Kericuhan Suporter

PSSI Bentuk Tim Investigasi usai Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 2 Okt 2022 09:08 WIB
Dibaca Normal 1 menit
PSSI langsung membentuk tim investigasi dan segera berangkat ke Malang untuk menyelidiki kericuhan usai laga Arema FC vs Persebaaya di Stadion Kanjuruhan.
tirto.id - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) berduka atas insiden kerusuhan pertandingan Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). PSSI langsung membentuk tim investigasi atas kerusuhan tersebut.

"PSSI menyesalkan tindakan suporter Aremania di Stadion Kanjuruhan. Kami berduka cita dan meminta maaf kepada keluarga korban serta semua pihak atas insiden tersebut. Untuk itu, PSSI langsung membentuk tim investigasi dan segera berangkat ke Malang," kata Ketua PSSI M. Iriawan dalam keterangan dari laman resmi PSSI, Minggu (2/10/2022).

Iriawan menegaskan, PSSI mendukung penuh upaya kepolisian dalam mengungkap kerusuhan tersebut secara tuntas. Mereka juga terus berkoordinasi dengan penegak hukum maupun panitia pelaksana pertandingan Arema FC terkait insiden tersebut.

Di sisi lain, PSSI memutuskan untuk menunda pertandingan Liga 1 akibat kerusuhan yang menelan ratusan korban jiwa itu.

"Untuk sementara kompetisi Liga 1 2022/2023 kami hentikan selama satu pekan. Selain itu tim Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi musim ini," tutur mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Pertandingan BRI Liga 1 2022/2023 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya yang berakhir 2-3 untuk tim tamu berakhir ricuh. Ribuan suporter Arema FC turun ke lapangan meluapkan emosi karena timnya kalah.

Emosi tersebut menjadi tidak terkontrol hingga akhirnya menelan korban jiwa. Dalam informasi yang dihimpun, setidaknya 127 orang meninggal dunia dan 3 kendaraan taktis rusak diamuk massa. Selain itu, diperkirakan ada 180 orang luka-luka akibat kejadian tersebut.

Selain itu, kerusuhan pasca pertandingan Arema melawan Persebaya berpotensi dilirik FIFA. Upaya penanganan huru-hara yang dilakukan aparat dinilai melanggar aturan pengamanan dan keamanan stadion FIFA pada poin 19b tentang pengaman di pinggir lapangan.

Pada aturan FIFA di poin 19b itu tertulis, "No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used (senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak boleh dibawa atau digunakan)."

Kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang ini tercatat sebagai salah satu tragedi dengan korban jiwa terbanyak kedua di dunia. Kericuhan suporter dengan korban jiwa paling banyak terjadi saat laga tim nasional Peru vs Argentina untuk kualifikasi Olimpiade Musim Panas 1964.

Peristiwa itu, menurut BBC, merupakan salah satu tragedi terparah dalam sejarah sepak bola dunia. Kericuhan suporter sepak bola di Estadio Nacional di Lima, Peru ini merenggut nyawa sekitar 328 orang. Sementara 500 lainnya terluka.


Baca juga artikel terkait KERICUHAN SUPORTER atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Maya Saputri

DarkLight