Menuju konten utama

Rekam Jejak Dino Patti Djalal: Diplomat Senior & Mantan Wamenlu

Dino Patti Djalal kembali jadi sorotan usai mengkritik Prabowo. Simak profil, karier diplomatik, dan rekam jejak mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini.

Rekam Jejak Dino Patti Djalal: Diplomat Senior & Mantan Wamenlu
FYP Dino Patti Djalal. Tirto.id/Andhika Krisnuwardhana
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nama Dino Patti Djalal menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Berikut rekam jejak Dino Patti Djalal, seorang diplomat senior yang juga mantan wakil menteri luar negeri.

Kritik terbuka yang disampaikan oleh Dino di akun Instagram menjadi salah satu topik hangat di Tanah Air. Sosok Dino bukan sekadar pengamat, melainkan salah satu diplomat yang berpengalaman di Indonesia.

Ia pernah menjabat sebagai juru bicara presiden, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, hingga Wakil Menteri Luar Negeri, sehingga pandangannya mengenai efektivitas diplomasi internasional memiliki bobot dan relevansi.

Rekam Jejak Dino Patti Djalal Diplomat Senior & Mantan Wamenlu

Dino Patti Djalal lahir di Belgrade (saat itu bagian dari Yugoslavia) pada 10 September 1965. Ia berasal dari keluarga diplomat Indonesia sehingga sejak kecil menjalani kehidupan yang berpindah-pindah di berbagai negara.

Dino pernah tinggal di Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, dan Vancouver. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah Muhammadiyah, melanjutkan ke SMP Al-Azhar, kemudian menyelesaikan pendidikan menengah atas di McLean, Virginia, Amerika Serikat.

Setelah itu, ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Carleton University, gelar Magister Ilmu Politik dari Simon Fraser University, dan gelar doktor dalam bidang Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science pada tahun 2000 dengan fokus kajian mengenai diplomasi preventif.

Karier Diplomat Dino

Karier diplomatik Dino dimulai pada tahun 1987 ketika ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Ia kemudian bertugas di berbagai perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk di London, Dili, dan Washington DC.

Namanya mulai dikenal publik secara nasional ketika menjadi juru bicara pemerintah Indonesia dalam proses referendum Timor Timur yang diselenggarakan di bawah pengawasan PBB pada tahun 1999.

Kemampuan komunikasinya yang kuat membuat kariernya berkembang pesat hingga dipercaya menjadi Direktur Urusan Amerika Utara pada tahun 2002.

Ketika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mulai berjalan pada tahun 2004, Dino diangkat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional. Ia mempertahankan posisi tersebut selama enam tahun.

Pada tahun 2010, Dino dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat. Selama menjabat hingga tahun 2013, ia berperan penting dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat.

Salah satu pencapaian terbesarnya adalah membantu mengangkat hubungan kedua negara ke tingkat Comprehensive Partnership, yang menjadi kerangka kerja sama strategis jangka panjang.

Pada masa yang sama, ia juga dikenal sebagai penggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles dan dianggap sebagai salah satu tokoh utama yang memperkenalkan konsep "Diaspora Indonesia" dalam kebijakan nasional.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai duta besar, Dino kembali ke Indonesia dan pada Juni 2014 diangkat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Jabatan tersebut diembannya hingga Oktober 2014 sebelum akhirnya mengakhiri kariernya di pemerintahan pada pertengahan tahun 2015.

Selain pernah mengikuti konvensi calon presiden yang diselenggarakan oleh Partai Demokrat pada tahun 2014, Dino juga aktif memberikan masukan mengenai kebijakan publik, hubungan internasional, demokrasi, dan kepemimpinan nasional.

Dino Dirikan FPCI

Di luar pemerintahan, Dino dikenal sebagai pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada tahun 2015. Organisasi ini berkembang menjadi salah satu komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Asia dengan jaringan puluhan hingga ratusan ribu anggota.

FPCI menyelenggarakan berbagai forum internasional, termasuk Conference on Indonesian Foreign Policy yang dikenal sebagai salah satu konferensi kebijakan luar negeri terbesar di dunia. Melalui FPCI, Dino juga aktif mempromosikan diplomasi publik, pendidikan kepemimpinan bagi generasi muda, serta dialog internasional mengenai perdamaian, keamanan, dan kerja sama global.

Selain aktif di bidang diplomasi, Dino juga pernah menjadi anggota komite eksekutif Paris Peace Forum, Ketua Dewan Direksi World Resources Institute Indonesia, serta Ketua Asosiasi Dosen Indonesia.

Ia juga menggagas program lintas agama "1000 Abrahamic Circles" yang bertujuan membangun dialog dan saling pengertian antara pemimpin agama Islam, Kristen, dan Yahudi dari berbagai negara.

Dino telah menghasilkan lebih dari sepuluh buku yang membahas kepemimpinan, diplomasi, politik internasional, dan pembangunan bangsa. Buku yang paling dikenal adalah “Harus Bisa” yang menjadi salah satu buku kepemimpinan terlaris di Indonesia.

Prestasi Dino Patti Djalal

Atas pengabdiannya kepada negara, Dino menerima sejumlah penghargaan tinggi, termasuk Bintang Jasa Utama pada tahun 2010 dan Bintang Mahaputera Adipradana pada tahun 2014.

Ia juga memperoleh penghargaan Indonesia Marketeer of the Year 2012 atas kemampuannya membangun citra Indonesia di tingkat internasional.

Pada tahun 2011, Dino mencatat prestasi internasional dengan memperoleh pengakuan dari Guinness World Records atas penyelenggaraan pertunjukan angklung terbesar di dunia. Acara tersebut digelar di Washington Monument, Washington DC, Amerika Serikat, dan melibatkan ribuan peserta yang memainkan alat musik tradisional Indonesia, angklung, secara bersamaan.

Di era Covid-19, Dino pernah mengalami kondisi yang sangat serius ketika terinfeksi virus tersebut. Setelah sembuh, Dino bersama FPCI menyelenggarakan forum internasional bertajuk Rebuilding from the Covid-19 World.

Acara virtual berskala global itu diikuti sekitar 9.800 peserta dari 83 negara dan menghadirkan sejumlah tokoh dunia, termasuk para menteri luar negeri dari Indonesia, China, Rusia, India, Australia, Uni Eropa, dan Afrika Selatan. Forum tersebut juga menghadirkan Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jenderal WHO serta Jin Liqun.

Pada akhir 2020, Dino menjadi pembawa acara dalam sebuah program talk show di Mola TV yang menghadirkan sejumlah tokoh terkenal dunia.

Dalam program tersebut, ia mewawancarai sejumlah aktor, sutradara, dan figur publik internasional seperti Robert De Niro, Spike Lee, John Travolta, Sylvester Stallone, Richard Gere, Mel Gibson, Susan Sarandon, Ron Howard, dan Francis Ford Coppola.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra