tirto.id - Laporan HSBC Quality of Life Report 2025 mencatat biaya pendidikan anak di luar negeri saat ini menyedot hingga 66 persen tabungan pensiun keluarga di Indonesia.
Besarnya biaya pendidikan internasional ini tidak lain disebabkan oleh inflasi pendidikan yang setiap tahunnya mengalami peningkatan 10 persen setiap tahunnya.
“Inflasi pendidikan itu 10 persen setiap tahun. So, sangat berbeda angkanya gitu. Kalau kita bilang Inflasi Indonesia 3 persen, ini (inflasi) pendidikan 10 persen. Lalu, gaji kita engga ada 10 persen kan (kenaikan) setiap tahunnya?” ujar Head of Networks Sales and Distribution HSBC Indonesia, Sumirat Gandapraja, di HSBC Wealth Centre, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2025).
Tingginya biaya pendidikan ini lah yang kemudian membuat calon-calon orang tua atau orang tua yang sudah memiliki anak harus mempersiapkan rencana pendidikan sang anak sedini mungkin. Jika memang melanjutkan pendidikan di luar negeri menjadi pilihan, orang tua harus mempertimbangkan di mana lokasi sekolah anak dan apa mata uang dari negara tersebut.
“Sehingga, kita bisa memilih investasinya apa, di mata uang mana. Baik itu investasi yang kita lakukan setiap bulan maupun juga proteksinya seandainya terjadi sesuatu pada kita. So, I think ini sangat penting buat kita semua. Anak itu sangat penting, sehingga ini pun harus kita manage dengan baik,” lanjutnya.
Sumirat mencontohkan, jika anak dan orang tua telah merencanakan pendidikan lanjutan di Amerika Serikat (AS) atau negara bagiannya, investasi dapat dilakukan dengan menggunakan mata uang dolar. Dus, investasi tersebut akan lebih tahan akan risiko nilai tukar.
“So, basically, gitu, dan kemudian saya bilang kita mesti juga ada proteksinya, kemudian ada juga investasinya,” lanjutnya.
Perlu diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juli 2025, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,82 persen, dengan andi inflasi sebesar 0,05 persen. Komoditas yang menjadi penyumbang andil Inflasi pada kelompok ini, di antaranya biaya sekolah dasar 0,02 persen dan biaya sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, bimbingan belajar dan taman kanak-kanak dengan andil masing-masing 0,01 persen.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































