Menuju konten utama

Salah, Aphelion pada Juli 2026 Sebabkan Suhu Jadi Lebih Dingin

Menurut NASA maupun BMKG, fenomena Aphelion tidak berpengaruh banyak dalam menentukan musim atau suhu di permukaan Bumi.

Salah, Aphelion pada Juli 2026 Sebabkan Suhu Jadi Lebih Dingin
HEADER periksa fakta Fenomena Aphelion. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Beredar sebuah unggahan di platform media sosial Facebook yang menyebutkan bahwa pada Juli 2026 ini akan terjadi fenomena astronomi Aphelion yang menyebabkan suhu di Bumi menjadi lebih dingin.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama β€œLoli Sulainah” (arsip) pada Senin (29/6/2026) lalu. Dalam narasi unggahannya, akun tersebut menuliskan bahwa fenomena Aphelion akan terjadi pada 6 Juli 2026, tepat pada pukul 13.31

β€œBentar lagi masuk bulan Juli dan biasanya di bulan Juli itu Matahari sama Bumi lagi marahan terus matahari menjauh deh dari Bumi dan akhirnya suhu di Bumi jadi dingin Brrrrrrr πŸ₯ΆπŸ₯Ά,” begitu bunyi keterangan unggahan tersebut.

Lebih lanjut, akun tersebut menyatakan bahwa pada saat terjadi fenomena Aphelion, posisi Matahari akan berada pada 94 juta mil jauhnya dari Bumi. Posisi itu disebut 3 juta mil lebih jauh jika dibandingkan saat Bumi berada pada posisi terdekat dengan matahari (perihelion).

Sampai dengan artikel ini ditulis pada Rabu (8/7/2026), unggahan tersebut sudah mendapatkan 16 likes dan 30 komentar. Salah satu komentar menanggapi unggahan itu dengan mengatakan bahwa suhu dingin sudah mulai terasa di wilayahnya.

β€œPagi ini dingin poll bun, Matahari cetar tapi angin semriwing,” ucap salah seorang pengguna Facebook yang mengomentari unggahan tersebut.

Lantas, apakah benar bahwa suhu Bumi akan lebih dingin pada Juli 2026 ini akibat terjadinya fenomena Aphelion?

periksa fakta Fenomena Aphelion

periksa fakta Fenomena Aphelion.

Penelusuran Fakta

Untuk memastikan kebenaran klaim dalam unggahan itu, Tirto terlebih dahulu mencari tahu terkait definisi dari fenomena Aphelion. Menurut laman NASA, Aphelion adalah titik dalam orbit ketika suatu objek berada paling jauh dari Matahari. Bagi Bumi, fenomena ini terjadi pada tanggal 5 Juli.

Pada saat terjadi Aphelion, jarak Bumi dan Matahari mencapai 152.100.000 (152,1 juta) kilometer. Adapun titik terdekat antara Bumi dengan Matahari terjadi pada tanggal 4 Januari setiap tahunnya. Fenomena itu disebut Perihelion, di mana jarak Bumi dan Matahari adalah sejauh 147.090.000 kilometer.

Menurut NASA, fakta bahwa Bumi berada paling jauh dari Matahari pada tanggal 5 Juli menunjukkan bahwa kemiringan sumbu Bumi memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan musim, daripada jarak dengan Matahari.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2023 lalu menjelaskan bahwa Aphelion merupakan fenomena astronomi tahunan yang memang selalu terjadi setiap bulan Juli.

Sehingga menurut BMKG, kondisi cuaca dingin yang terjadi di wilayah Indonesia tidak memiliki korelasi dengan fenomena tersebut. Pasalnya, Aphelion tidak berpengaruh banyak terhadap fenomena atmosfer atau cuaca di permukaan Bumi.

Dalam siaran pers itu, BMKG menjelaskan bahwa suhu udara dingin di Indonesia sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli – September).

Periode ini ditandai dengan pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari benua Australia. Pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia.

Moonson Dingin Australia masuk ke wilayah Indonesia melewati perairan Samudra Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin.

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari.

Pakar Astronomi dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, sebagaimana dikutip dari laman Kompas juga menyatakan bahwa tidak ada dampak yang signifikan pada Bumi terkait dengan fenomena Aphelion.

Ia mengatakan udara dingin yang terjadi di bulan Juli tidak berhubungan dengan fenomena tersebut. "Udara dingin pada Juli bukan karena fenomena Aphelion, tetapi karena angin dingin dari arah Australia yang sedang musim dingin," kata Thomas.

Dengan demikian, klaim dari unggahan tersebut yang mengatakan bahwa suhu dingin di Bumi diakibatkan oleh fenomena Aphelion keliru secara saintifik. Sebab, jarak antara Bumi dan Matahari tidak berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu di permukaan Bumi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang mengatakan bahwa fenomena Aphelion pada Juli 2026 ini membuat suhu di Bumi, di antaranya beberapa wilayah di Indonesia, menjadi dingin adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Menurut penjelasan NASA maupun BMKG, jarak terjauh antara Bumi dan Matahari atau yang dikenal dengan Aphelion tidak berpengaruh banyak dalam menentukan musim atau suhu di permukaan Bumi.

BMKG juga menekankan bahwa suhu dingin yang terjadi di Indonesia memang fenomena alamiah yang terjadi pada puncak musim kemarau (Juli – September), yang salah satunya didorong dengan fenomena pergerakan massa udara Monsoon Dingin Australia.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait SUHU DINGIN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto