Menuju konten utama

Sektor SDA & Hilirisasi Sumbang 30% Investasi di Kuartal I 2026

Sulawesi Tengah tercatat sebagai lokasi realisasi investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp24,1 triliun.

Sektor SDA & Hilirisasi Sumbang 30% Investasi di Kuartal I 2026
Paparan capaian realisasi investasi bidang hilirisasi triwulan I 2026 yang disampaikan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (15/6/2026). Realisasi investasi hilirisasi tercatat sebesar Rp147,5 triliun, berkontribusi 29,6 persen dari total realisasi investasi nasional triwulan I 2026 sebesar Rp498,8 triliun. foto/Nanda Surya Shadan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sektor berbasis sumber daya alam (SDA) dan hilirisasi semakin mendominasi struktur investasi nasional. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi di sektor tersebut menyumbang hampir 30 persen dari total realisasi investasi nasional pada Kuartal I 2026.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan kontribusi sektor hilirisasi terhadap total realisasi investasi terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Sektor investasi sumber daya alam itu berkontribusi meningkat menjadi 30 persen dari total realisasi investasi yang masuk ke Indonesia pada triwulan pertama 2026 sebesar Rp147,5 triliun, naik 8,2 persen secara tahunan." kata Rosan Roeslani dalam rapat kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data BKPM, dari total realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp147,5 triliun, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp98,3 triliun atau sekitar 67 persen. Nikel juga masih menjadi komoditas utama dengan realisasi Rp41,5 triliun, diikuti tembaga Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, dan bauksit Rp13,7 triliun.

Selain sektor mineral, perkebunan dan kehutanan menyumbang Rp29,8 triliun, minyak dan gas bumi Rp17,7 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,7 triliun. Rosan menyebut pemerintah juga mendorong produk-produk hilirisasi bernilai tambah tinggi, seperti bioetanol dan produk berbasis kelapa untuk memperkuat struktur investasi nasional.

Dari sisi lokasi, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan I 2026 masih didominasi oleh wilayah luar Jawa dengan kontribusi Rp111,4 triliun atau 75,5 persen, jauh melampaui Jawa yang hanya Rp36,1 triliun atau 24,5 persen.

"Hilirisasi juga berkontribusi besar terhadap investasi di luar Jawa pada triwulan pertama 2026. Sekitar 75 persen investasi hilirisasi berada justru di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang menjadi pusat hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik." Kata Rosan.

Sulawesi Tengah tercatat sebagai lokasi realisasi investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp24,1 triliun, diikuti Maluku Utara Rp18,6 triliun, Jawa Barat Rp13 triliun, Nusa Tenggara Barat Rp12,9 triliun, dan Kepulauan Riau Rp9,6 triliun. Kedua provinsi yang berada di posisi teratas, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara, sama-sama merupakan kawasan utama pengembangan industri pengolahan nikel di Indonesia.

Dari sisi sumber pembiayaan, realisasi investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencapai Rp98,4 triliun atau 66,7 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi Rp49,1 triliun atau 33,3 persen. Singapura menjadi negara asal PMA hilirisasi terbesar dengan nilai Rp35,9 triliun, diikuti Hong Kong Rp22,9 triliun dan Cina Rp17,5 triliun.

Tren ini menunjukkan bahwa meski pergeseran investasi ke luar Jawa terus berlangsung sejalan dengan agenda hilirisasi nasional, sebaran lokasinya masih terkonsentrasi pada kawasan-kawasan yang menjadi sentra pengolahan nikel, sehingga belum sepenuhnya merata ke seluruh wilayah di luar Jawa.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fadrik Aziz Firdausi