Peter Carey
Emeritus fellow di Trinity College, Oxford dan guru besar tamu pada Fakultas Ilmu Budaya UI...

Refleksi Peter Carey (3): Bagaimana Saya Menelusuri Manuskrip Jawa?

21 Juli 2020
Dibaca Normal 7 menit
Juru selamat saya sewaktu masih menjadi mahasiswa S2 dan melakukan riset di Oxford pada pertengahan 1970-an adalah Profesor Merle Ricklefs (1943-2019). Di masa itu ia mengajar sejarah Asia Tenggara di School of Oriental & African Studies (SOAS) di London (1969-1979). Pada Desember 1979 Merle pindah ke Australia di mana ia tinggal untuk sisa karier akademisnya. Pertama-tama mengajar di Monash University, Melbourne (1980-1993), lalu di Australian National University (ANU), dan akhirnya kembali ke Melbourne. Pada Oktober-Desember 1983 dia berada di Oxford selama tiga bulan sebagai Visiting Fellow di All Souls College.

Saya pertama kali bertemu dengannya di Yogyakarta pada 1972-1973 ketika saya menjadi mahasiswa S2 yang masih hijau dan tengah berjuang untuk mendapatkan gelar Ph.D. dari Oxford. Penelitian saya bertajuk "Pangeran Dipanagara and the Making of the Java War, 1825-30". Kala itu saya tinggal di dalem (kediaman pangeran) milik Pangeran Tejokusumo (1893-1974) dan belajar bahasa Jawa. Saya ragu bahwa saya telah memberikan kesan yang baik kepada Merle dalam pertemuan kami yang pertama. Saya merasa sangat ambisius dan tidak siap untuk melakukan penelitian akademis yang serius. Sementara kesan pertama Merle terhadap saya bisa dibaca dalam buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey (2018: xii-xviii).

Persahabatan kami pun berkembang. Setelah disertasinya mengenai Sultan Yogyakarta yang pertama, Mangkubumi (bertakhta 1749-1792), berhasil dipertahankan, saya seperti mendapat sahabat sejiwa. Disertasi Merle diterbitkan pada Mei 1974 dengan judul Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749–1792; A history of the division of Java.

Saya masih ingat ketika pertama kali membaca buku itu. Saya duduk-duduk di kebun rumah ibu saya di Surrey, Inggris selama dua hari di musim panas yang sangat berkesan pada Juni dalam tahun yang sama sambil membaca buku Merle. Buku itu saya baca dari depan sampai belakang tanpa berhenti. “Buku ini benar-benar luar biasa,” saya katakan kepada diri saya sendiri. “Dan persis apa yang ingin saya lakukan untuk penelitian saya tentang Diponegoro!”

Sejak saat itu Merle menjadi suar dan patokan bagi saya. Dia menetapkan standar kualitas untuk penelitian ilmu sejarah. Narasi sejarah yang disusunnya dengan sangat telaten berdasarkan arsip kolonial Belanda dan babad Jawa menjadi "standar emas" untuk penelitian tentang Jawa. Ini adalah prestasi yang seharusnya menjadi cita-cita bagi semua sejarawan yang menekuni Jawa, namun jarang sekali dicapai; terutama di Indonesia, di mana nilai sejarah direndahkan oleh pekerjaan proyekan yang cenderung lebih dipentingkan daripada penelitian arsip yang telaten.


Tahun-tahun pun berlalu dan kebersamaan yang erat pun tumbuh di antara kami. Merle selalu menjadi senior saya dalam status dan kedudukan profesional—dia adalah supervisor informal dan penguji gelar doktor saya di Oxford (November 1975). Saya membayangkan persahabatan kami seperti persahabatan Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said (Mangkunegoro I) pada waktu Perang Suksesi Jawa yang ketiga (1746-1757). Kelak, di masa menjelang ia meninggal, Merle merampungkan Soul Catcher; Java’s Fiery Prince Mangkunegara I, 1726-1795 (2018) yang di dalamnya berisi deskripsi mengenai hubungan yang rentan antara Mangkubumi dan Raden Mas Said di akhir Perang Giyanti (1749-1757).

Tapi untunglah, tidak muncul jurang yang membelah persahabatan saya dan Merle seperti yang memisahkan penguasa Yogyakarta pertama tersebut dengan sekutunya yang sulit ditebak. Sebaliknya, persahabatan kami pun menjadi semakin erat dan mulai menemukan berbagai kesamaan yang aneh sepanjang hidup kami. Misalnya, kami berdua mengalami kebahagiaan sekaligus kesedihan dalam memiliki anak-anak yang difabel dan harus meninggalkan kami sebelum waktunya. Kami juga ditakdirkan membangun karier profesional sebagai sejarawan Asia Tenggara ketika minat dan pendanaan terus menyusut setelah berakhirnya Perang Vietnam Kedua (1964-1973). Kesamaan terakhir, kami berdua memasuki dunia sejarah Jawa melalui penelitian biografi yang mendalam tentang dua tokoh terbesar yang hidup di akhir zaman pra-kolonial Jawa: Mangkubumi (1717-1792; bertakhta 1749-1792) dan Diponegoro (1785-1855).



Merle Calvin Ricklefs
Merle Calvin Ricklefs (1943-2019), sejarawan ahli Jawa dan Asia Tenggara terkemuka. foto/Monash University


Dunia Jawa di Tejokusuman

Dua pengalaman penting lain sehubungan dengan pendidikan saya sebagai sejarawan Asia Tenggara dan Jawa adalah ketika saya menjadi mahasiswa S2 di Cornell University pada 1969-1970 dan dua tahun berikutnya yang saya habiskan di Jawa. Setelah tiga bulan meneliti di Arsip Nasional Republik Indonesia (Oktober-Desember 1971), saya kemudian tinggal secara gratis di kediaman pangeran di Tejokusuman (1971-1973). Induk semang saya, Ibu Kusumobroto/Raden Ayu Sriningdyah, menantu perempuan Gusti Tejokusumo, tidak pernah menarik uang sewa.

Sewaktu saya tinggal di Tejokusuman, saya benar-benar larut dalam budaya Jawa. Rumah yang saya tinggali juga menjadi sanggar tari drama dan musik (karawitan) Krida Beksa Wirama (1918), didirikan oleh Tejokusumo (1893-1974), putra Hamengkubuwono VII (bertakhta 1877-1921). Di sana setiap hari ada latihan menari dan musik gamelan mengalir di seantero ndalem bagaikan—meminjam kata-kata Claude Debussy (1862-1918), komposer Perancis yang pernah menggubah musik yang terinspirasi dari gamelan—"sinar rembulan dan air yang mengalir". Setiap akhir minggu kadang-kadang digelar sendratari besar-besaran yang memperluas pengertian saya mengenai jenis tarian dan drama tradisional Jawa.

Yang sangat menarik dari Tejokusuman: tempat ini adalah sebuah komunitas tersendiri. Segala jenis kelas dan tingkat sosial Jawa ada di sini. Selain anggota bangsawan keraton keluarga inti Tejokusumo, juga ada kerabatnya yang lebih luas, di antaranya adalah cucunya, seorang ahli agronomi Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Tejoyuwono Notohadiprawiro (1930-2012), yang juga tetangga saya. Ada pula orang-orang yang berasal dari latar belakang sosial yang lebih sederhana.

Pada zaman dulu orang-orang itu dikenal sebagai ‘magersari’, pegawai keluarga atau pelayan “numpang”, yang tinggal di rumah sederhana di kompleks kediaman seorang bangsawan Jawa. Banyak orang seperti ini yang tinggal di perkebunan milik Diponegoro di Tegalrejo, sebagian bahkan ikut bertugas sebagai pengawal pribadi. Walau zaman pengawal pangeran bersenjata sudah lama berlalu ketika saya tinggal di Tejokusuman, kediaman ndalem membuat saya menyadari tentang dunia sosial yang multitafsir yang mirip dengan waktu Diponegoro tinggal di Tegalrejo sebelum pecahnya Perang Jawa.


Sebuah kejadian dengan salah satu keluarga magersari ini menggarisbawahi pentingnya memelihara hubungan sosial yang harmonis. Seorang putra yang masih remaja dari keluarga tersebut telah membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga di kediaman saya yang sederhana. Tetapi dia kemudian terlibat kasus pencurian yang ternyata cukup pelik. Reaksi naluriah saya adalah untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Namun bukannya menyelesaikan masalah, keterlibatan polisi malah memperkeruh keadaan.

Akhirnya, seorang dukun muda, yang dipanggil untuk mencari keberadaan barang milik saya yang hilang dan memperbaiki hubungan sosial, menyarankan agar saya menghentikan proses hukum dan mengadakan slametan. Ini saya lakukan. Semua yang tinggal di Tejokusuman dari segala golongan sosial pun diundang. Dengan cara demikian semua permasalahan terselesaikan, termasuk barang saya yang hilang bisa kembali dan hubungan sosial pun menjadi semakin erat. Foto di bawah, yang menggambarkan Ibu Kusumobroto dan putranya (Mas Wid) menghadiri perjamuan tersebut sebagai cerminan solidaritas keluarga, adalah bukti mujarab jurus slametan ini.



Peter Carey
Peter Carey dalam busana Jawa bersama induk semangnya, Ibu Kusumobroto (Raden Ayu Sriningdyah, berkebaya kuning), Raden Mas Widuro (putra Kusumobroto), dan almarhumah istri pertama Peter Carey, Raden Ayu Koesmarlinah (1940-2000), di Tejokusuman, Yogyakarta, 1972. foto/Peter Carey/Istimewa


Kebaikan Orang-Orang tanpa Pamrih

Sewaktu saya tinggal di Tejokusuman saya juga diperkenalkan ke dunia kebatinan Jawa melalui persahabatan saya dengan salah satu pendiri Paguyuban Sumarah di Yogyakarta, Pak Suhardo. Karena saya telah menulis tentang pengalaman saya melakukan kontak secara tidak sengaja dengan dunia leluhur Jawa dalam Urip iku Urub (hlm. 31-38), tulisan ini bukanlah tempat untuk merenungkan pengaruh non-akademis dalam pembentukan intelektual saya sebagai seorang Jawanis.

Apa pun pendapat orang soal hubungan dengan dunia spiritual seperti ini, saya yakin mantan dosen pembimbing saya di Oxford, Richard Cobb, akan dengan sepenuh hati mendukung praktik ini. Bagi Cobb, pengalaman-pengalaman ini akan dianggap rite de passage yang penting untuk membangun "identitas kedua" saya sebagai sejarawan Jawa modern.

Sebab itulah saya akan lebih banyak bercerita tentang orang-orang yang secara langsung telah membantu saya dalam artian yang lebih praktis—secara akademis, bahasa, dan sehubungan dengan penelitian. Ada empat orang seperti ini di Indonesia sewaktu saya masih menjadi mahasiswa peneliti/S2 pada 1971-1973 dan 1976-1977. Sampai sekarang pun saya masih merasa berutang budi pada mereka semua.


Ada dua orang yang telah membantu saya secara materiel dalam penelitian arsip dan naskah. Yang pertama adalah Pak Sundoyo, seorang asisten ahli kearsipan yang sudah lama bekerja di ANRI, yang berada di gedung arsip lama yang indah di Jalan Gajah Mada no.111, Jakarta Pusat. Gedung ini adalah bekas kediaman (buitenplaats/vila di luar tembok kota Batavia) Gubernur Jenderal Reynier de Klerck (1710-1780; menjabat, 1777-1780). Pak Sundoyo pernah bekerja di bawah arsiparis Belanda yang terakhir, Dr. Frans Rijndert Johan Verhoeven (1905-1987; menjabat, 1937-1942), dan memiliki pengetahuan yang luar biasa mengenai arsip kolonial.

Sewaktu saya melakukan penelitian arsip (1971, 1976-1977, 1978), Pak Sundoyo sangat ahli hingga, meskipun tidak tersedia alat bantu untuk mencari arsip-arsip kolonial dan karesidenan dan saya tidak bisa menggunakan sistem indeks (klapper) kearsipan dari masa penjajahan Belanda, saya cukup memberikan nomor referensi resmi (dari zaman penjajahan dulu) untuk dokumen yang saya cari kepadanya. Dalam waktu singkat, seperti cuma dalam sekejap mata, dokumen itu sudah ada di meja saya. Dokumen yang saya minta biasanya adalah dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Besluiten van den Gouverneur-Generaal buiten/in rade (Keputusan-keputusan yang diambil Gubernur-Jenderal dengan atau tanpa kehadiran Dewan Hindia atau Raad van Indië), Kabinets brieven (surat-surat dari kabinet di Den Haag), atau Memorie van Overgave (Laporan Serah Terima Jabatan).

Bahkan Pak Sundoyo sering kali kembali dari depot arsip sembari membawa berbagai macam dokumen yang berhubungan walau tidak saya minta, yang dia pikir mungkin menarik untuk saya baca. Ini adalah sebuah layanan yang sangat pribadi dan spesial. Sekarang saya tidak akan bisa mendapat layanan seperti ini dan waktu itu pun hanya bisa terjadi karena saya—untuk sebagian besar waktu ketika saya mengerjakan penelitian di ANRI—adalah satu-satunya pembaca di sana. Sebuah daftar berisi sebagian besar dokumen yang ditemukan Pak Sundoyo bisa disimak dalam laporan saya yang dimuat di jurnal Indonesia edisi 25 (April 1978: 115-150) bertajuk “The Residency Archive of Jogjakarta” (PDF).

"Malaikat pelindung" saya yang kedua adalah Bupati Bantul (1951-1955) yang sudah pensiun, K.R.T. Pusponingrat (m. 1985). Saya mempersembahkan buku saya, The Archive of Yogyakarta. Vol. I: Documents relating to politics and internal court affairs (1980), kepadanya. Dia memberikan sumbangan yang sangat besar untuk penelitian saya dengan melakukan romanisasi hampir 5.000 halaman naskah beraksara Jawa. Termasuk di dalamnya adalah semua materi dari arsip Yogyakarta yang dijarah Inggris setelah runtuhnya keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812 dan kini berada di British Library (London), juga semua babad Jawa yang penting sehubungan dengan Diponegoro.


Yang disebut terakhir itu juga termasuk riwayat diri sang pangeran yang ia tulis di Manado (1831-1832), Kitab Kedhung Kebo, yang ditulis atas perintah musuh Diponegoro, Raden Adipati Cokronegoro I (1779-1862), bupati Purworejo pertama pasca-Perang Jawa (menjabat 1831-1856); Babad Diponegoro versi keraton yang ditulis di Surakarta oleh seorang pujangga-dalem, mungkin Sosrodipuro II (sekitar 1780-1844); dan tiga jilid Babad Ngayogyakarta—mencakup keseluruhan periode mulai 1792, kala Hamengkubuwono II naik takhta, hingga 1860-an—yang ditulis keponakan Diponegoro, Pangeran Suryonegoro (1822-sekitar 1886), yang meraih medali emas Belanda sebagai sastrawan Jawa (1875), dan mantan komandan pasukannya di Banyumas, Basah Mahmud Gondokusumo (1810-sekitar 1885; pasca-1847, Raden Adipati Danurejo V di Yogyakarta, menjabat 1847-1879).

Begitu banyaknya materi berbahasa Jawa yang sudah diromanisasi oleh Pak Puspo untuk saya, setiap jilid memiliki indeks dan pengantar berbahasa Inggris yang saya tulis sendiri. Kelak, materi ini terbukti menjadi sumber yang sangat berharga ketika saya menulis disertasi pada 1974-1975. Saya juga memiliki tiga salinan babad yang telah diromanisasi dan dijilid dengan sangat rapi oleh Percetakan Kanisius di Yogyakarta dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Leiden dan Australia agar tersedia untuk para pelajar di seluruh dunia. Tiga jilid salinan naskah-naskah ini dibuat dan diedarkan oleh Perpustakaan Australian National University, Koninklijk Instituut Library (sekarang Universiteitsbibliotheek Leiden/ UBL), dan satu jilid lengkap untuk saya sendiri. Pak Puspo menyimpan satu salinan yang tidak dijilid untuk dirinya sendiri.

Seperti Pak Sundoyo di ANRI, yang saya berikan sebuah hadiah sederhana berupa kemeja putih untuk Hari Raya Idulfitri pada Oktober 1976, Pak Puspo membantu saya karena ia tertarik dengan, dan mencintai, sejarah Jawa. Bukan untuk keuntungan finansial. Jadi walau dia tidak dirugikan dan saya membayar untuk sebuah mesin tik dan semua kertas dan alat tulis lain yang ia gunakan, keuntungan finansial bukanlah penggerak utama dari kerja transliterasinya.

Sumbangan pribadi dari kedua bapak Jawa yang luar biasa ini memberikan saya kekaguman abadi atas kehormatan yang senyap, kesopanan generasi Jawa yang lebih tua, dan semangat setia mereka. Kerja-kerja kedua beliau itu benar-benar perwujudan dari pepatah lama "sepi ing pamrih, ramé ing gawé, memayu hayuning buwono" (membantu orang lain dengan tulus tanpa pamrih agar dunia lebih indah).


==========


Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris di Langgar.co. Penulisnya memercayakan penerjemahan artikel dalam bahasa Indonesia kepada Feureau Himawan Sutanto dan pembelahan menjadi 5 bagian kepada Muhammad Anta Kusuma untuk ditayangkan secara berkala di Tirto.id.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight