Saat AS dan Rusia Baku Hantam Merebut Raqqa dari ISIS

Saat AS dan Rusia Baku Hantam Merebut Raqqa dari ISIS
Perempuan tentara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berlari dengan anak-anak di kota Tabqa, setelah SDF merebutnya dari militan Islamic State minggu ini, Suriah, Jumat (12/5). Foto diambil tanggal 12 Mei 2017. ANTARA FOTO/REUTERS/Rodi Said
20 Juni, 2017 dibaca normal 3 menit
AS dan Rusia kini berlomba merebut Raqqa dari tangan ISIS, dan membiarkan sekutu mereka baku tembak di jalanan kota-kota menuju Raqqa.
tirto.id - Sejak awal 2017, pergerakan ISIS di Suriah Timur semakin tersudut. Kerjasama pasukan Suriah yang didukung Rusia dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) alias pasukan Kurdi yang disokong AS membuat ISIS semakin terpojok di Provinsi Raqqa. 

Jika pasukan Bashar Al Assad menyerang dari barat daya, maka SDF menggempur dari utara dan timur laut. SDF bahkan saat ini sudah mulai memasuki kota Raqqa - ibukota Kekhalifahan ISIS.

Namun, kabar terbaru membuat dua sekutu ini malah saling baku tembak. AS bahkan mengerahkan pesawat tempurnya untuk menjatuhkan Sukhoi SU-22 milik pemerintah Suriah kemarin (19/6).

Dikutip dari BBC, informasi ini pertama kali disebarkan oleh stasiun televisi yang dikelola pemerintah Suriah, Syiria TV. Mereka melaporkan bahwa pesawat tersebut ditembak jatuh manakala sedang mengemban misi melawan kelompok ISIS.

Informasi ini langsung dibenarkan oleh militer AS. "Pada pukul 6.43 petang waktu setempat, pesawat perang Suriah Sukhoi SU-22 menjatuhkan bom dekat markas milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di selatan Taqba. Kami segera menembak jatuh pesawat itu menggunakan jet tempur US F/A-18E Super Hornet," kata Komandan Pasukan Gabungan Amerika melalui sebuah pernyataan.

BBC melaporkan militer AS mengklaim tindakan ini dilakukan sebagai aksi membela diri setelah militer Suriah dua jam sebelumnya menjatuhkan sejumlah bom agar SDF hengkang dari Kota Ja'Din.

Serangan Suriah ini melukai beberapa pasukan dan menghambat penyerbuan SDF atas Raqqa dari selatan kota.  "Aksi-aksi dan niat bermusuhan yang ditunjukkan pasukan pro-rezim terhadap koalisi dan pasukan mitranya di Suriah yang sedang melakukan operasi melawan ISIS tidak akan ditoleransi," sebut militer AS.

"Sesuai dengan aturan kontak senjata dan aksi membela diri pasukan mitra koalisi secara kolektif, (pesawat tersebut) segera ditembak jatuh," sebut pernyataan militer AS.

Sementara itu Kementerian Pertahanan AS di Pentagon mendukung penuh serangan ini: “Koalisi tidak ingin bertempur dengan rezim Suriah, Rusia, atau pasukan pro-rezim, tetapi tidak akan ragu-ragu membela pasukan Koalisi atau mitra terhadap setiap ancaman.”

Sebagai sekutu rezim Assad, Rusia mengecam keras serangan ini. Dikutip dari RBTH pada hari Senin (19/6), Rusia telah membekukan segala interaksi dengan koalisi AS di Suriah. Mereka pun mengancam akan menembak objek terbang milik siapapun yang terbang di sisi barat sungai Eufrat. Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa sistem pertahanan Rusia akan menangkal segala jenis pesawat di wilayah operasi Pasukan Kedirgantaraan Rusia di Suriah.

“Di wilayah di mana aviasi Rusia sedang mengadakan misi pertempuran di langit Suriah, segala objek terbang, termasuk jet tempur dan pesawat tak berawak dari koalisi internasional (AS) yang ditemukan di sisi barat Sungai Eufrat, akan dideteksi sebagai target udara oleh pertahanan darat dan udara Rusia,” ujar mereka.

Kemenhan Rusia menilai diperlukan investigasi mendalam oleh komando AS atas langkah yang diambil dan dampak yang terjadi.

“Kami menganggap aksi tersebut sebagai pelanggaran yang disengaja terhadap kerangka memorandum pencegahan insiden dan keamanan penerbangan selama operasi di ruang udara Suriah."

Sejak awal Mei lalu, Rusia menerapkan zona de-eskalasi alias area “zona aman” di Suriah. Zona ini haram dilewati oleh seluruh pesawat jet tempur Amerika Serikat (AS) dan koalisinya. Zona de-eskalasi ini jadi basis milisi anti-pemerintah Assad dan AS dilarang ikut campur menggelar operasi militer di sana.  Zona aman pertama mencakup Provinsi Idlib serta bagian Latakia. Lalu Zona kedua Aleppo, dan Hama. Dua zona ini yang dikuasai kelompok milisi Islam, Jabhat Fateh al-Sham  dan Ahrar al Syam. Kemudian zona ketiga Ghouta Timur, Damaskus dan zona keempat di Suriah Selatan dekat perbatasan Yordania. Zona ketiga dan keempat dikuasai yang dikuasai kelompok pemberontak moderat yang didukung oleh AS.

Kota di sekitar Raqqa tidak mencakup zona ini karena Suriah Utara dikuasai oleh SDF yang cenderung menjadi sekutu Bashar Al Assad. AS hanya diberi wewenang terbang di sebelah barat sungai Eufrat. Sungai ini membelah kota Raqqa menjadi bagian utara dan selatan. Dengan diberlakukan zona larangan terbang, AS mau tak mau akan kesulitan memberikan bantuan kepada milisi SDF yang sedang menggempur Raqqa dari selatan, khususnya kota At-Tabqah.

Pasca penembakan SU-22, baku tembak cukup dahsyat di darat dilaporkan terjadi di dua titik sekaligus yakni barat daya kota At-Tabqah dan barat daya kota Rasafaf.  Hal ini diungkap pasukan SDF dalam akun Twitter resmi mereka. Kepada ARA News, Talal Silo -- juru bicara SDF -- mengakui serangan dari pemerintah Suriah ini tidak akan menciutkan rencana mereka menyerbu Raqqa.

"Tujuan serangan ulang rezim Suriah terhadap pasukan kami adalah membatalkan operasi untuk membebaskan kota Raqqa," katanya. "Kami menekankan bahwa kelanjutan serangan rezim terhadap posisi kami di provinsi Raqqa akan memaksa kami untuk mundur dan kami akan membela pasukan kami untuk tidak mundur, " katanya.

Pengamat militer Joseph V Micallef dalam kolomnya di Huffington Post menyebut penyerbuan Raqqa adalah perlombaan proxy war antara AS melawan Rusia. "Dalam prosesnya, kampanye Raqqa juga menjadi kontes proxy baru antara Gedung Putih dan Kremlin," kata dia.
 
"Jika Angkatan Darat Suriah berhasil merebut Raqqa, ini akan menggarisbawahi efektivitas intervensi Kremlin di Suriah. Selanjutnya memperkuat seruan Moskow untuk sebuah kampanye yang (mengatakan) dipimpin oleh Rusia lebif efektif ketimbang koalisi yang dipimpin AS. Ini akan membuktikan Kegagalan kebijakan luar negeri AS di Suriah."

"Sedangkan kemenangan untuk SDF setidaknya akan memunculkan AS telah berhasil mengalahkan ISIS dengan cara yang soft. Tidak seperti usaha yang dipimpin oleh Rusia, yang tidak berusaha meminimalkan kematian warga sipil dan mengorbankan kerusakan parah," katanya.

 

Baca juga artikel terkait KONFLIK SURIAH atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - wam/zen)

Keyword