Menuju konten utama

Respons Pertemuan Trump-Xi, Taiwan Tegaskan Tak Mau Dikorbankan

Merespons pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping, Presiden Taiwan Lai Ching-te tegaskan kedaulatan negaranya dan menolak jadi alat transaksi politik.

Respons Pertemuan Trump-Xi, Taiwan Tegaskan Tak Mau Dikorbankan
Bendera Taiwan terlihat di jembatan layang menjelang perayaan Hari Nasional di Taipei, Taiwan, 8 Oktober 2025. REUTERS/Ann Wang

tirto.id - Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menegaskan bahwa negaranya tidak akan dikorbankan, dijadikan alat transaksi, atau melepas cara hidup yang demokratis di bawah tekanan apa pun usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping.

"Taiwan tidak akan dikorbankan atau diperdagangkan dan tidak akan menyerah pada tekanan untuk melepaskan cara hidup kami yang bebas," tegas Lai melalui akun Facebook-nya pada Minggu (17/5/2026), sebagaimana dikutip Reuters.

Pernyataan ini menjadi respons langsung pertama Lai terhadap pertemuan puncak di Beijing pekan lalu, yang sempat memicu kekhawatiran di Taiwan mengenai komitmen dukungan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan tersebut, Trump menyatakan masih mempertimbangkan penjualan senjata baru ke Taiwan dan memberikan sinyal AS tidak mendorong kemerdekaan pulau tersebut.

Lai mengakui bahwa rakyat Taiwan sangat khawatir mengenai pembahasan terkait wilayahnya dalam pertemuan itu.

Meski demikian, ia tetap berterima kasih atas perhatian AS terhadap perdamaian di Selat Taiwan.

Ia menegaskan bahwa kerja sama keamanan dan penjualan senjata selama ini berlandaskan pada Taiwan Relations Act, undang-undang tahun 1979 yang mewajibkan AS memasok persenjataan ke Taiwan.

"Ini bukan hanya komitmen keamanan AS kepada Taiwan, tetapi juga kekuatan penangkal terpenting selama bertahun-tahun terhadap tindakan yang merusak perdamaian dan stabilitas kawasan," tulis Lai.

Dalam kesempatan yang sama, Lai kembali menegaskan posisi negaranya.

"Republik Cina, nama resmi Taiwan, adalah negara yang berdaulat, merdeka, dan demokratis," ungkapnya.

Ia menekankan bahwa Republik Cina dan Republik Rakyat Cina (RRC) tidak berada di bawah subordinasi satu sama lain.

Menurut Lai, masa depan Taiwan harus diputuskan oleh rakyatnya sendiri dan kedaulatan tersebut tidak boleh dilanggar atau dianeksasi oleh pihak mana pun.

"Ini adalah konsensus terbesar dari seluruh rakyat Taiwan, dan ini adalah status quo yang kami upayakan untuk dipertahankan. Tidak ada isu yang disebut 'kemerdekaan Taiwan'," tukasnya.

Pihak Cina hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi. Beijing secara konsisten menganggap Taiwan sebagai provinsi yang membangkang dan tidak pernah mencoret opsi penggunaan kekuatan militer untuk membawa pulau tersebut di bawah kendalinya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK CINA-TAIWAN atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah