tirto.id - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (30/1/2026) dibuka di level Rp16.807 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 52 poin atau 0,31 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang masih berada di posisi Rp16.755 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang negara-negara di Asia Pasifik cenderung berfluktuasi, dengan pelemahan terdalam terjadi pada Bath Thailand yang anjlok 0,19 poin atau 0,60 persen ke posisi 31,42 per dolar AS, kemudian diikuti oleh yen Jepang yang mengalami penurunan sebesar 0,47 persen atau 0,72 poin menjadi 153,83 per dolar AS.
Kemudian, pelemahan juga terjadi pada won Korea Selatan yang mencatatkan pelemahan 5,76 poin atau 0,40 persen ke posisi 1.439,85. Sementara, ringgit Malaysia tercatat mengalami penurunan 0,22 persen atau 0,01 poin ke level 3,93 per dolar AS. Diikuti oleh dolar Taiwan dan dolar Singapura yang sama-sama melemah 0,25 persen, masing-masing ke posisi 31,42 per dolar AS dan 1,27 per dolar AS.
Sebaliknya, yuan Cina menjadi satu-satunya mata uang yang mengalami penguatan, dengan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen ke posisi 6,95 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pada hari ini rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.750-Rp16.780 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Menurutnya, rontoknya rupiah pada hari ini sangat dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri, imbas vonis yang membekukan rebalancing indeks beberapa saham Indonesia. Pada saat yang sama, Goldman Sachs Group Inc juga memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
“Dalam skenario terburuk, apabila status Indonesia diturunkan dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif berbasis indeks MSCI diperkirakan bisa melepas aset hingga 7,8 miliar dolar AS,” jelas Ibrahim, dalam keterangan resmi.
Selain itu, tekanan juga datang dari potensi keluarnya dana sekitar 5,6 miliar dolar AS, jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi serta status free float pasar saham yang dirilis Bursa Efek Indonesia.
Sebaliknya, tekanan dari global justru relatif terbatas. Namun, ketegangan geopolitik yang dipicu oleh pertimbangan Presiden AS yang dikabarkan akan melanjutkan opsi militer terhadap Iran masih menjadi pendorong sentimen negatif bagi pasar keuangan dunia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































