tirto.id - PUBG menjadi salah satu game online favorit banyak orang. Sejak dirilis tahun 2017 silam, game ini berhasil menarik jutaan pemain dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, kenapa game ini sangat adiktif dan disukai para gamer?
PUBG termasuk game bergenre battle royale. Saat game dimulai, sekelompok pemain akan diterjunkan ke sebuah wilayah luas tanpa perlengkapan senjata. Tujuan utamanya sederhana, tapi juga brutal, yaitu bertahan hidup menjadi pemain atau tim terakhir.
Untuk menjadi pemenang, pemain tak hanya harus mencari perlengkapan senjata, medis, pelindung, dan menghindari zona tidak aman, tapi juga harus melawan dan "membunuh" pemain lain dengan berbagai senjata.
Dengan kombinasi eksplorasi, loot senjata, taktik, dan konflik langsung antar pemain, membuat PUBG terlihat menarik. Selain memacu adrenalin, sensasi kemenangan yang hanya diberikan kepada satu pemain/tim juga dapat menjadi kebanggaan tersendiri.
Kenapa Game Battle Royale Jadi Favorit

Game online bergenre battle royale seperti PUBG memiliki daya tarik tersendiri. Genre ini memiliki tingkat kompetisi tinggi karena hanya ada 1 pemenang di antara sekian banyak pemain. Sensasi bertahan hidup membuat pemain merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa mereka layak menang.
Dalam game ini, pemain akan berada dalam situasi yang serba terbatas, baik soal waktu, senjata, hingga area yang terus menyusut. Hal ini memaksa pemain untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dan membuat keputusan cepat di bawah tekanan.
Alasan lain yang membuat genre battle royale menarik adalah perlunya strategi. Pemain harus merencanakan pergerakan, kapan waktunya bergerak, di mana harus bersembunyi, atau memilih posisi bertahan yang baik.
Di sisi lain, keberuntungan juga memainkan peranan penting. Terkadang pemain bisa menemukan senjata yang bagus di tempat tak terduga, tapi juga bisa ditemukan musuh dengan mudah.
Ditambah dengan sensasi berpacu dengan waktu, serta rasa diburu maupun memburu pemain lain, semua ini dapat memacu adrenalin. Namun, ketika berhasil mengatasi situasi sulit atau menjadi pemenang, rasa puas yang intens.
Sistem “reward” seperti ini dapat memicu pemain untuk terus mengulang sesi permainan agar kembali merasakan kemenangan atau sekadar menyempurnakan performa.
Alasan Psikologis Anak Menyukai Game PUBG

Meski mengandung kekerasan, PUBG dapat diakses oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan remaja. Usia ini berada pada fase perkembangan ketika rasa pencapaian, identitas sosial, dan manajemen emosi sedang dibentuk.
PUBG sendiri ternyata menawarkan sebuah lingkungan yang secara spesifik bisa memenuhi kebutuhan psikologis dasar ini sehingga sangat digemari oleh anak-anak.
Rasa Pencapaian dan Pengakuan
Dalam jurnal Children’s Motivations for Video Game Play in the Context of Normal Development karya Cheryl K. Olson, motivasi terbesar anak-anak bermain game adalah adanya kompetisi dan keinginan untuk menang.Kemenangan dalam di game, termasuk di PUBG yang terkenal dengan istilah Winner Winner Chicken Dinner, dapat memberikan rasa bangga yang kemudian meningkatkan self-esteem atau harga diri.
Selain itu, anak-anak dan remaja sangat peduli dengan status di antara teman sebaya. Memiliki skill tinggi atau peringkat yang bagus di dalam game adalah cara untuk mendapatkan pengakuan sosial, membuat mereka merasa divalidasi dan "keren" dalam komunitas digital.
Apalagi bagi anak-anak yang mungkin merasa kurang unggul di bidang akademik, olahraga, atau bidang lainnya, memenangkan permainan atau punya skill tinggi di game seolah menjadi jalur alternatif untuk merasakan keberhasilan.
Pelarian dari Tekanan atau Rutinitas
Bagi anak-anak dan remaja, rutinitas sekolah, tugas rumah, atau bahkan tekanan sosial terkadang terasa sangat membebani. Dunia virtual PUBG menawarkan tempat pelarian yang memungkinkan mereka untuk bersantai dan mengalihkan pikiran.Dalam penelitiannya, Cheryl K. Olson menemukan bahwa sejumlah besar anak setuju bahwa mereka bermain game agar merasa rileks sehingga game menjadi sarana rekreasi yang bisa memberikan kesenangan secara instan.
Lebih jauh, game ini memberi anak-anak rasa kontrol atau kesempatan mengendalikan. Di dalam game, mereka dapat memilih misi, mengendalikan pergerakan, dan menjadi kuat, hal yang mungkin terasa kurang mereka dapatkan di kehidupan nyata yang penuh aturan dan batasan dari orang dewasa.
Aspek Sosial dan Kebersamaan
Fitur mode tim dan permainan online mendorong adanya komunikasi, kolaborasi, dan rasa kebersamaan. Anak-anak merasa “punya kelompok” atau komunitas. Mereka bisa bermain bersama teman, chatting, koordinasi strategi, hingga berbagi momen lucu atau dramatis dalam game.Ini terutama penting bagi anak yang mungkin merasa kurang terhubung di dunia nyata. Dikutip dari laman The Kids Mental Health Foundation, permainan daring dapat membantu anak-anak menemukan komunitas yang membuat mereka merasa diterima.
Hal ini sangat berpengaruh dalam kesehatan mental anak. Hubungan positif dengan teman di dalam game dapat membantu meningkatkan harga diri dan tingkat kebahagiaan anak-anak, serta dapat menurunkan risiko depresi dan kecemasan.
Alasan Psikologis Dewasa Menyukai Game PUBG

Orang dewasa, dengan tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab yang jauh lebih kompleks dari anak-anak, cenderung mencari hiburan yang bisa membantu melepaskan stres secara cepat. PUBG tak hanya memenuhi kebutuhan ini, tapi juga mampu memberikan tantangan yang sering dicari oleh orang-orang dewasa.
Tantangan dan Strategi yang Merangsang Otak
Orang dewasa menikmati aspek taktik, perencanaan, dan refleks cepat dalam permainan seperti PUBG karena unsur-unsur ini menstimulasi fungsi kognitif dan respons motorik secara bersamaan.Jurnal berjudul Video Games and Board Games: Effects of Playing Practice on Cognition tulisan Léa Martinez dan kawan-kawan menekankan bahwa waktu bermain video game menunjukkan hubungan yang signifikan dan positif dengan beberapa fungsi kognitif.
Fungsi kognitif yang dimaksud meliputi fleksibilitas mental, perencanaan, memori kerja visual, pemrosesan visuospatial, fluid intelligence, hingga memori kerja verbal.
Tantangan seperti kapan bergerak, memilih posisi, looting, bertahan hidup, dan bekerja sama dalam tim menghadirkan stimulus yang kompleks terhadap otak.
Selain itu, unsur strategi dan refleks cepat (misalnya melihat musuh, memilih senjata, menghindar, mengambil keputusan dalam sepersekian detik) juga melibatkan respons visual-motorik dan pengambilan keputusan cepat.
Sebuah penelitian dari University of Colorado Boulder juga mengungkapkan bahwa bermain video game dapat dikaitkan dengan peningkatan kecepatan pemrosesan, memori kerja, dan penalaran spasial.
Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa manfaat ini relatif kecil, dan potensi efek negatif dari bermain game secara tidak bertanggung jawab (berlebihan) dapat dengan mudah melebihi manfaat tersebut.
Pelampiasan Stres dan Hiburan Cepat
Bagi banyak orang dewasa, game seperti PUBG menjadi cara untuk melepas stres setelah bekerja atau belajar. Dilansir dari laman Verywell Mind, banyak studi yang membuktikan bahwa game bisa memperbaiki kesehatan mental, misalnya mencegah depresi atau kecemasan.Video game dapat berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi. Game bisa membantu mengalihkan pikiran dari stres atau tekanan kerja, memberikan relaksasi, dan bahkan memperbaiki suasana hati.
Saat seseorang terlibat dalam game yang memerlukan konsentrasi dan respons cepat seperti PUBG, pikiran mereka akan terfokus ke dalam permainan, dan secara otomatis akan mengalihkan perhatian dari kekhawatiran dunia luar, walau hanya untuk sementara waktu.
Selain itu, bermain game kompetitif atau kooperatif memberi efek pelepasan adrenalin yang bisa terasa seperti “ledakan” emosional singkat. Setelah bermain, mungkin pemain akan merasa segar kembali secara mental.
Namun, perlu dicatat bahwa unsur kompetitif yang tinggi juga bisa menghasilkan ketegangan tambahan, tetapi bagi banyak orang dewasa, tantangan itu justru yang membuat pengalaman menjadi lebih worth untuk me-refresh pikiran.
Kebutuhan Sosial dan Nostalgia
Untuk orang dewasa, selain aspek kognitif dan hiburan, aspek sosial serta nostalgia juga bisa ditemukan dalam game seperti PUBG.Bermain bersama teman lama, kolega, atau semasa sekolah memberi rasa “koneksi” yang mungkin sulit ditemukan di rutinitas kerja sehari-hari. Game online memfasilitasi interaksi sosial, baik itu melalui komunikasi suara, koordinasi strategi tim, atau berbagi momen kemenangan maupun kegagalan.
Dikutip dari Science Direct, studi Social Video Gaming and Well-being menunjukkan bahwa video game sosial bisa menjadi alat untuk membangun koneksi dan membantu kesejahteraan emosional.
Sementara itu, bermain game kompetitif seperti PUBG juga dapat menghidupkan kembali semangat masa muda, adrenalin persaingan, dan eksplorasi spontan yang mungkin sudah jarang terjadi dalam kehidupan dewasa.
Kombinasi kebutuhan sosial dan nostalgia menjadikan game PUBG bukan hanya aktivitas individu, melainkan “alat” untuk mempertahankan relasi, berbagi pengalaman, dan merasa kembali ke masa ketika bermain game lebih sederhana, seru, dan penuh spontanitas.
Faktor Desain Game yang Membuat PUBG Adiktif

Dari sisi game, PUBG memiliki beberapa elemen yang secara sengaja dirancang agar terlihat menarik di mata para pemain. Tak hanya menarik, elemen ini juga membuat PUBG lebih sulit ditinggalkan sehingga kerap membuat ketagihan.
Sistem Reward dan Leveling
Sistem reward dan leveling dalam game seperti PUBG berperan besar dalam mempertahankan motivasi para pemain. Poin, ranking, badge, hingga hadiah, semuanya menjadi tanda pencapaian yang terlihat dan terukur.Sistem ini tentunya dirancang sedemikian rupa untuk memberi dorongan psikologis agar pemain tetap kembali bermain, baik setelah menang maupun kalah.
Jika ditinjau dari sisi psikologis, bermain video game, terutama saat meraih kemenangan atau pencapaian dalam game, bisa mengaktifkan sistem reward di dalam otak.
Setiap kali pemain naik level, mendapatkan hadiah, atau menjadi satu-satunya pemenang, otak mereka menerima sinyal “berhasil”, yang pastinya memberi kepuasan dan memperkuat keinginan untuk mengulang permainan.
Di sisi lain, pemain tentunya tidak selalu menang atau mendapatkan hadiah besar. Namun, ada kemungkinan untuk mendapat hadiah atau naik level sehingga menciptakan unsur “harapan”.
Akibatnya, pemain menjadi terdorong untuk mencoba lagi dan lagi agar mendapatkan momen keberhasilan tersebut. Dalam konteks PUBG, pemain berburu momen “Winner Winner Chicken Dinner”, naik peringkat, atau achievement lainnya.
Grafis Realistis dan Sensasi Kompetisi
Grafis yang realistis, efek suara imersif, lingkungan game yang terasa hidup, serta kompetisi online dalam game battle royale seperti PUBG, semuanya menambah “dosis” emosional dan sensorik yang memperkuat pengalaman bermain.Aspek visual dan audio yang imersif meningkatkan rasa “hadir” (presence) pemain dalam dunia game. Studi pada game VR dan immersive game menunjukkan bahwa pengalaman imersif meningkatkan respons fisiologis dan emosional pemain karena mereka merasa “terlibat” dalam permainan.
Meskipun PUBG bukan VR murni, fitur-grafis tinggi, lingkungan tiga dimensi, suara kaki musuh, hingga zona aman yang terus mengecil, semua ini berkontribusi pada pengalaman sensorik yang intens.
Karena pemain merasa “tertarik” ke dalam situasi, mereka lebih emosional terhadap hasilnya, kemenangan akan terasa lebih “nyata”, sedangkan kekalahan mungkin terasa lebih menyakitkan. Hal inilah yang membuat PUBG semakin menarik.
Sementara itu, elemen kompetisi online memperkuat aspek emosional ini. Dalam game ini, pemain saling melawan secara real-time yang menambahkan unsur tantangan, ketidakpastian, bahkan tekanan.
Ketika pemain secara aktif terlibat dalam kompetisi, dan kemudian memperoleh reward (menang) atau mengalami kekalahan, dampaknya terhadap sistem reward otak lebih besar dibandingkan hanya bermain pasif atau menonton.
Dengan demikian, paduan grafis realistis dan kompetisi membuat pengalaman bermain yang penuh ketegangan sekaligus kepuasan, dan pada akhirnya membuat pemain ingin terus kembali dan ingin “membuktikan diri” sekali lagi.
Dampak Psikologis jika Bermain Berlebihan

Bermain game memang memiliki dampak positif tersendiri, tapi hal itu tidak menutup fakta akan adanya pengaruh negatif apabila dimainkan secara berlebihan. Tak hanya membuat kelelahan atau berpengaruh buruk dalam hal fisik, game seperti PUBG juga bisa menimbulkan dampak negatif pada sisi psikologis.
Risiko Kecanduan dan Penurunan Fokus
1. Kecanduan Game sebagai Gangguan
Terdapat bukti bahwa aktivitas bermain game yang tidak terkendali atau berlebihan dapat berkembang menjadi bentuk gangguan yang dikenal sebagai gaming disorder.Kecanduan game belum sepenuhnya dipahami seperti halnya kecanduan zat, tapi definisi dari WHO untuk gaming disorder mencakup kegagalan mengendalikan waktu bermain, meningkatnya prioritas bermain dibanding aktivitas lain, dan terus bermain meskipun ada dampak negatif.
Fakta ini menunjukkan bahwa ketika seseorang terus-menerus bermain game hingga waktu tidur terganggu, prestasi kerja atau sekolah menurun, atau aktivitas sosial dan fisik ditinggalkan, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi masalah serius.
2. Menurunkan Fokus dan Perhatian
Game mungkin bisa berpengaruh positif dalam kemampuan kognitif. Namun, sesuai dengan penelitian dari University of Colorado Boulder yang sudah disebutkan sebelumnya, manfaat tersebut relatif kecil, sedangkan risiko dampak negatifnya lebih besar apabila terjadi kecanduan.Hal ini didukung oleh sebuah penelitian dari Mesir bertajuk Effects of Memory and Attention on the Association Between Video Game Addiction and Cognitive/Learning Skills in Children: Mediational Analysis yang dipublikasikan di BMC Psychology.
Studi ini menunjukkan bahwa kecanduan game berdampak pada kemampuan atensi/perhatian. Dengan kata lain, makin tinggi kecanduan game, makin terganggu fokus/perhatian, dan akhirnya makin menghambat kemampuan belajar.
3. Mengabaikan Aktivitas Penting Lainnya
Bermain game secara terus-menerus dapat menggantikan atau mengganggu aktivitas lain yang penting, seperti tidur cukup, interaksi sosial, olahraga, atau tugas pekerjaan/sekolah.Game seperti PUBG sangat rentan membuat seseorang mengalokasikan waktu secara tidak proporsional sehingga aktivitas lainnya terabaikan.
Ketika seseorang sulit mengatur kapan mulai dan berhenti bermain, atau terus mengejar “satu permainan lagi” hingga larut malam, maka risiko kelelahan, gangguan tidur, penurunan produktivitas, dan menurunnya fokus akan meningkat.
Cara Orang Tua dan Dewasa Mengontrol Waktu Main

Pengendalian diri menjadi kunci agar kita tidak mudah kecanduan terhadap sesuatu, termasuk pada game seperti PUBG. Perlu beberapa cara atau strategi yang tepat agar kita hanya bisa merasakan manfaat dari bermain game tanpa perlu mendapatkan efek negatifnya. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:
1. Tetapkan Batas Waktu Bermain yang Jelas
Menetapkan batas waktu harian atau mingguan untuk bermain game adalah langkah pertama yang disarankan oleh para ahli. Aturan ini membantu anak dan orang dewasa membangun kebiasaan yang sehat serta mencegah gangguan tidur atau produktivitas.2. Jadikan Aktivitas Alternatif Sama Menariknya
Anak-anak cenderung menolak berhenti bermain game jika tidak ada aktivitas pengganti yang terasa seru. Karena itu, penting bagi orang tua atau individu dewasa untuk menyediakan kegiatan yang sama menariknya.Contohnya olahraga ringan, bermain musik, atau aktivitas kreatif seperti menggambar. Aktivitas ini tidak hanya menyehatkan, tapi juga membantu mengalihkan fokus dari dunia digital.
3. Bangun Rutinitas dan Jadwal Harian yang Seimbang
Rutinitas yang seimbang membantu menghindari waktu bermain berlebihan tanpa perlu larangan keras. Misalnya, atur waktu belajar, waktu keluarga, olahraga, dan hiburan digital secara terjadwal.Struktur harian seperti ini juga membantu meningkatkan kemampuan manajemen waktu dan mengurangi perilaku impulsif.
4. Jadilah Teladan dalam Penggunaan Gawai
Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka, termasuk dalam hal penggunaan perangkat digital. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan contoh disiplin, seperti tidak bermain ponsel saat makan atau sebelum tidur.5. Ciptakan Zona Bebas Gadget di Rumah
Buatlah area tertentu di rumah yang bebas dari ponsel atau game, seperti ruang makan dan kamar tidur. Kebijakan ini membantu meningkatkan interaksi keluarga dan kualitas tidur, sekaligus menekan frekuensi bermain game di luar waktu yang dijadwalkan. Zona ini juga menjadi pengingat untuk beristirahat dari layar HP.6. Dorong Aktivitas Sosial di Dunia Nyata
Interaksi sosial di dunia nyata membantu anak dan dewasa tetap terhubung secara emosional dan mencegah isolasi akibat terlalu banyak bermain game online. Ikut kegiatan komunitas, olahraga tim, atau sekadar berkumpul bersama teman dapat memperkuat keseimbangan antara dunia nyata dan virtual.7. Gunakan Game sebagai Sarana Edukasi dan Komunikasi
Alih-alih melarang sepenuhnya, orang tua bisa memanfaatkan game untuk memahami minat anak dan menjadikannya bahan diskusi positif. Bermain bersama sesekali juga bisa menjadi momen untuk menanamkan nilai tanggung jawab dan kerja sama.Demikian penjelasan tentang alasan mengapa PUBG adiktif dan begitu menarik di mata anak-anak maupun orang dewasa. Bermain game memang sangat menyenangkan, tapi penting bagi kita semua untuk memahami cara mengontrol waktu bermain demi mencegah dampak negatif dari kecanduan.
Ingin tahu berita terbaru tentang PUBG atau game online lain? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































