Sejarah Indonesia

Sejarah Singkat Majapahit, Pusat Kerajaan, & Silsilah Raja-Raja

Oleh: Iswara N Raditya - 2 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit beberapa kali berpindah lokasi sepanjang sejarah berdiri hingga keruntuhannya.
tirto.id - Kerajaan Majapahit pernah menjadi bagian dari sejarah besar bangsa Indonesia di Nusantara. Pusat pemerintahan atau ibu kota kerajaan yang berdiri pada akhir abad ke-13 Masehi ini beberapa kali berpindah lokasi di Jawa Timur seiring era kepemimpinan raja-raja yang pernah berkuasa.

Pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara, -penguasa terakhir Kerajaan Singasari, yang terbunuh lantaran pemberontakan Jayakatwang pada 1292. Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dari insiden tersebut.

Inajati Adrisijanti dalam Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012) menuliskan, Raden Wijaya kemudian membuka hutan di delta Sungai Brantas. Desa inilah yang pada akhirnya berkembang pesat dan menjadi kerajaan dengan nama Majapahit.

Pendeklarasian berdirinya Kerajaan Majapahit dilakukan setelah Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang pada 1293. Setelah itu, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309).

Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan gelar Sri Rajasanagara (1350-1389) yang tidak lain adalah cucu Raden Wijaya. Kepemimpinan Hayam Wuruk amat kuat berkat dukungan dari Mahapatih Gajah Mada yang bertekad menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.



Pusat Kerajaan Majapahit

Pusat pemerintahan atau ibu kota Kerajaan Majapahit setidaknya pernah 3 kali berpindah tempat namun masih di wilayah Jawa bagian timur.

1. Mojokerto

Ibu kota pertama kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini adalah di Mojokerto pada masa kepemimpinan pendiri sekaligus raja pertama, Raden Wijaya alias Kertarajasa Jayawardhana.

Dikutip dari Kumpulan Sejarah Desa Kabupaten Mojokerto (2020) suntingan Evi Sudyar, pada masa itu ibu kota Majapahit disebut dengan nama Kutaraja dan terletak tidak jauh dari pelabuhan besar bernama Canggu di tepi Sungai Brantas.

Selain sebagai pusat perniagaan atau bandar dagang, lokasi Canggu yang masih berada di wilayah Kutaraja sangat strategis untuk difungsikan sebagai sebagai pangkalan militer armada angkatan laut Kerajaan Majapahit yang memang amat kuat saat itu.

2. Trowulan

Pusat pemerintahan Majapahit bergeser sedikit pada masa kepemimpinan Sri Jayanegara (1309-1328), penerus takhta Raden Wijaya. Raja kedua Majapahit ini memindahkan ibu kota ke Trowulan yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Mojokerto sekarang.

Kitab perjalanan Cina bertajuk Yingyai Shenglan yang ditulis oleh seorang penjelajah bernama Ma Huan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 M adalah di Trowulan.

Dikutip buku terjemahan J.V.G Mills (1970), disebutkan bahwa kawasan itu merupakan kota yang sangat besar tempat raja bersemayam.

Sejumlah situs yang merupakan peninggalan peradaban Majapahit yang ditemukan di Trowulan juga semakin menguatkan peran tempat tersebut sebagai bekas ibu kota kerajaan yang pernah mengalami masa-masa yang amat jaya.

Trowulan menjadi pusat pemerintahan Majapahit dalam waktu yang cukup lama. Dari era Sri Jayanegara yang bertakhta sejak tahun 1309 hingga menjelang keruntuhan kerajaan ini pada abad ke-16 Masehi.

Para pemimpin ternama seperti Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, Ratu Suhita, hingga Bhre Kertabumi alias Brawijaya V pernah memimpin kerajaan dari Trowulan.


3. Daha (Kediri)

Lantaran berbagai polemik internal dan ancaman serangan dari Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, posisi Majapahit semakin terdesak pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi atau Brawijaya V (1468-1478).

Kala itu, pengaruh Islam memang sedang berkembang pesat di Jawa sehingga muncul Kesultanan Demak yang didirikan oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama Raden Patah. Raden Patah adalah putra kandung Brawijaya V dari istri seorang wanita berdarah Cina bernama Siu Ban Ci.

Pada masa-masa genting inilah ibu kota Majapahit terpaksa dipindahkan dari Trowulan ke Daha yang merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri (Kediri) oleh Girindrawardhana atau Brawijaya VI (1478-1489).

Tahun 1517, pasukan Kesultanan Demak menyerang Daha yang membuat perekonomian Kerajaan Majapahit lumpuh. Serangan tersebut dipimpin oleh Pati Unus (1488-1521), Sultan Demak kedua yang merupakan menantu Raden Patah.

Satu dekade berselang, tahun 1527, Kesultanan Demak kembali menyerbu Daha, di bawah komando Sultan Trenggana di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana (1521-1546), penguasa Demak ketiga yang juga adik Pati Unus.

Serangan dari pasukan perang Kesultanan Demak kali ini benar-benar membuat Daha jatuh sekaligus menghancurkan Majapahit. Kerajaan pernah sangat perkasa di Nusantara ini akhirnya menuai keruntuhan untuk selama-lamanya.


Perpindahan Pusat Kerajaan Majapahit

  1. Mojokerto pada era Raden Wijaya (1293-1309)
  2. Trowulan pada era Sri Jayanagara (1309-1328)
  3. Daha atau Kediri pada era Brawijaya VI (1478-1489)

Daftar Raja-Raja Majapahit

  • Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)
  • Kalagamet/Sri Jayanagara (1309-1328)
  • Sri Gitarja/Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
  • Hayam Wuruk/Sri Rajasanagara (1350-1389)
  • Wikramawardhana (1389-1429)
  • Suhita /Dyah Ayu Kencana Wungu (1429-1447)
  • Kertawijaya/Brawijaya I (1447-1451)
  • Rajasawardhana/Brawijaya II (1451-1453)
  • Purwawisesa /Girishawardhana/Brawijaya III (1456-1466)
  • Bhre Pandansalas/Suraprabhawa/Brawijaya IV (1466-1468)
  • Bhre Kertabumi/Brawijaya V (1468 -1478)
  • Girindrawardhana/Brawijaya VI (1478-1489)
  • Patih Udara/Brawijaya VII (1489-1527)

Baca juga artikel terkait KERAJAAN MAJAPAHIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight