SDF Umumkan Kemenangan Atas ISIS di Suriah

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
SDF mengumumkan kemenangan atas ISIS di Suriah, tetapi pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi belum ditemukan.
tirto.id - SDF mendeklarasikan kemenangan mereka atas wilayah teritori ISIS di Suriah pada Sabtu (23/3/2019), setelah pertempuran sengit di Baghouz selama beminggu-minggu. Deklarasi kemenangan ini menjadi akhir perjuangan selama bertahun-tahun dalam menumpas Militan ISIS di Suriah.

Mustafa Bali, ketua media SDF menyatakan melalui akun Twitternya, “Syrian Democratic Forces mendeklarasikan eliminasi total dari Khalifah dan kekalahan 100 persen wilayah teritori ISIS. Di hari spesial ini, kami memperingati ribuan martir yang berkat usaha mereka, membuat kemenangan adalah sesuatu yang mungkin.”

Melansir Aljazeera, tanah lapang Baghouz dipenuhi dengan sisa-sisa pertempuran; parit-parit terabaikan dan kawah bom, tenda rusak dan rongsokan selongsong peluru dan metal.

Robekan bendera hitam ISIS terbenam di pasir, sedangkan bendera kuning milik Syrian Democratic Forces (SDF) berkibar di atas bangunan.

Melalui akun twitter Bali, SDF juga telah membebaskan keluarga yang merupakan warga biasa di Baghouz yang selama ini merasa tidak aman karena teror dari ISIS dan terganggu karena pertempuran antara ISIS dan SDF.

“Setelah pengorbanan bertahun-tahun, dunia boleh berbangga karena Negara Khalifah telah hancur dan kami memperbaharui ikrar kami untuk melanjutkan perang dan mengejar [Daesh] yang tertinggal hingga habis seluruhnya,” cuitnya.


Meskipun perjuangan selama beberapa minggu di Baghouz telah membebaskan ratusan keluarga, ribuan pejuang ISIS menyerah, dan ribuan lainnya terbunuh, pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi belum diketahui keberadaannya.

Hingga saat ini, Baghdadi tidak diketahui masih hidup atau justru bersembunyi. ISIS, yang memiliki sekitar 8 juta pengikut yang menyebut diri mereka Khalifah diduga masih memiliki cadangan pasukan yang tersembunyi dan sel-sel tidur (sleeper cells) di sepanjang Suriah dan Irak.

Masih menurut Aljazeera, afiliasi ISIS di Semenanjung Sinai, mesir, Afganistan, dan negara lainnya masih menjadi ancaman bagi dunia. Kelompok ini juga mengadopsi serangan serigala tunggal; yaitu serangan individual seperti bom bunuh diri, yang jika tertangkap tidak akan melibatkan pemimpin atau kelompok sehingga pelacakan pihak berwajib sulit dilakukan.

Dominasi ISIS atas Suriah dan Iraq telah terjadi pada 2014. ISIS mengontrol 34 ribu mil persegi (sekitar 88,5km persegi) dari pesisir Mediterania hingga sebelah utara Kota Baghdad. Pada 2016, wilayah kekuasaan ISIS berkurang menjadi sekitar 23 ribu mil persegi, seperti dilansir CNN.

Pada tahun 2015, ISIS dipercaya menawan 3,5 ribu orang untuk dijadikan budak, berdasarkan laporan PBB. Sebagian besar budak sebagian besar adalah wanita dan anak-anak dari komunitas Yazidi, dan sebagian lainnya dari etnis dan agama minoritas di wilayah kekuasaan ISIS tersebut.

Pendapatan ISIS berasal dari produksi minyak (ISIS menguasai wilayah penghasil minyak bumi), pajak ke warga lokal, perampokan, dan penculikan, serta menjual barang-barang artefak curian, pemerasan dan penguasaan hasil bumi.

Di wilayah kekuasaannya, ISIS menerapkan versi hukum Islam yang kejam, tanpa ampunan yang melakukan pemenggalan dan penyaliban di depan publik kepada yang bersalah dan menjalankan peran pemerintahan seperti mengatur harga pasar dan memperbaiki insfrasruktur.

Di wilayah Baghouz, kelompok khalifah ini juga menggunakan ribuan warga sipil termasuk wanita dan anak-anak sebagai tameng manusia untuk bersembunyi dari SDF dan pasukan Kurdish.

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Politik)

Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yantina Debora
DarkLight