tirto.id - Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Penurunan harga komoditas ini terjadi secara cepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran, yang seketika meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,21 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi 89,17 dolar AS per barel pada pukul 00.42 waktu setempat. Sedangkan, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,23 dolar AS atau 1,4 persen ke level 86,48 dolar AS per barel.
Secara mingguan, harga Brent tercatat turun 4,2 persen, sementara WTI mengalami penurunan sebesar 4,4 persen.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan menyerang Iran dengan "sangat keras", membatalkan rencana serangan tersebut pada Kamis (11/6/2026). Sebaliknya, Trump mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah menunjukkan perkembangan positif.
Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Fars melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui isi dari kesepakatan apa pun.
"Meski ini tentu saja bisa menjadi secercah harapan palsu lagi, respons pasar sejauh ini berlangsung cepat dan tegas," ujar analis pasar IG, Tony Sycamore dikutip Reuters.
Sementara pada Rabu (10/6/2026), Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan menyatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan menjadi sasaran serangan. Blokade Teheran terhadap selat tersebut, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, terus menjaga harga minyak tetap tinggi. Sebab, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Meski begitu, Militer Amerika Serikat menyatakan melalui media sosial bahwa kapal-kapal komersial masih terus melintasi jalur perairan tersebut.
Kendati harga minyak saat ini mengalami koreksi ke bawah, Sycamore menilai prospek kenaikan harga masih lebih dominan. "Selama harga minyak mampu bertahan di atas level dukungan pada kisaran awal US$80 per barel, risiko pergerakan harga tetap cenderung mengarah ke kenaikan," tambahnya.
Dalam analisis teknikal, level dukungan (support) merupakan batas harga yang diperkirakan cukup kuat untuk menahan tekanan jual lebih lanjut. Dengan kata lain, selama harga minyak tidak turun menembus kisaran tersebut, pasar masih melihat peluang harga kembali menguat di tengah ketidakpastian geopolitik yang berlangsung.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































