tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meluapkan kemarahannya di media sosial setelah Senat AS secara mengejutkan meloloskan resolusi kekuasaan perang. Keputusan bersejarah tersebut resmi memblokir dan memerintahkan pemerintahan Trump untuk menghentikan segala bentuk tindakan militer terhadap Iran.
Dalam unggahannya di media sosial X, Trump menyebut resolusi terkait Undang-Undang (UU) Kekuasaan Perang itu tidak tepat waktu dan tidak berarti di tengah negosiasi dengan Iran.
“Jadi, saya telah membuat Iran terpojok, siap untuk jatuh, bersedia memberi kita hampir apa pun, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, sangat menghormati Amerika Serikat dan Presidennya, Senat AS memutuskan untuk mengadakan pemungutan suara Undang-Undang Kekuasaan Perang yang tidak tepat waktu dan tidak berarti,” tulis Trump di X dikutip Rabu (24/6/2026).
Menurut Trump, resolusi itu seakan mengatakan kepada Iran yang disebutnya sebagai “sponsor teror nomor satu di dunia” bahwa Amerika Serikat tidak menyukai apa yang dia lakukan kepada negaranya.
“Dan saya harus berhenti, dan dengan melakukan hal itu telah memberikan bantuan dan dukungan kepada musuh,” lontarnya.
Trump juga mengecam empat anggota legislatif dari Partai Republik yang memilih bersama anggota legislatif dari Partai Demokrat untuk menyetujui resolusi tersebut. Menurutnya, senator Republik yang mendukung resolusi itu telah mempersulit pekerjaannya.
“Para Senator ini baru saja mempersulit pekerjaan saya, tetapi saya akan menyelesaikannya, dengan cara apa pun, karena saya selalu menyelesaikannya!” tukas Trump.
Sebagai informasi, pada Selasa (23/6/2026), untuk pertama kalinya Senat AS menyetujui resolusi kekuasaan perang yang bertujuan untuk memblokir aksi militer AS terhadap Iran. Para anggota parlemen dengan waspada juga mengamati upaya Trump untuk menyelesaikan konflik yang dilancarkan sendiri oleh pemerintahannya dan sekarang membutuhkan pendanaan dari Kongres.
Ini adalah kali ke-10 Senat mencoba menghentikan perang, dan hasilnya, dengan suara 50-48, disepakati sebuah perubahan yang mengejutkan dari serangkaian upaya sebelumnya.
Meskipun resolusi tersebut sebagian besar bersifat simbolis, dan tidak memiliki kekuatan hukum penuh, resolusi tersebut mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat dari sejumlah anggota parlemen Partai Republik di Kongres dan Senat mengenai perang dan kesepakatan yang dibuat Trump dengan Iran untuk mengakhirinya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































