Menuju konten utama

Rawat Warisan Budaya, ICN Gelar Pentas Musikal di Singapura

ICN akan menggelar pertunjukan musikal teater karya mahasiswa Indonesia di Singapura berjudul Amerta pada 14 Februari 2025.

Rawat Warisan Budaya, ICN Gelar Pentas Musikal di Singapura
Poster ICN 2026 - Amerta. (FOTO/dok. ICN)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Culture Night (ICN) Cultural Production akan menggelar pertunjukan musikal berjudul Amerta pada 14 Februari 2025 di Drama Centre Theatre, National Library Building, Singapura. Pentas ini menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan ICN yang bertujuan memperkenalkan serta merawat budaya Indonesia lewat medium seni pertunjukan di kancah internasional.

Helatan Indonesian Culture Night (ICN) diinisiasi oleh kolektif mahasiswa Indonesia di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. ICN dalam rilis tertulis mengungkapkan bahwa pertunjukan tersebut diharapkan menjadi ruang temu antara ingatan, nilai, serta identitas budaya Indonesia.

“ICN hadir dari kesadaran kolektif para mahasiswa-mahasiswi Indonesia bahwa budaya tidak berhenti di tanah asalnya. Menjadi komunitas yang tumbuh bersama dan membawanya kemanapun komunitas ini melangkah,” tulis ICN dalam keterangan tertulis.

Mengangkat Kisah Pekerja Batik Perempuan

Pementasan Amerta mengangkat kisah tentang pencarian kebenaran dan cerita dari orang-orang yang terpinggirkan. Pentas ini mengisahkan Arum, seorang jurnalis muda yang menyingkap realitas perempuan pekerja batik di Surakarta. Melalui sudut pandang pembatik perempuan, kisah tersebut menyoroti tentang kerja, ketahanan, dan ingatan kolektif di balik tradisi membatik.

Disajikan dengan memadukan tari, musik, dan visual, teater musikal tersebut menghadirkan bagaimana tradisi batik bukan sekadar ornamen, melainkan sebagai simbol dari tubuh-tubuh perempuan yang bekerja, sejarah yang diwariskan, dan suara-suara yang perlahan menemukan ruangnya. Pentas Amerta diharapkan menjadi ruang refleksi dan ajakan bagi penonton untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan dan memahami realitas sosial yang diangkat.

Libatkan Kerja Kolaboratif

Di balik pementasan tersebut, ICN dibangun melalui proses panjang yang melibatkan latihan intensif, hingga diskusi terkait keseharian para pekerja perempuan. Proses ini menjadi cerminan bagi ICN bahwa budaya bersifat dinamis, sehingga perlu terus dirawat melalui kerja-kerja kolaboratif.

“Budaya, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang terus dirawat melalui kerja sama,” lanjut ICN.

Di sisi lain, pertunjukan tersebut juga melibatkan dinamika emosional para pemain dan tim. Proses menuju pementasan tersebut secara tak langsung membangun kekompakan, mengajarkan ketekunan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya yang mereka bawakan di atas panggung.

Sebagai perayaan budaya, ICN tak hanya bertujuan memamerkan estetika seni, tetapi sebagai ajang merepresentasikan sejarah, keberagaman, dan kebanggaan mahasiswa Indonesia di perantauan. Melalui Amerta, ICN menegaskan komitmennya untuk menghormati akar budaya sekaligus membuka ruang dialog dengan masa kini, baik melalui tari tradisional maupun kontemporer.

ICN pun melihat upaya merawat budaya merupakan proses panjang dan berkelanjutan. Melalui pertunjukan tersebut, para mahasiswa Indonesia di NTU ingin menegaskan bahwa budaya tetap hidup karena dirawat bersama, melalui proses yang dilandasi kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan.

“ICN berdiri sebagai pengingat bahwa budaya hidup karena ada yang memilih untuk terus merawatnya bersama, dalam proses, dan dengan kesadaran penuh akan kemanusiaan yang menyertainya,” pungkas pihak ICN.

Penulis: Tim Media Servis