tirto.id - Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (BBPPPKS) di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipadati ratusan orang pagi ini, Senin (14/7/2025). Balai ini jadi lokasi sementara program Sekolah Rakyat (SR) Menengah Atas 19 pada hari pertama.
Salah satu orang tua siswa, Rukijan (56), mengaku menaruh harapan besar untuk anaknya di hari pertama masuk Sekolah Rakyat. Rukijan berharap agar anaknya dapat menempuh pendidikan dengan baik melalui program ini.
“Harapannya anak bisa mantap belajar di sini, apalagi ini kan ada asrama jadi ada temennya sama yang lain juga,” tutur Rukijan saat ditemui kontributor Tirto di halaman SR 19 Bantul, pada Senin (14/7/2025).
Di sisi lain, ia ingin program serupa bisa berlanjut untuk jenjang pendidikan tinggi. “Kalau bisa, nanti sampai kuliah lah gitu, terus terang ekonomi saya kecil jadi harapan saya seperti itu biar anak pemikiran maju,” ucapnya.
Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tersebut mengaku tidak keberatan, bila putra ketiganya harus tinggal di asrama. Menurutnya, dengan tinggal di asrama, akan membuat sang putra bekerja keras dalam belajar dan punya pengalaman hidup lebih mandiri.
Saat mengantarkan anak ketiganya, yakni Soleh, Rukijan mengaku hanya mempersiapkan baju yang nanti dipakai sehari-hari.
“Kalau dari rumah cuman bawa baju untuk dipake harian itu, tadi dikasi sangu sama budenya kalau saya belum mengeluarkan uang sepeser pun,” ungkap Rukijan.
Sementara itu, salah satu siswi Sekolah Rakyat, Kurnia Fita Anggarani yang berasal dari SMP Muhammadiyah Imogiri mengaku bersedia masuk di SR untuk dapat meringankan beban orang tuanya secara ekonomi.
“Karena ingin mengurangi beban orang tua karena bapak kerja jadi kuli pasir di Sleman, ibu kerja bikin bakso di Srumbung, Magelang,” ucap Fita.
Fita mengungkap, ada perasaan sedih harus berpisah dengan orang tua. Namun, hal tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk melanjutkan sekolah.
“Nanti pengen lanjut kuliah di Gadjah Mada (UGM), harapannya bisa lulus dengan baik,” lanjut Fita.
Di sisi lain, calon Kepala Sekolah Rakyat (SR) 19 Bantul, Agus Ristanto menjelaskan bahwa para siswa bisa pulang ke rumah dua minggu sekali. Tersedia pula fasilitas transportasi dari Kemensos yang akan mengantar dan menjemput siswa dari titik kumpul ke sekolah.
“Jadi mungkin hanya titik kumpul saja sampai disini, nanti akan didampingi oleh PKH setempat,” tutup Agus.
Sebagai informasi, ada dua SR di wilayah DIY dengan kapasitas 275 siswa. Sebanyak 200 siswa ditempatkan di SR 19 BBPPKS, Sonosewu, Bantul. Sementara 75 lainnya, akan menempuh pembelajaran di SR 20 Purwomartani, Sleman.

Hari Pertama, Siswa Cek Kesehatan dan MPLS
Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, mengatakan hari pertama
sekolah diawali dengan cek kesehatan. Skrining dilakukan untuk menilik kesehatan siswa yang memiliki latar belakang berasal dari keluarga miskin ekstrem.
“Jadi cek kesehatan ini bukan kalau ada penyakit tidak diterima, tidak mengugurkan mereka di SR,” jelas Endang.
Endang menjelaskan, tujuan skrining kesehatan untuk mengetahui sisi kesehatan siswa dalam pendampingan di asrama hingga di ruang kelas.
Lebih lanjut, kata Endang, siswa akan melaksanakan masa orientasi selama dua bulan untuk mengenal lingkungan lebih mendalam.
“Untuk mengenal aturan-aturan sekolah, ini butuh waktu untuk semuanya, dimasa orientasi ini pendidikan karakter sudah berjalan,” kata Endang.
Mengenai gedung dua SR di DIY saat ini, Endang mengungkapkan masih dalam masa transisi.
“Penyiapan gedung, sarana prasarana, perekrutan tenaga pendidik, kepala sekolah, murid tentunya semuanya lari bersama dan ini nantinya ada yang permanen,” ujarnya.
Endang berharap Pemda DIY menyiapkan lahan untuk bangunan Sekolah Rakyat yang permanen.
Sependapat dengan hal itu, Staff Ahli Gubernur DIY Bidang Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan, Didik Wardaya mengatakan Pemda DIY sedang mempersiapkan area untuk bangunan SR yang permanen.
“Seperti idealisme sebuah sekolah yang diharapkan oleh pak Presiden, di DIY itu bisa menyediakan, mudah-mudahan segera bisa terwujud,” kata Didik kepada awal media, Senin.
Didik bilang, rencananya lokasi bangunan di Muyodan, Sleman. Kendati begitu, terkait titik lokasi tepatnya belum dapat dijelaskan lebih lanjut. Rencananya, kedua Sekolah Rakyat akan menjadi satu yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





























