Sejarah Indonesia

Sejarah Hidup Jayakatwang: Akhiri Singasari, Dibalas Raden Wijaya

Oleh: Iswara N Raditya - 5 Agustus 2021
Dibaca Normal 4 menit
Pemberontakan Jayakatwang tahun 1292 Masehi mengakhiri sejarah Kerajaan Singasari sekaligus memungkasi riwayat Maharaja Kertanegara.
tirto.id - Pemberontakan Jayakatwang tahun 1292 Masehi mengakhiri sejarah Kerajaan Singasari sekaligus memungkasi riwayat raja terbesarnya, Maharaja Kertanegara. Setahun berselang, Jayakatwang dibalas oleh menantu Kertanegara, yakni Raden Wijaya, yang kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit pada 1293 M.

Jayakatwang adalah Bupati Gelang-gelang (kini sekitar Madiun) yang merupakan bagian dari wilayah Kadiri (Kediri) atau Panjalu, sedangkan Kadiri termasuk taklukkan Kerajaan Singasari (berpusat di Malang).

Gara-gara dendam dan termakan hasutan, Jayakatwang kemudian memberontak terhadap Maharaja Kertanegara demi membangkitkan kembali Kerajaan Kadiri yang berpusat di Daha.

Ketika Jayakatwang memberontak, kekuatan militer Singasari belum sempurna karena sebagian besar pasukannya masih dalam perjalanan pulang dari Ekspedisi Pamalayu (Sumatera).

Alhasil, Jayakatwang sukses melancarkan gerakan pembangkangan dengan meruntuhkan Kerajaan Singasari sekaligus menewaskan Kertanegara.


Siapa Itu Jayakatwang?

Dikutip dari buku Konflik Berdarah di Tanah Jawa (2008) karya Raka Revolta, Jayakatwang juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Sanjaya, Aji Katong, Jayakatyeng, dan dalam catatan Cina ia disebut sebagai Ha-ji-ka-tang.

Berdasarkan Kitab Negarakertagama dan Kidung Harsawijaya, disebutkan bahwa Jayakatwang merupakan keturunan dari raja terakhir Kerajaan Panjalu atau Kadiri, Kertajaya, yang pada 1222 M dikalahkan Ken Arok bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, pendiri Kerajaan Singasari.

Setelah Kertajaya terguling, berakhir pula riwayat Kerajaan Kadiri. Sejak saat itu, Kadiri menjadi wilayah taklukan Kerajaan Singasari yang dipimpin oleh Ken Arok. Untuk mengelola Kadiri yang harus mengabdi kepada Singasari, ditunjuklah Jayasabha, putra Kertajaya.

Jayasabha meninggal dunia pada 1258 M. Kedudukan Jayasabha di Kadiri dilanjutkan oleh anak lelakinya, Sastrajaya. Sastrajaya inilah ayah dari Jayakatwang yang diberi kedudukan di Gelang-gelang sebagai bupati sejak 1255 M.

Dari sini dapat ditelisik alasan Jayakatwang memberontak terhadap Kertanegara. Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang masih menyimpan dendam terhadap Singasari atas runtuhnya Kerajaan Kadiri oleh Ken Arok di masa silam.


Hubungan Jayakatwang & Kertanegara

Belum diketahui dengan pasti kapan Jayakatwang dilahirkan. Namun, antara Jayakatwang yang merupakan keturunan Kerajaan Kadiri dan Maharaja Kertanegara dari Kerajaan Singasari masih terjalin hubungan kekerabatan, yakni besan, ipar, sepupu, sekaligus keponakan.

Ratna Rengganis dalam Sosok di Balik Perang (2013) menyebutkan, Jayakatwang dan istrinya, Nararya Turukbali, memiliki putra bernama Ardharaja yang nantinya menikah dengan salah putri Maharaja Kertanegara dari Singasari. Dengan kata lain, Jayakatwang dan Kertanegara adalah besan.

Sedangkan menurut Prasasti Mula Manurung dengan angka tahun 1255 M yang ditemukan di Kediri, istri Jayakatwang yakni Nararya Turukbali adalah putri dari Wisnuwardhana yang merupakan Raja Singasari sebelum dilanjutkan oleh putranya, Kertanegara.

Dengan demikian, Nararya Turukbali dan Kertanegara adalah saudara satu ayah. Artinya, Jayakatwang merupakan ipar dari Kertanegara.

Selain itu, Jayakatwang dan Kertanegara juga punya hubungan sebagai saudara sepupu. Pasalnya, masih berdasarkan Prasasti Mula Manurung, ibunda Jayakatwang dan ayahanda Kertanegara (Wisnuwardhana) adalah kakak beradik.


Pemberontakan Jayakatwang

Kekuatan militer Kerajaan Singasari yang belum utuh sepenuhnya lantaran sebagian pasukannya masih dalam perjalanan pulang dari Ekspedisi Pamalayu (Sumatera) membuka peluang bagi Jayakatwang untuk memberontak.

Dendam lama terhadap leluhur Kertanegara, Ken Arok, yang telah menjungkalkan buyut Jayakatwang, Kertajaya, sekaligus mengubur riwayat Kerajaan Panjalu alias Kadiri, bakal bisa dituntaskan.

Selain itu, keputusan Jayakatwang memberontak juga merupakan hasutan dari Aria Wiraraja. Dikutip dari Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan (1965), Wiraraja diduga kuat sebagai aktor intelektual terjadinya pemberontakan yang mengakhiri sejarah Kerajaan Singasari tersebut.

Aria Wiraraja adalah mantan pejabat tinggi di Kerajaan Singasari. Namun, oleh Kertanegara ia dimutasi ke Sumenep, Madura, lantaran sering menentang kebijakan raja. Tak heran jika Aria Wiraraja juga menyimpan kekesalan terhadap Kertanegara.


Dalam Sejarah Politik dan Kekuasaan (2019) yang disusun oleh Tappil Rambe dan kawan-kawan dikisahkan, serangan pasukan Jayakatwang dilancarkan antara pertengahan Mei hingga Juni 1292 M. Atas saran para penasihatnya, termasuk Arya Wiraraja, serangan ke Singasari itu akan dibagi menjadi dua arah.

Serangan pertama dilakukan dari arah utara untuk menyebarkan ketakutan terhadap rakyat maupun warga istana Singasari. Serangan ini dijalankan oleh pasukan kecil yang diberi nama Jaran Guyang. Adapun serangan kedua dilancarkan dari selatan, diperkuat oleh pasukan yang lebih besar.

Untuk meredam ketakutan rakyat atas serangan Jayakatwang dari arah utara, Kertanegara memerintahkan menantunya, Raden Wijaya, untuk menumpasnya. Pasukan pimpinan Raden Wijaya dengan mudah bisa mengalahkan Jaran Guyang, namun itu ternyata jebakan.


Ketika pertahanan di ibu kota Singasari semakin lemah karena pasukan Raden Wijaya dikirim ke utara, Jayakatwang mengerahkan pasukan kedua dari arah selatan dengan kekuatan yang lebih besar. Tujuannya: merebut kekuasaan Singasari dan Maharaja Kertanegara.

Pasukan Jayakatwang berhasil menduduki istana, bahkan Kertanegara terbunuh dalam peristiwa tersebut yang sekaligus memungkasi riwayat Kerajaan Singasari dan menuntaskan dendam lama.

Setelah merobohkan Singasari, Jayakatwang kemudian membangkitkan Kerajaan Panjalu atau Kadiri, kerajaan leluhurnya yang dulu dihabisi oleh nenek moyang Kertanegara.


Pembalasan Raden Wijaya: Berdirinya Majapahit

Pasukan pimpinan Raden Wijaya tercerai-belai setelah mengetahui Singasari jatuh dan Maharaja Kertanegara tewas. Bersama pengikut setia yang masih tersisa, menantu Kertanegara ini melarikan diri ke dalam hutan rimba di sekitar aliran Sungai Brantas, di sekitar Mojokerto.

Inajati Adrisijanti dalam Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012) menuliskan, Raden Wijaya kemudian membuka hutan di dekat Sungai Brantas itu.

Sembari memulihkan kondisi, Raden Wijaya menggalang bantuan untuk menyerang balik Jayakatwang. Ada beberapa kerajaan kecil yang bersedia membantu Raden Wijaya.

Kebetulan, saat itu datang pasukan Mongol ke Jawa yang ingin memberi hukuman kepada Kertanegara. Raja Kertanegara pernah mengusir utusan Kubilai Khan dari Kekaisaran Mongol yang menghendaki Singasari tunduk namun ditolak mentah-mentah.

Raden Wijaya kemudian menemui pasukan Mongol tersebut serta mengatakan bahwa Kertanegara telah tewas dan sebagai penggantinya adalah Jayakatwang.

Oleh Raden Wijaya, pasukan Mongol diajak bergabung untuk membasmi Jayakatwang, yang dikira merupakan penerus Kertanegara.


Seperti dikisahkan kembali oleh Ratna Rengganis dalam Sosok di Balik Perang (2013), penyerbuan ke Daha atau Kediri dilakukan pada Maret 1293 M dan peperangan berlangsung selama belasan hari.

Jayakatwang yang memiliki 10.000 prajurit ternyata tidak kuasa menahan gempuran pasukan gabungan di bawah komando Raden Wijaya. Terlebih, pasukan Mongol dipersenjatai dengan meriam yang membuat tentara Jayakatwang kocar-kacir.

Kemenangan diperoleh pasukan gabungan Raden Wijaya. Jayakatwang meregang nyawa dalam rangkaian pertempuran itu.

Pembalasan dendam Raden Wijaya untuk mertuanya, Maharaja Kertanegara, tuntas sudah. Kerajaan Panjalu atau Kadiri yang belum setahun berdiri kembali harus terkubur lagi.

Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol dan menghancurkan mereka.

Usai itu, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 dengan pusat pemerintahan di Mojokerto, yang tidak lain adalah penerus kekuasaan Singasari.


Baca juga artikel terkait KERAJAAN SINGASARI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight