Menuju konten utama

Profil Low Tuck Kwong yang Beli Lukisan Kuda Api SBY Rp6,5 M

Sosok Low Tuck Kwong, miliarder yang membeli lukisan kuda api SBY senilai Rp6,5 miliar. Low Tuck Kwong dikenal sebagai "raja batu bara".

Profil Low Tuck Kwong yang Beli Lukisan Kuda Api SBY Rp6,5 M
Lukisan Kuda Api SBY. youtube/Partai Demokrat

tirto.id - Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertema Kuda Api dibeli oleh Low Tuck Kwong dengan harga Rp6,5 miliar. Low memenangkan lelang yang diadakan pada gelaran Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Partai Demokrat pada Rabu, 18 Februari 2026 di Djakarta Theater, Jakarta.

Dalam lelang lukisan SBY yang dipandu oleh Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia Ossy Dermawan tersebut akhirnya menetapkan Low Tuck Kwong sebagai pemenang.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menuliskan di sebuah unggahan di Instagram @agusyudhoyono tentang lukisan SBY ini.

“Spesial untuk merayakan momen Imlek Tahun Kuda Api ini, Bapak SBY selaku pendiri @pdemokrat dan Presiden RI ke-6 membuat lukisan "Kuda Api" dengan arti energi, kekuatan, kerja keras, dan transformasi yang ingin kita hadirkan untuk Indonesia yang semakin maju dalam balutan kedamaian dan persatuan,” tulisnya.

AHY menyampaikan bahwa hasil lelang lukisan tersebut akan sepenuhnya digunakan untuk bantuan kemanusiaan, membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang terdampak bencana atau kondisi sulit.

Lukisan Kuda Api SBY

Lukisan Kuda Api SBY. youtube/Partai Demokrat

Profil Low Tuck Kwong dan Perjalanan Kariernya

Low Tuck Kwong, lahir pada 17 April 1948 di Singapura, adalah seorang pengusaha miliarder Indonesia yang dikenal sebagai “raja batu bara” karena kesuksesannya di industri pertambangan.

Ia adalah pendiri sekaligus Presiden Direktur dari Bayan Resources, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia.

Karier Low berawal dari bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya, seorang migran asal Tiongkok Selatan yang mendirikan Sum Cheong, ketika ia masih remaja.

Berbeda dari banyak saudara yang mungkin mewarisi bisnis keluarga, Low memilih menapaki jalannya sendiri dan pada tahun 1972 pindah ke Indonesia untuk mengejar peluang yang lebih besar, di mana pasar dan sumber daya belum banyak dijelajahi oleh pengusaha Singapura pada masa itu.

Seperti dilansir Vn Express, proyek pertama Low di Indonesia terjadi pada tahun 1973, ketika ia mengerjakan pekerjaan fondasi untuk pabrik es krim di kawasan Ancol, Jakarta, dan memperkenalkan teknik palu diesel (diesel hammer) untuk percepatan konstruksi, yang kemudian menjadi inovasi baru di industri konstruksi lokal.

Low kemudian membentuk Jaya Sumpiles Indonesia bersama Jaya Steel, sebuah perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang pekerjaan tanah, konstruksi sipil, dan struktur kelautan.

Pada 1988, Low mengambil alih penuh perusahaan tersebut dan mengembangkannya ke bidang kontrak pertambangan batu bara. Pengalaman ini kemudian mendorongnya untuk memiliki tambang sendiri.

Karena Indonesia membatasi kepemilikan asing atas konsesi pertambangan, Low menjadi warga negara Indonesia pada 1992. Lima tahun kemudian, ia membeli tambang pertamanya, Gunungbayan Pratamacoal.

Banyak pihak meragukan keputusan ini, namun Low tetap optimistis terhadap kualitas batu bara yang dihasilkannya. Produksi perdana dimulai pada tahun 1997, bersamaan dengan krisis keuangan Asia dan ketidakstabilan politik di Indonesia, yang membuat pengiriman pertama mengalami kerugian US$3 per ton.

Meskipun menghadapi tantangan besar, Low terus mengembangkan operasi Bayan Resources, membeli pelabuhan batu bara di pantai timur Borneo pada 1998, dan membawa perusahaannya go public di Bursa Efek Indonesia pada 2002.

Selama bertahun-tahun, perusahaan mengambil pinjaman untuk mengakuisisi tambang tambahan, meski dunia sempat meragukan masa depan batu bara karena isu perubahan iklim dan peralihan energi bersih, terutama di China.

Namun, permintaan batu bara tetap tinggi karena China sebagai pusat manufaktur dunia, dan Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai eksportir batu bara terbesar. Hal ini membuat Bayan terus berkembang dan kembali sehat secara finansial pada 2018.

Low sempat mencoba menjual sebagian sahamnya sebelum pandemi Covid-19, namun gagal menemukan pembeli yang tepat. Sebagai gantinya, ia menambah sahamnya sendiri.

"Sangat sederhana: Jika saya tidak bisa menjual sebagian saham saya, lebih baik saya membeli lebih banyak," kata Low dikutip The Straits Times.

Strategi ini terbukti sukses ketika permintaan batu bara melonjak pasca pandemi, ditambah dampak geopolitik dari perang Rusia-Ukraina, yang mendorong harga dan penjualan Bayan meningkat pesat.

Pada 2022, kekayaannya mencapai US$12,1 miliar, dan pada 2023 melonjak menjadi lebih dari US$27 miliar, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia dan dunia.

Hingga 2024, Low tercatat memiliki kekayaan sekitar US$27 miliar, dengan mayoritas berasal dari sahamnya di Bayan Resources, di mana ia memiliki 62% melalui kepemilikan langsung maupun melalui anak-anaknya.

Selain batu bara, Low juga memperluas investasi di sektor energi terbarukan melalui perusahaan Metis Energy di Singapura, memiliki kepemilikan di The Farrer Park Company di bidang kesehatan, dan Samindo Resources.

Ia juga mendukung SEAX Global, yang membangun sistem kabel bawah laut untuk meningkatkan konektivitas internet antara Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Pada Agustus 2024, Low mentransfer sebagian saham Bayan senilai US$6,6 miliar kepada putrinya, Elaine Low, sebagai bagian dari perencanaan suksesi jangka panjang.

Low Tuck Kwong berada di peringkat ke‑4 di antara 50 orang terkaya di Indonesia dan urutan ke‑72 dalam daftar miliarder terkaya di dunia pada tahun 2025 menurut Forbes.

Baca juga artikel terkait SBY atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra