Menuju konten utama

Sekjen ESDM Akui Cadangan Minyak Uganda Lebih Besar dari RI

Kecilnya cadangan minyak dan minimnya produksi minyak Indonesia cukup disayangkan, karena sebenarnya kebutuhan minyak domestik sangat tinggi.

Sekjen ESDM Akui Cadangan Minyak Uganda Lebih Besar dari RI
Suasana dari kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

tirto.id - Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana, mengakui cadangan minyak Indonesia kalah dari Uganda. Pasalnya, di saat Indonesia hanya memiliki cadangan minyak sebesar 6,8 miliar barel, negeri di Afrika Utara itu memiliki 6,5 miliar barel minyak, dengan 1,4 miliar barel yang dapat dipulihkan secara ekonomi.

“Anda memiliki lebih banyak minyak daripada kita? Tidak, sama sekali tidak. Kita memiliki 6,8 miliar barel cadangan minyak di negeri kita. Kita memiliki lebih sedikit dari itu,” kata dia, dalam Uganda-Indonesia Business Forum, di Park Hyatt Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Kecilnya cadangan minyak dan minimnya produksi minyak Indonesia cukup disayangkan, karena sebenarnya kebutuhan minyak domestik sangat tinggi, mencapai 532 juta barel per tahun. Karena itu, Dadan mengajak Uganda untuk bekerjasama dalam meningkatkan produksi minyak di Indonesia.

Kerja sama antarpemerintah (government to government/G2G) adalah salah satu opsi yang ditawarkannya dalam rangka peningkatan produksi ini. Dalam hal ini, pemerintah dapat bersama-sama mengembangkan regulasi, kebijakan dan insentif terkait pertambangan.

“Bagaimana menetapkan idenya, misalnya, untuk percepatan eksplorasi. Karena ini adalah industri yang berisiko tinggi,” imbuh dia.

Di sisi lain, kerja sama juga dapat dilakukan dengan memberikan dukungan pendanaan untuk melaksanakan aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi. Kata Dadan, karena minyak dan gas menjadi salah satu sektor dengan risiko tinggi, sulit bagi pemerintah maupun industri untuk mendapatkan investasi.

“Ini sangat sulit bagi kita dalam hal pembangunan Indonesia. Untuk mendapatkan dukungan pembiayaan bagi eksplorasi. Karena ini adalah hal yang masih sangat tinggi risikonya. Hal ini juga terjadi khususnya bagi mereka yang bergerak di bidang pertambangan,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Uganda untuk Malaysia, Betty Oyella Bigombe, mengatakan negaranya sedang berkembang pesat dalam hal pengembangan industri di sektor minyak dan gas. Dengan perkiraan 1,4 miliar barel minyak yang dapat dipulihkan, Uganda sedang melaksanakan proyek-proyek unggulan, termasuk jaringan pipa minyak mentah Afrika Timur dan kilang minyak modern.

“Di luar keempat sektor prioritas ini, Uganda memiliki potensi investasi yang kuat di bidang agroindustrialisasi, pengembangan mineral, manufaktur, energi terbarukan, farmasi, dan Infrastruktur,” katanya.

Baca juga artikel terkait UGANDA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra