala. Kalau memang murni di pukul kepala, pasti ada luka, tapi ini darah keluar dari mulut," tuturnya lagi.

Sejauh ini, hubungan dengan rekan-rekan baik-baik saja. Bripda DP adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Korban angkatan 53 diterima jadi polisi pada 2025 dan penempatan pertama pada Direktorat Samapta Sabhara Polda Sulsel.

Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Effendi, telah mendatangi Aipda Jabir di Biddokes Polda Sulsel untuk menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut.

"Tadi Kabid Propam langsung datang ke sini, langsung ke TKP ketemu. Kami selaku orang tua menyampaikan untuk usut tuntas sampai jelas, siapa yang melakukan penganiayaan, kalau memang ada penganiayaan. Sudah ada diperiksa, tiga orang letting-nya dan seniornya juga tiga orang," kata Jabir.

Sebelumnya, Zulham menyampaikan pihaknya telah memeriksa enam orang terkait kejadian itu. Pihaknya memastikan mengusut tuntas dan mengungkap pelakunya dan menegakkan aturan sesuai yang berlaku.

"Kejadiannya di asrama, dan kita berkomitmen kepada keluarganya untuk bertindak secara profesional. Tidak ada yang kita tutup-tutupi, dan semuanya terbuka secara transparan," ujar Zulham.

Proses visum dan otopsi berlangsung sekitar tujuh jam. Korban dibawa RSUD Daya dari pada pukul 13.40 WITA dan selesai pemeriksaan di ruang Biddokes pukul 21.50 WITA. Jenazah Bripda DP selanjutnya dibawa keluarganya ke rumah duka di Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Pinrang. Rencananya, proses pemakaman dilaksanakan upacara kedinasan di TPU Pincara, dihadiri Kapolda Sulsel beserta jajaran.

Baca juga artikel terkait KASUS KEKERASAN

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Fadrik Aziz Firdausi