Menuju konten utama

Satgas PRR Fokus Pacu Perbaikan Jalan dan Jembatan di Sumatera

Sampai 10 Maret 2026, semua ruas jalan nasional yang terdampak bencana Sumatera telah pulih. Untuk jalan daerah, 90 persen telah kembali berfungsi.

Satgas PRR Fokus Pacu Perbaikan Jalan dan Jembatan di Sumatera
Jembatan Bailey Teupin Reudep di Bireuen, Aceh. (FOTO/dok.Kemendagri)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perbaikan jalan serta jembatan yang masih bersifat fungsional (sementara) saat ini menjadi fokus pemulihan konektivitas kawasan yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan upaya tersebut melanjutkan percepatan pemulihan infrastruktur dasar yang sudah menunjukkan hasil signifikan di berbagai daerah.

Tito mengatakan sebagian besar jalan nasional dan jalan provinsi di wilayah terdampak kini sudah dapat digunakan kembali sehingga aktivitas masyarakat menjadi lebih lancar. Seiring pulihnya jaringan transportasi, mobilitas warga dan distribusi logistik mulai kembali normal.

“Secara fungsional [jalan] sudah relatif normal. Jalan nasional dan jalan provinsi sudah bisa digunakan. Hanya ada satu di Lokop menuju Blangkejeren,” kata Tito di Banda Aceh, Jumat (6/3/2026) lalu.

Hingga 10 Maret 2026, dari 2.520 ruas jalan daerah yang terdampak bencana di 3 provinsi, sebanyak sebanyak 2.277 ruas jalan atau 90 persen telah kembali berfungsi. Seluruh ruas jalan nasional yang sempat terdampak juga telah pulih sehingga konektivitas antarwilayah via jalur utama dapat terhubung.

Adapun dari 1.180 jembatan daerah yang terdampak bencana, 790 di antaranya atau 67 persen sudah pulih. Seluruh jembatan di jaringan nasional juga telah kembali beroperasi.

Pemerintah pun telah memulihkan layanan dasar seperti listrik dan jaringan komunikasi di berbagai wilayah terdampak. Khusus desa yang belum teraliri listrik memperoleh bantuan genset agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Seiring pulihnya banyak infrastruktur dasar, aktivitas ekonomi warga bergeliat. Pasar-pasar yang sebelumnya terdampak banjir dan kerusakan infrastruktur pun kembali dibuka.

Fokus pemerintah saat ini mengedepankan penanganan sejumlah infrastruktur penghubung yang masih bersifat fungsional, terutama jembatan darurat. “Dalam pemulihan nanti, yang dipermanenkan adalah jembatan, kemudian jalan-jalan yang kini masih bersifat fungsional,” kata Tito.

Guna mempercepat pemulihan konektivitas di daerah bencana, pemerintah menggerakkan petugas dari banyak unsur, termasuk TNI-Polri melalui Satgas Jembatan. Fokusnya adalah membangun jembatan darurat di sejumlah titik terisolasi untuk membuka kembali akses antarwilayah yang sempat terputus akibat bencana.

Total lebih dari 150 jembatan darurat sudah dibangun dengan berbagai tipe: Bailey, Armco, hingga jembatan perintis. Puluhan jembatan lainnya masih dalam proses pembangunan.

Tito menambahkan, beberapa daerah di Aceh masih membutuhkan tambahan unit huntara karena jumlah pengungsi yang relatif besar. Maka dari itu, pemerintah akan mempercepat pembangunan hunian sementara agar target relokasi pengungsi dari tenda segera tercapai.

"[Huntara] Yang masih kurang itu akan dibangun dan dipercepat. BNPB siap, Menteri PU siap, Danantara juga siap," ujar Tito.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis