Menuju konten utama

Iran dan AS Saling Serang 2 Hari Terakhir, Situasi Memanas Lagi

Iran dan AS kembali saling serang setelah gencatan senjata gagal. Ketegangan meningkat, Selat Hormuz memanas, dan harga minyak dunia melonjak.

Iran dan AS Saling Serang 2 Hari Terakhir, Situasi Memanas Lagi
Sebuah perahu berada di lepas pantai provinsi Musandam, menghadap Selat Hormuz, di wilayah pemerintahan Musandam, Oman, 8 April 2026. (REUTERS/Stringer/File Photo)

tirto.id - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama sekitar tiga bulan kian memanas. Selama dua hari terakhir, kedua negara tersebut terlibat aksi saling serang kembali setelah sebelumnya menyepakati gencatan senjata.

Pada Kamis (11/6/2026), Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap target-target militer Iran, sedangkan Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia, seperti di Kuwait dan Bahrain.

Kenapa Iran dan AS Perang Lagi?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuduh Iran sengaja memperlambat proses negosiasi perdamaian. Trump menyatakan bahwa Iran telah berusaha mempermainkan AS, karena itulah mereka harus menanggung konsekuensinya.

“Iran hanya banyak bicara dan tidak bertindak. Si Penindas Timur Tengah telah MATI!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!” tulis Trump di akun Truth Social @realDonaldTrump pada 10 Juni 2026.

Tidak lama setelah pernyataan tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka melakukan serangan tambahan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri.

“Pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan pertahanan diri tambahan hari ini pukul 17.15 ET terhadap beberapa target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi. Serangan-serangan ini sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut,” tulis CENTCOM di akun X resmi mereka hari ini.

Berbeda dengan klaim AS yang menyebut serangannya ke Iran adalah sebuah serangan pertahanan diri, pihak Iran justru menuding bahwa Amerika Serikat lah yang melakukan serangan terhadap beberapa lokasi di wilayah selatan Iran, yaitu Jask, Sirik, dan Qeshm, pada Rabu (10/6/2026) dini hari.

“Rezim AS yang gemar berperang,” tuding Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikutip kantor berita IRNA (10/6/2026).

IRGC mengklaim bahwa serangan Amerika mengakibatkan kerusakan pada sebuah menara telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua reservoir atau tangki penyimpanan air di Distrik Bamani.

Kerusakan pada menara komunikasi dapat mengganggu koordinasi operasional di wilayah pesisir, sedangkan penghancuran fasilitas air dapat memengaruhi penduduk lokal serta unit militer yang bergantung pada pasokan tersebut.

Sebagai balasan, IRGC menyatakan bahwa pasukan Angkatan Lautnya melancarkan serangan drone terhadap Armada Kelima Amerika Serikat yang berbasis di Bahrain pada pukul 02.30 dini hari.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengeluarkan pernyataan yang bernada keras dengan mengindikasikan bahwa Washington siap menggunakan tekanan militer untuk memaksa Iran menerima syarat-syarat yang diajukan dalam perundingan, termasuk dengan bom.

"Kami akan bernegosiasi dengan bom, dan kami sangat mahir dalam hal itu," ucap Pete dikutip CNA, Kamis (11/6/2026).

Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Iran-AS Kembali Saling Serang

Setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul serangan udara Amerika Serikat, harga minyak mentah langsung melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel, dikutip Al Jazeera,Kamis (11/6/2026).

Kenaikan ini terjadi karena para pelaku pasar khawatir bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dapat menghambat pasokan energi dunia.

Harga minyak jenis Brent Crude naik 2,47 persen menjadi 95,40 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,89 persen menjadi 92,63 dolar AS per barel.

IRGC mengancam bahwa AS harus menanggung konsekuensi dari penutupan total Selat Hormuz.

"(Washington akan memikul tanggung jawab atas konsekuensi dari) penutupan penuh Selat Hormuz untuk ekspor minyak dan gas Anda," tegas IRGC.

Namun, CENTCOM secara langsung membantah klaim bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Mereka menyatakan bahwa kapal-kapal komersial masih terus keluar masuk selat tersebut pada malam yang sama.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra