Menuju konten utama

Purbaya: APBN Defisit Rp240 Triliun di Kuartal I 2026

Pendapatan negara hingga Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, sementara belanja terealisasi Rp815,0 triliun.

Purbaya: APBN Defisit Rp240 Triliun di Kuartal I 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I-2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan masyarakat tak perlu terkejut karena defisit tersebut sudah sesuai rancangan.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Keuangan, pendapatan negara hingga Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen.

Sementara belanja negara terealisasi Rp815,0 triliun, melonjak 31,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Defisit pun tercatat Rp240,1 triliun.

“Jadi ketika ada defisit, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget. Memang anggaran kita didesain defisit,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI, DPR RI, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan percepatan realisasi belanja menjadi penyebab utama membengkaknya defisit pada awal tahun. Pada kuartal I-2026, penyerapan belanja mencapai 21,2 persen dari total APBN, jauh di atas rata-rata tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 17 persen.

“Kalau saya belanjakan lebih merata sepanjang tahun, harusnya di triwulan pertama sekarang defisitnya lebih besar dibanding kuartal pertama tahun lalu. Itu suatu yang normal,” ucapnya.

Meski defisit melebar, Purbaya memastikan pemerintah terus memonitor keseimbangan APBN secara hati-hati. Strategi percepatan belanja ini justru dirancang agar dampak ekonomi lebih signifikan dirasakan masyarakat sepanjang tahun, bukan hanya terkonsentrasi di akhir periode.

“Strategi kita ini mulai berhasil. Arahnya dampak ekonomi juga lebih bagus,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, di tengah kejolak global, APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber. Penerimaan pajak tercatat tumbuh 20,7 persen (yoy), sementara belanja negara yang tumbuh 31,4 persen jauh melesat dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,4 persen.

Menkeu optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 bisa mencapai 5,5 persen atau bahkan lebih. “Mudah-mudahan tercapai. Saya pikir kemungkinan besar sekali tercapai di 5,5 persen atau lebih,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana