Menuju konten utama

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Indonesia Pasok Minyak dari Afrika

Indonesia juga tengah bernegosiasi terkait pasokan migas dengan Venezuela dan negara-negara Amerika Latin.

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Indonesia Pasok Minyak dari Afrika
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno menjawab pertanyaan wartawan saat dia ditemui selepas pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah mantan menteri luar negeri, mantan wakil menteri luar negeri, mantan diplomat, ahli dan praktisi bidang hubungan internasional di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Arif Havas Oegroseno, memastikan pasokan minyak Indonesia masih relatif aman, meskipun akses pelayaran di Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran. Arif menyebut pasokan minyak tetap bisa didapat tanpa harus melintasi Selat Hormuz.

“Kalau mengenai masalah minyak, strategi kami itu adalah sekarang ini kita mendapatkan pasokan dari kawasan yang tidak memerlukan lewat Hormuz. Kita banyak kerja sama sekarang dengan Azerbaijan, Nigeria, Angola di Afrika. Jadi, banyak pasokan minyak dari Afrika,” kata Arif di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Bahkan, tambah Arif, Indonesia juga tengah melakukan negosiasi terkait pasokan minyak dan gas (migas) dengan Venezuela dan negara-negara Amerika Latin.

So far oke dan kita juga baru saja mendapatkan izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela. Kita akan memperkuat juga investasi di daerah-daerah sekitar Amerika Latin,” kata dia.

Dia pun mengatakan pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz karena dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga berbagai industri lain di tingkat global.

“Kalau itu, makro ekonomi global. Kami tinggal monitor makro ekonomi global itu seperti apa kondisinya. Kami memonitor banyak aspek karena dari sisi bisnis spesifik yang banyak terdampak kan migas, terus plastik, lalu pupuk. Ini berdampak global, bukan cuma hanya di satu kawasan saja,” ucapnya.

Selain itu, kata Arif, pemerintah tetap menjalin komunikasi dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan politik yang memengaruhi aktivitas pelayaran.

“Kalau komunikasi (dengan negara Timur Tengah), ada terus. Tapi, kondisi politiknya kan memanas sekarang ini,” tutur Arif.

Dalam kesempatan yang sama, dia menjelaskan salah satu hambatan utama kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz saat ini bukan hanya faktor keamanan, melainkan juga persoalan asuransi. Menurut dia, banyak perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz karena tingginya risiko konflik.

“Saat ini kondisinya adalah asuransi itu, asuransi kapal, tidak ada yang mau menanggung kalau dia masuk Selat Hormuz. Banyak sekali kapal yang tidak mau jalan karena memang asuransinya enggak mau meng-cover,” kata Arif.

Dia menambahkan, keputusan pelayaran juga dipengaruhi sejumlah faktor lain, mulai dari pertimbangan kapten kapal hingga pemilik muatan atau cargo owner.

“Ternyata industri kapal itu tidak sesederhana itu. Banyak sekali elemen-elemen yang harus align dan harus satu arah,” ujarnya.

Sebelumnya, komando militer tertinggi Iran kembali mengumumkan penutupan total jalur pelayaran Selat Hormuz untuk seluruh kapal tanker minyak dan niaga, Kamis (11/6/2026). Keputusan sepihak ini diambil menyusul serangan udara beruntun yang dilancarkan oleh militer Amerika Serikat di wilayah Iranbagian selatan.

Mengutip Reuters, Iran mengancam setiap kapal yang nekat melintasi area tersebut akan ditembak. Markas Besar Khatam al-Anbiya mengatakan rasa ketidakamanan di wilayah tersebut menjadi alasan penutupan Selat Hormuz.

Keputusan itu juga diambil menyusul adanya serangan di sejumlah wilayah Iran oleh Amerika Serikat. Serangan itu disebut berkelanjutan dan masih terjadi baru-baru ini.

Baca juga artikel terkait MINYAK DAN GAS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi