Represi Soeharto Justru Bikin Buku-buku Islam Menjamur

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 20 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kemunculan kelas menengah Muslim membuka peluang lahirnya langgam baru penerbitan buku Islam. Beranjak dari teks-teks kanonik kepada pemikiran kontemporer.
tirto.id - Setelah kemerdekaan, penerbitan buku di Indonesia berkembang pesat. Termasuk juga penerbit buku yang fokus di segmen pembaca Muslim. Namun, dalam kurun 1950-an buku belum menjadi wahana utama diskursus keislaman. Dominasi masih dipegang koran dan majalah yang berafiliasi dengan partai atau organisasi Islam.

Sebutlah misalnya koran Abadi milik Partai Masyumi, Duta Masyarakat milik Partai NU, Suara Muhammadiyah milik Muhammadiyah, atau Majalah Pembela Islam dan Al-Muslimun yang dikelola Persis.

Dalam makalahnnya di jurnal Indo-Islamika Volume 1 No. 1 (2011:7), “Wajah Radikal Penerbitan Islam di Indonesia”, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Khamami Zada mengamati bahwa penerbitan buku-buku Islam saat itu masih didominasi karya-karya klasik ulama Nusantara, seperti Nuruddin Arraniri atau Imam Nawawi Albantani.


Begitu juga pada dekade 1970-an. Peneliti lepas sosial-humaniora Ridwan Muzir mencatat bahwa dalam kurun itu mayoritas buku-buku Islam yang terbit lebih berorientasi pada teks kanonik-normatif. Wacana-wacana Islam yang “berat” atau berbau politik memang ada, tetapi tidak banyak.

Di bawah Orde Baru yang mulai tak ramah terhadap ekspresi Islam politik, tidak banyak penerbit yang berani menerbitkan tema-tema “berat” seperti diulas dalam “Dinamika Ekonomi-Kultural Industri Penerbitan Buku-buku Islam Populer di Indonesia” dalam Turast: Jurnal Penelitian & Pengabdian, volume 2 no. 2, Juli-Desember (2014:165).

Dalam kurun 1950-an hingga akhir 1970-an setidaknya ada dua penerbit buku Islam yang besar: Penerbit Al-Maarif dan Penerbit Bulan Bintang.

Penerbit Al-Maarif berdiri di Bandung atas prakarsa H.M. Baharthah, Abu Bakar M.A., dan A. Hasan pada 1949. Sejak awal berdiri hingga akhir 1970-an, Al-Maarif menjadi penerbit utama teks-teks kanonik-normatif Islam seperti Alquran, hadis, tuntunan ibadah, surat Yasin, kumpulan doa dan buku-buku pemikiran Islam.

Satu hal yang patut dicatat dari penerbit ini adalah harga buku-bukunya yang sangat murah. Al-Maarif berorientasi menyediakan buku agama bagi kalangan kelas bawah. Bagi Baharthah, itu adalah caranya memenangkan persaingan pasar dan sebagai bentuk ibadah.

“Namun niat H.M. Baharthah untuk beribadah dengan cara seperti ini berakibat pada rendahnya kualitas cetakan dan tampilan buku-buku terbitan Al-Maarif. [...] Dia menganggap sebuah buku sudah dapat dinilai baik jika punya sampul dan judulnya tertera dengan jelas,” tulis Ridwan.

Berbeda dengan Al-Maarif, Penerbit Bulan Bintang sejak awal berdiri pada 1951 sudah mematenkan diri mempublikasikan buku-buku berkualitas dan ditujukan untuk kelas menengah ke atas. Penerbitan yang diinisiasi Haji Abdul Manaf El-Zamzami aliah Haji Amelz ini pada masa jayanya mampu menerbitkan 120 judul buku dalam setahun.

Ketika Orde Baru mulai menguat, Bulan Bintang tetap berani menerbitkan karya-karya para tokoh Masyumi yang kritis kepada rezim seperti Hamka, Mohammad Natsir, Mohamad Roem, juga Profesor Harun Nasution (hlm. 164-165).

Kedua penerbit ini memudar kejayaannya kala memasuki dasawarsa 1980-an. Keduanya dibelit masalah manajerial dan tak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar perbukuan. Eksistensinya mulai tergerus oleh penerbit-penerbit buku Islam baru yang muncul dengan langgam berbeda.

Zaman Berubah

Usai diberangusnya gerakan protes mahasiswa dan pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978, kampus-kampus di Indonesia mengalami depolitisasi. Seperti halnya gerakan mahasiswa lainnya, gerakan mahasiswa Islam juga tiarap. Juga, secara umum, aspirasi dan ekspresi politik Islam kian tertekan manakala kebijakan asas tunggal diberlakukan.

Sejak awal 1980-an, ekspresi Islam politik mampat. Namun, gara-gara itu saluran-saluran ekspresi lain tumbuh. Ekspresi keislaman tersalurkan lewat kegiatan-kegiatan budaya, edukasi, atau dakwah yang nonpolitis.


Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Wasisto Raharjo Jati menengarai, fenomena yang kemudian mengemuka adalah menjamurnya “Islamisasi” di kampus-kampus negeri di Indonesia. Aktivis-aktivis mahasiswa Muslim itu membentuk lingkaran-lingkaran studi keislaman di masjid kampus. Sebutlah misalnya di masjid Salman ITB dan Jamaah Shalahuddin di UGM.

Dalam Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia (2017:60-61) Wasisto menulis, “Tumbuh kembangnya berbagai macam pusat studi Islam tersebut dimotori oleh semangat pembaruan Islam untuk bisa diterima publik agar lebih inklusif dan tidak ekstremis.”


Fenomena itu didukung oleh pembangunan sektor ekonomi dan pendidikan selama dekade 1970-an yang menciptakan segmen masyarakat kelas menengah Muslim. Secara ekonomi mereka kuat dan juga terpelajar. Suatu pangsa pasar baru terbentuk meskipun ditekan secara politik.

Ridwan Muzir menyebut faktor-faktor itu sebagai pendorong melejitnya penerbitan buku-buku Islam baru pada dasawarsa 1980-an. Kelas menengah Muslim yang baru lahir ini butuh pilihan-pilihan bacaan segar yang lebih plural—sesuatu yang tak dapat lagi dipenuhi oleh penerbit lama seperti Al-Maarif dan Bulan Bintang (hlm. 165-166).

Generasi Baru yang Pandai Membaca Pasar

Putut Widjanarko, Wakil Direktur Mizan Group, mencatat bahwa pada dasawarsa 1980-an setidaknya ada empat penerbit buku Islam baru yang menonjol. Mereka adalah Pustaka Salman (berdiri 1980), Shalahuddin Press (1983), Mizan (1983), dan Gema Insani Press (1986). Ketika pamor Al-Maarif dan Bulan Bintang memudar, penerbit-penerbit baru itu “menyuntikkan suatu energi dan antusiasme baru dalam wacana keislaman.”

Pustaka Salman tumbuh dari Masjid Salman ITB. Penggeraknya tak lain adalah aktivis-aktivis mahasiswa Muslim yang sehari-hari bergiat di masjid itu. Sebagai penerbit, Pustaka Salman telah mener­jemahkan berbagai karya penting Fazlur Rahman, tokoh neomodernis Islam asal Pakistan yang mengajar di University of Chicago, AS, dan juga karya populer orientalis kondang Edward Said.

Penerbit yang digawangi aktivis kampus lainnya adalah Shalahuddin Press yang me­ru­pakan bagian dari Jamaah Shalahuddin UGM. Menurut Putut, pada masanya Shalahuddin Press punya kekhasan dalam sampul buku-bukunya yang artistik. Ia melahirkan apa yang kemudian disebut sampul buku “gaya Yogyakarta”.

Berbeda dengan Pustaka Salman yang menerjemahkan karya dari luar, Shalahuddin Press berupaya menerbitkan karya-karya cendekiawan Muslim Indonesia. Penerbit inilah yang berjasa memperkenal­kan generasi muda cendekiawan muslim seperti Syafii Maarif, Syahirul Alim, Kuntowijoyo, dan Amien Rais.

Namun, sayang sekali kedua penerbit ini tak mampu bernapas panjang. Akibat masalah manajerial, Shalahuddin berhenti produksi sejak 1989. Sementara itu, Pustaka Salman sebenarnya masih aktif hingga kini, tetapi telah merosot produksinya sejak 1990-an.

Penerbit buku Islam angkatan 1980 yang punya manajemen kuat dan kemudian berhasil meraksasa adalah Mizan dan Gema Insani Press. Mizan didirikan tiga mahasiswa ITB (Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin). Buku terbitan pertama Mizan, Dialog Sunni-Syi’ah, begitu menyedot perhatian khalayak pembaca kala itu dan menjadi bestseller. Tetapi gara-gara buku itu pula, Mizan kemudian dilekati citra sebagai “penerbit Syiah”.

Infografik Penerbit Buku Islam 1980an


Gema Insani Press diinisiasi oleh Umar Basyarahil, seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dan pernah menjadi Ketua Pemuda Al-Irsyad, sayap pemuda dari organisasi warga keturunan Arab Al-Irsyad. Buku pertamanya yang mengangkat perjuangan kelompok Mujahidin mela­wan Rusia dalam Perang Afghanistan sukses di pasaran.

Menurut Putut, Gema Insani Press memfokuskan diri pada penerjemahan buku-buku karya penulis Timur Tengah, serta penulis-penulis yang memiliki kaitan dengan Ikhwanul Muslimin, seperti Yusuf Qardhawi, Muhammad Quthb, hingga Sayyid Quthb. Dan ketika sudah cukup mapan, Gema Insani Press memilih tema-tema ajaran Islam “normatif” seperti kajian keluarga, wanita, buku-buku Islam praktis, dan semacamnya.



Keempat penerbit inilah yang mampu merespons perubahan pasar perbukuan Islam 1980-an ketika kelas menengah Muslim baru tumbuh. Penerbit-penerbit ini mewadahi penulis-penulis kontemporer dan cendekiawan muda untuk tampil, sementara penerbit tua seperti Bulan Bintang masih bergantung pada cetak ulang karya-karya cendekiawan muslim senior.

Pada masa awal berproduksi, Mizan menerbitkan karya-karya penulis yang menjadi kekhasan Gema Insani Press. Namun, kemudian Mizan memilih untuk beranjak dari teks-teks “fundamental” dan klasik kepada teks-teks yang lebih mengedepankan wacana pemikiran kontemporer.

Putut, yang bergabung dengan Mizan sejak 1993, menulis, “Pada masa-masa berikutnya, Mizan menerjemahkan buku-buku karya pemikir Muslim kontemporer dan ‘modernis’, seperti Ismail Raji Al-Faruqi, Muhammad Iqbal, Sayyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Ziauddin Sardar, dan Munawar Ahmad Anees.”

Masih menurut Putut, kategori penting yang memperkuat positioning Mizan adalah terbitnya Seri Cendekiawan Muslim Indonesia sejak 1987. Hal ini sebenarnya sudah dirintis oleh Shalahuddin Press, tapi Mizan lah yang memperluas cakupannya.

Dalam seri ini, Mizan menerbitkan karya-karya cendekiawan Muslim Indonesia dari berbagai perspektif. Dari kalangan modernis, Mizan menerbitkan karya penulis yang sebelumnya diperkenalkan oleh Shalahuddin Press hingga penulis-penulis yang nisbi baru dikenal saat itu seperti Quraish Shihab, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Bachtiar Effendi, H.A. Mukti Ali, M. Dawam Rahardjo, Emha Ainun Nadjib, Mohamad Sobary, Marwah Daud Ibrahim, Ahmad M. Saefuddin.

Mizan juga mengakomodasi karya tokoh yang sering kali dikaitkan dengan aliran Syiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Baca juga artikel terkait PENERBITAN BUKU atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Fadrik Aziz Firdausi
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan