Menuju konten utama

Purbaya ke Beijing Matangkan Penerbitan Sovereign Panda Bond

Pertemuan bilateral juga dimanfaatkan untuk mempererat koordinasi ekonomi di forum-forum multilateral.

Purbaya ke Beijing Matangkan Penerbitan Sovereign Panda Bond
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Dalam rapat tersebut Komisi XI DPR dan pemerintah resmi menyepakati Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melakukan kunjungan kerja ke Beijing, Cina, dengan misi utama mematangkan rencana penerbitan Sovereign Panda Bond.

Hal ini dilakukan untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan sekaligus memperdalam kerja sama ekonomi dengan Cina di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Cina, Lan Fo'an, Purbaya mengungkapkan bahwa instrumen obligasi berdenominasi yuan ini tidak hanya memperluas basis investor, tetapi juga mendukung penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (local currency transaction/LCT) serta mendorong pendalaman sektor keuangan kedua negara.

"Indonesia tidak menunggu. Kami bergerak lebih awal dengan membangun fondasi pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan agar pembangunan dapat terus berjalan di tengah berbagai tantangan global," ujar Purbaya dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).

Bendahara negara itu menekankan bahwa perjalanan bisnisnya ke Beijing telah melalui perencanaan matang dan bukan respons terhadap tekanan eksternal.

Dia menyebut pemerintah terus menjalankan strategi secara disiplin dan terukur, seraya menekankan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang aman, tercermin dari rasio utang yang terkendali, defisit anggaran dalam batas wajar, serta pertumbuhan yang tetap stabil.

"Kami datang ke Beijing bukan karena terdesak, tetapi karena Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Ketika fondasi ekonomi kokoh, kita memiliki ruang untuk bertindak lebih strategis dan lebih percaya diri," ucapnya.

Di sela-sela pembahasan teknis, Purbaya juga menyoroti tingginya minat investor global terhadap pasar keuangan Indonesia. Dia menyebut kepercayaan itu merupakan buah dari konsistensi reformasi dan kredibilitas kebijakan fiskal yang dijaga bertahun-tahun.

"Kepercayaan pasar tidak dibangun dalam semalam. Itu adalah hasil dari disiplin fiskal, reformasi yang konsisten, dan kredibilitas kebijakan yang terus dijaga pemerintah. Karena itu, Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di kawasan," ungkapnya.

Pertemuan bilateral juga dimanfaatkan untuk mempererat koordinasi ekonomi di forum-forum multilateral seperti G20 Finance Track, APEC Finance Ministers' Process, dan ASEAN+3.

Purbaya berharap kemitraan strategis antara Indonesia dan Cina dapat terus diperkuat, tidak hanya melalui instrumen pembiayaan baru, tetapi juga melalui kolaborasi dalam menjaga stabilitas kawasan.

Selain berdialog dengan Menkeu Tiongkok, rangkaian kunjungan Purbaya dijadwalkan mencakup pertemuan dengan para pelaku usaha, investor, Gubernur People's Bank of China (PBOC), serta pimpinan Shanghai Cooperation Organization (SCO) Development Bank dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Dia optimistis langkah proaktif ini bakal memperkokoh posisi Indonesia dalam mengelola pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.

"Di saat sebagian pihak memilih menunggu kepastian, Indonesia memilih menyiapkan masa depan. Itulah alasan kami terus bergerak, membangun kepercayaan, dan memperkuat fondasi ekonomi bangsa," tuturnya.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi