tirto.id - Pandji Pragiwaksono saat ini dikenal sebagai seorang komika. Mengawali karier sebagai seorang penyiar, Pandji juga dikenal sebagai pembawa acara televisi hingga rapper. Nama Pandji malang-melintang menghiasi dunia hiburan, setidaknya dalam 2 dekade terakhir.
Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo lahir di Singapura pada 18 Juni 1979. Selama rentang 2 dekade lebih, Pandji memang menjajal berbagai ranah dunia hiburan. Belakangan, sosoknya lebih sering dikaitkan dengan dunia stand-up comedy.
Pandji juga salah satu sosok pendiri komunitas Standupindo, yang menjadi wadah lahirnya komika-komika baru di Indonesia saat ini. Selama nyemplung di stand-up comedy, Pandji telah menggelar 10 pertunjukan spesial tunggal hingga 2025.
Mens Rea (2025) menjadi pertunjukan spesial tunggal terbaru dari Pandji yang acara puncaknya digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada Agustus 2025. Pertunjukan ini belakangan jadi perbincangan, utamanya sejak ditayangkan di Netflix per Desember 2025.
Karier Pandji dari Penyiar hingga Jadi Komika
Pandji mengawali kariernya sebagai seorang penyiar di radio Hard Rock FM Bandung. Di akhir masa pekuliahannya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Pandji melamar pekerjaan ke Hard Rock Bandung. Awalnya, ia melamar pekerjaan sebagai operator telepon.
“Gue ngelamar sebagai operator, terus pas wawancara ternyata –gue kayaknya cukup menghibur, terus ditanya… Lu enggak mau jadi penyiar aja?” kata Pandji mengenang awal kariernya, seperti dikutip dari siniar PWK, November 2025.
Dari Bandung, Pandji hijrah ke Jakarta juga sebagai penyiar. Jalan baru lantas terbuka bagi Pandji saat mendapat tawaran menjadi pembawa acara televisi, Kena Deh, reality show yang diadaptasi dari acara luar negeri bertajuk Oblivious.
Kena Deh sempat kesulitan mencari pembawa acara yang memenuhi kriteria. Pandji yang bahkan tak mengikuti casting, justru diberi kesempatan oleh talent coordinator rumah produksi Kena Deh di Indonesia. Alasannya, talent coordinator acara ini sudah mengetahui kualitas siaran Pandji sejak di Hard Rock Bandung. Dari sini, Pandji menapaki popularitas.
“Kena Deh mengubah hidup gue. Jadi cuma ada Pandji sebelum Kena Deh dan Pandji sesudah Kena Deh,” kata Pandji dalam pertunjukan komedi tunggal Pragiwaksono Jakarta (2019).
“Setelah Kena Deh, gue jadi seorang entertainer. Terbuka peluangnya untuk banyak hal, termasuk sampai bisa stand-up seperti ini,” lanjut dia.
Setelah itu, Pandji membawakan berbagai acara, termasuk talkshowSebelas Duabelas, Provocative Proactive, menjadi host-juri Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), dan berbagai acara lain.
Di dunia musik, Pandji pernah menelurkan berbagai lagu rap, termasuk di album Provocative Proactive. Lalu di dunia sinema, ia tampil di berbagai film hingga menjadi sutradara Mendarat Darurat (2022) dan Partikelir (2018). Ia juga menelurkan sejumlah buku, termasuk Nasional.Is.Me hingga Menemukan Indonesia.
Awal Karier Stand-up Pandji hingga Mens Rea
Pandji menjadi salah satu dari 5 orang yang mendirikan komunitas Standupindo. Komunitas yang berdiri sejak Juli 2011 ini, kini menaungi komunitas-komunitas lain di daerah dan telah menjadi wadah lahirnya komika-komika baru.Lahirnya Standupindo bermula dari pertemuan 5 orang, yakni Pandji, Ernest Prakasa, Raditya Dika, Isman HS, dan Ryan Adriandhy, di Comedy Cafe untuk sebuah acara open mic.
Pandji menyebut, pertemuan ini diinisiasi Ryan dan Ernest lantaran keduanya bersiap untuk mengikuti ajang kompetisi SUCI musim 1 di Kompas TV. Pandji, yang saat sudah itu ditunjuk menjadi host SUCI Kompas TV, mengiyakan ajakan Ryan dan Ernest.
“Ernest bilang, ini bisa jalan kalau punya komunitasnya ‘Kenapa kita enggak bikin komunitasnya, Stand-up Comedy Indonesia?’,’” kata Raditya Dika, dalam konten YouTube-nya 'Ngomongin Standup Comedy Indonesia (Ft. Pandji Pragiwaksono)', yang tayang pada Oktober 2018.
Bermodalkan rekaman handycam, acara di Comedy Cafe bertajuk Stand Up Nite ini banyak ditonton di YouTube. Komunitas-komunitas Standupindo kemudian bermunculan di berbagai kota setelah Ernest mendeklarasikan nama perkumpulan ini.
Pandji dan kawan-kawan bukan orang-orang yang pertama kali mengenalkan pertunjukan stand-up comedy di Indonesia.Pandji dan Raditya Dika mengakui, pertunjukan ini lebih dulu dikenalkan Taufik Savalas melalui joke telling-nya hingga Iwel Sastra. Namun komedi tunggal makin mewabah, seiring masifnya transfer pengetahuan melalui komunitas Standupindo.
“Teman-teman yang punya teori [tentang lawakan tunggal], datang ke komunitasnya, terus ngomongin soal teori yang mereka punya. Jadi edukasi itu jadi bagian penting,” kata Raditya dalam konten YouTube-nya 2018 itu.
“Jadi kultur [stand-up comedy] kita,” Pandji menimpali.
Sejak Standupindo lahir, Pandji terus mengibarkan namanya di ranah komedi tunggal. Bisa dibilang, Pandji jadi salah satu founder Standupindo yang lebih banyak menfokuskan kariernya di bidang ini dibanding pendiri lain. Ernest misalnya, kemudian lebih banyak berkecimpung di dunia film. Hingga Ryan Adriandhy di dunia animasi sampai jadi sutradara.
Sedangkan Pandji, cukup sering menggelar pertunjukan komedi tunggal spesial dalam rentang 15 tahunan kariernya sebagai komika. Special show pertama Pandji bertajuk Bhinneka Tunggal Tawa digelar di Teater Usmar Ismail, Jakarta, pada 2011.
Pandji kemudian menggelar pertunjukan spesial tunggal lain, seperti Merdeka Dalam Bercanda (2012), Mesakke Bangsaku (2013), Juru Bicara (2016), Pragiwaksono (2018), Septictank (2019), Hiduplah Indonesia Maya (2019), Keadaan Kahar (2020), Ternyata Ini Sebabnya (2021), Komoidoumenoi (2022), hingga Mens Rea (2025).
Dari semula dihadiri ratusan penonton, pertunjukan Pandji belakangan menarik animo hingga ribuan pasang mata di venue acara. Dalam Mens Rea misalnya, pertunjukan puncak di Jakarta dihadiri sekitar 10 ribu penonton.
Pandji kerap membawa tema-tema politik dalam acara-acara spesialnya, termasuk Mens Rea. Acara Mens Rea bahkan digambarkan oleh analisis alat pemantau percakapan warganet, Drone Emprit, sebagai peristiwa sosial-politik alih-alih hanya sebagai tontonan. Apalagi Mens Rea jadi perbincangan setelah tayang di Netflix sejak akhir 2025.
“Mens Rea memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial, hampir 1.000 pemberitaan media online, dengan total interaksi lebih dari 117 juta [selama 11 hari sejak tayang di Netflix]. Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik," rilis Drone Emprit, Kamis (8/1/2026).
Mens Rea mendapat sentiman positif dari warganet di media sosial. Setidaknya 2 pertiga percakapan di Instagram, X (Twitter), Facebook, YouTube, dan TikTok, bernada dukungan. Di sisi lain, tak sedikit pihak yang kontra dengan materi-materi Pandji di Mens Rea.
"Banyak [di media sosial] yang menyebut materinya [Pandji di Mens Rea] 'kena', relevan, dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil: soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat-presiden," tulis Drone Emprit.
"Sebaliknya, media online cenderung lebih negatif [56,2 negatif; 34,8 positif; dan 9 netral]. Lebih dari separuh pemberitaan bernada kritik, dengan fokus pada kontroversi: isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum. Alih-alih membahas substansi," lanjut Drone Emprit.
Kontroversi Pandji & Ketersinggungan Materi Stand-up-nya
Pertunjukan spesial Pandji sebagai komika kerap kali menciptakan pro-kontra. Terbaru, Mens Rea turut dipermasalahkan hingga dilaporkan ke polisi. Pandji dilaporkan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama dan Aliansi Muda Muhammadiyah, melalui surat laporan STTLP/B/166/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, tertanggal tertanggal 8 Januari 2026 pukul 00.36 WIB.
Materi Pandji yang dipermasalahkan ialah saat dirinya menyebut NU dan Muhammadiyah terlibat politik balas budi. Pandji dalam materinya di Mens Rea, menyebut bahwa NU dan Muhammadiyah menerima tambang sebagai imbalan dari suara ormas mereka di pemilu.
Namun, PBNU dan PP Muhammadiyah membantah bahwa pelapor merupakan bagian maupun mewakili organisasi. PBNU membantah jika AMNU bagian dari organisasinya. Sedangkan, PP Muhammadiyah menyatakan, keberatan Aliansi Pemuda Muhammadiyah bukan merupakan sikap resmi atau mandat dari Persyarikatan Muhammadiyah.
Di saat yang sama, materi Pandji yang menyinggung kondisi fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming juga turut dipermasalahkan. Penyanyi Tompi, misalnya, keberatan dengan materi Pandji soal Gibran melalui unggahan di media sosial.
Orang lain yang mempermasalahkan ialah pendukung Dharma Pongrekun, seorang purnawirawan Polri. Dalam konteks ini, Pandji menyinggung Dharma Pongrekun yang mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2024 lalu. Pandji kemudian mendapat somasi dari pendukung Dharma Pongrekun.
Selain itu, Pandji pada 2025 sempat dipermasalahkan lantaran diduga melecehkan suku Toraja di Sulawesi Selatan, terkait materinya soal Rambu Solo. Materi tersebut dibawakan Pandji dalam pertunjukan Mesakke Bangsaku pada 2013 dan dipermasalahkan setelah berlalu lebih dari satu dasawarsa.
Pada 2019, materi Pandji pernah dipermasalahkan pecinta hewan, termasuk yayasan pecinta hewan, Garda Satwa Indonesia. Duduk perkaranya, Pandji menggunakan kucing dan menyebut kata ‘gembel’ dalam materinya.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































