tirto.id - Harga minyak melonjak pada awal perdagangan Senin (13/7/2026), setelah Iran memperluas serangan ke sejumlah negara di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS). Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasokan energi global dapat terganggu, terutama jika pengiriman melalui Selat Hormuz terdampak.
Pada pukul 23.11 waktu setempat, harga minyak mentah Brent berjangka naik 2,34 dolar AS atau 3,08 persen, menjadi 78,35 dolar AS per barel. Sedangkan, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,21 dolar AS atau 3,09 persen, ke level 73,62 dolar AS per barel.
Sebelumnya diberitakan, selama akhir pekan, Teheran memperluas serangannya ke Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), sementara Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Aksi tersebut menjadi babak terbaru dari rangkaian serangan dan serangan balasan yang dipicu oleh konflik terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (12/7/2026) mengatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran komersial. Namun, sebelumnya Iran menyatakan telah menutup selat tersebut setelah sebuah kapal melintas melalui jalur yang tidak disetujui dan kemudian menjadi sasaran serangan.
Berdasarkan data pelacakan kapal dari Kpler, hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu. Jumlah tersebut merupakan yang terendah dalam lima pekan terakhir.
Eskalasi serangan ini semakin memunculkan keraguan terhadap kelangsungan perjanjian sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani bulan lalu. Padahal, kesepakatan itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah kedua negara menjalani negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Tidak hanya itu, setelah kesepakatan tercapai, pasokan minyak global meningkat 4,1 juta barel per hari (bph) pada Juni. Meski demikian, angka itu masih lebih rendah 9,4 juta bph dibandingkan level sebelum perang, menurut laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) yang dirilis pada Jumat.
"Harapan akan tercapainya penyelesaian yang relatif cepat atas bentrokan-bentrokan terbaru kini mulai diragukan setelah ketegangan meningkat sepanjang akhir pekan," tulis analis ANZ dalam sebuah catatan riset, dikutip Reuters.
Sementara, analis pasar IG Tony Sycamore menilai kenaikan harga minyak yang relatif terbatas mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih memandang gejolak terbaru sebagai eskalasi di tengah gencatan senjata yang rapuh, bukan sebagai tanda runtuhnya kesepakatan gencatan senjata secara menyeluruh.
"Apakah pandangan tersebut benar-benar akurat masih harus dilihat perkembangannya," tulis Sycamore dalam sebuah catatan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




































