Robotaxi, Ride-Sharing yang Tak Menyerap "Tenaga Kerja" Pengemudi

Aplikasi rideshare di ponsel. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 26 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Tesla akan meluncurkan robotaxi pada 2020.
tirto.id - “Saya cukup percaya diri untuk memperkirakan bahwa tahun depan Tesla akan meluncurkan robotaxi,” ungkap Elon Musk, Direktur Eksekutif Tesla dan SpaceX dalam Autonomy Day, April 2019.

“Tentu saja, robotaxi tidak akan hadir di semua wilayah, tergantung dari kebijakan pemerintah setempat,” lanjutnya. "Namun, saya yakin, tahun depan kami akan memiliki lebih dari satu juta robotaxi di jalanan.”

Robotaxi yang dimaksud Musk merupakan kelanjutan perkembangan konsep teknologi bernama ride-sharing. Ride-sharing sendiri merupakan transportasi peer-to-peer, menghubungkan pengemudi dengan penumpang yang membutuhkan jasa antar, memanfaatkan aplikasi ponsel pintar. Uber, Grab, dan Go-Jek merupakan contoh aplikasi-aplikasi ride-sharing.

Dalam robotaxi, konsep tersebut diubah. Memanfaatkan sistem otomatisasi otomotif yang lazim disebut mobil swakemudi, si pengemudi dihilangkan.

Robotaxi, secara sederhana, ialah ride-sharing berbasis mobil swakemudi. Mengantarkan penumpang tanpa kehadiran pengemudi. Tesla kini telah menyempurnakan mobil-mobil elektriknya menjadi swakemudi seutuhnya.

Tesla merupakan pabrikan mobil elektrik. Sebagaimana diwartakan Quartz, pabrikan ini jadi yang paling populer, khususnya di mata media. Pada 2017, 27,5 persen artikel-artikel tentang mobil elektrik, mengutip Tesla. Mengungguli Chevy (16,6 persen), Nissan (14,7 persen), BMW (12,2 persen), dan VW (11,8 persen).

Paling tidak, hingga saat ini, Tesla memiliki 3 varian mobil elektrik, yakni Model S, Model X, dan Model 3. Ketiga varian mobil elektrik itu, sejak 2016, memiliki kemampuan swakemudi meskipun terbatas. Musk pernah menjanjikan bahwa mobil-mobil Tesla akan memiliki kemampuan swakemudi penuh suatu hari, dan hari itu ialah sekarang, sesaat sebelum robotaxi dilahirkan.

“Kemampuan swakemudi sepenuhnya telah ada dalam tiap mobil Tesla sekarang. Mengapa? Karena dari dulu kami telah memasangkan perangkat keras yang dibutuhkan untuk swakemudi,” kata Musk. “Kini, akhirnya kami hanya tinggal memperbarui dari sisi perangkat lunaknya saja."

Pembaruan perangkat lunak yang dimaksud Musk salah satunya ialah semakin suksesnya Tesla melatih neural network sistem swakemudi-nya. Neural network Tesla sukses selepas menerima dan mempelajari data dari seluruh kamera di mobil-mobil Tesla yang ada di jalanan.

Pada tiap mobil, Tesla menyematkan hingga 8 kamera, yang sanggup mereka-ulang wilayah sekitar mobil dalam bentuk 360 derajat.

Menurut rencana, sebagaimana dilansir Techcrunch, Tesla akan meluncurkan aplikasi ride-sharing robotaxi khusus. Karena menihilkan pengemudi, konsep bisnis yang dijalankan akan lebih menyerupai Airbnb daripada Uber. Nantinya, setiap pemilik mobil Tesla bisa mendaftarkan mobilnya pada aplikasi robotaxi itu.

Hanya tinggal ongkang-angking kaki, selayaknya pemilik kos-kosan di Jakarta Raya, mobil bekerja bagi sang tuan. Memberikan 25 hingga 30 persen keuntungan bagi pihak Tesla dan selebihnya diambil sang tuan.

Namun, paling utama, pihak Tesla sendiri-lah yang akan menyediakan kendaraan bagi para penggunanya.

Waymo One dan Masalah-Masalah Robotaxi

Sebelum Elon Musk memproklamirkan kehadiran robotaxi pada 2020, Google, melalui anak usaha mereka bernama Waymo, telah melakukannya lebih dahulu. Pada bulan Desember 2018, raksasa mesin pencari itu meluncurkan Waymo One, aplikasi ride-sharing robotaxi yang terbatas hanya bisa melayani masyarakat di wilayah Phoenix, Amerika Serikat.

Waymo One merupakan ride-sharing robotaxi yang memanfaatkan mobil-mobil swakemudi Waymo berbasis Chrysler Pacifica.

Waymo merupakan proyek panjang swakemudi Google. Awalnya, mereka mengembangkan mobil khusus. Namun, sejak 2016, selepas menempuh 3,2 juta kilometer berkendara secara otomatis, Waymo memutuskan menggunakan mobil bikinan Chrysler.

“Kami adalah perusahaan mobil swakemudi dengan misi membuat mobil yang aman dan nyaman bagi tiap orang” ujar John Krafcik, Direktur Eksekutif Waymo.

Setidaknya, telah ada 100 minivan Chrysler yang sukses digubah Waymo menjadi mobil swakemudi. Merilis aplikasi Uber versi swakemudi itu merupakan cara Google membuat mobil-mobil ciptaannya memasyarakat dan mendatangkan untung.

Di Phoenix, Waymo One akan beroperasi 24 jam penuh. Wilayah-wilayah lain menyusul dikunjungi.

Kehadiran robotaxi mungkin menguntungkan bagi penumpang dan tentu saja perusahaan di baliknya, Google dan Tesla. Namun, konsep ride-sharing baru ini nampaknya tidak berpihak pada pengemudi.



Berbeda dengan Waymo One, robotaxi yang digagas Tesla memungkinkan setiap pemilik mobil-mobil Tesla bergabung. Sayangnya, Tesla bukanlah mobil "sejuta umat".

Sebelum Tesla merilis Model 3, semua varian mobil elektrik Tesla, dari sisi harga, merupakan mobil premium. Varian standar Model S, dijual seharga $69,5 ribu. Sementara itu, varian paling standar Model X dijual seharga $82,5 ribu. Di Indonesia, mengutip Kompas, pada gelaran Indonesia International Motor Show 2017, oleh sebuah importir, Tesla Model S varian P100D, dipatok seharga Rp4,4 miliar.

Model 3 merupakan varian “ekonomis” Tesla. Ia dijual sekitar setengah harga Model S, yakni sekitar $35 ribu.

Artinya, sangat mungkin mobil-mobil robotaxi yang dijalankan Tesla merupakan mobil yang disediakan pihak perusahaan sendiri, bukan masyarakat. Atau, hanya masyarakat kalangan tertentu yang bisa mencicipi manisnya robotaxi.

Masyarakat biasa tidak bisa menjadikan layanan baru ini sebagai sumber baru penghasilan. Ini jauh berbeda dengan apa yang ditawarkan Uber, Lyft, Grab, atau perusahaan ride-sharing konvensional lainnya.

Pada 2018, para pengguna ride-sharing Lyft menghabiskan uang sekitar $8 miliar untuk berkendara memanfaatkan jasa. Pada tahun itu, total pengemudi Lyft berjumlah hampir 2 juta orang. Jika perusahaan mengambil fee 30 persen, masing-masing pengemudi memperoleh pendapatan sekitar $3,6 ribu. Robotaxi menihilkan skema semacam itu.

Baca juga artikel terkait RIDE SHARING atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight