Menuju konten utama

Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia

Lukisan cadas berusia 67.800 tahun yang ditemukan di Sulawesi ini disebut 1.000 tahun lebih tua dari lukisan cap tangan di Spanyol. Bagaimana kisahnya?

Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia
Lukisan cadas di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dok. Adhi Agus Oktaviana.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penemuan lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menorehkan babak baru dalam sejarah seni dan migrasi manusia modern. Lukisan berupa cap tangan negatif yang berada di dinding gua tersebut, kini disebut sebagai yang tertua di dunia, melampaui temuan serupa di Spanyol.

Lukisan cadas (gambar yang dibuat oleh manusia prasejarah pada permukaan batuan keras) ini ditemukan hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University Australia, dan Southern Cross University Australia. Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menceritakan perjalanan tim peneliti hingga akhirnya dapat menemukan dan menyelesaikan proses penamaan terhadap lukisan cadas tertua ini.

Adhi bercerita, riset mengani lukisan cadas tertua ini melalui perjalanan panjang. Riset ini dimulai dari proses publikasi temuan di Leang Timpuseng pada 2014. Riset yang telah melibatkan kolaborasi internasional tersebut menarik Adhi untuk mempelajari bagaimana perlakuan terhadap sample untuk uranium series.

"Saya ikut kolaborasi tim kerja sama sejak 2013-an di bawah pimpinan Prof. Adam Brumm. Saat itu, Prof. Maxime Aubert datang untuk pengambilan sample pertanggalan di Leang Timpuseng untuk publikasi 2014 yang Nature (jurnal publikasi), saya pelajari sample untuk uranium series itu seperti apa, dan perlakuannya juga harus seperti apa," kata Adhi kepada Tirto, Sabtu (24/1/2026).

Kemudian, berbekal mempelajari sample dan terlibat dalam pembuatan Buku Gambar Cadas Prasejarah Indonesia, Adhi berkesempatan untuk mengunjungi sejumlah situs di Muna, Sulawesi Tenggara, bersama para arkeolog lainnya. Kata Adhi, pada 2014, di kawasan Karst Muna, telah terdapat beberapa temuan lukisan cadas di sejumlah gua. Namun, di Gua Metanduno belum terdapat temuan bahkan informasi sekali pun yang membuat Adhi penasaran.

Adhi, yang berpengalaman mengikuti survei di Maros-Pangkep, mulai menelusuri dinding-dinding karst di Metanduno dan menemukan cap tangan di bawah bongkahan batu. Karena belum meyakinkan, Adhi kembali memulai pencarian dan menemukan beberapa cap tangan di bagian belakang gua.

"Saya coba telusuri dinding-dinding karst di Metanduno, pertama kali dapat cap tangan itu dibawah bongkah batu, ada 3 cap tangan, namun karena mungkin kurang meyakinkan sama Pak Laode Aksa, saya diminta mencari lagi, di bagian dinding belakang ketemu beberapa cap tangan, nah yang panil pertanggalan saya temukan terakhir, saat itu pas saya liat, wah ini sepertinya bisa diambil sample untuk pertanggalan uranium series," ujar Adhi.

Lebih lanjut, kata Adhi, setelah diperhatikan cap tangan yang ditemukan memiliki pola jari runcing. Adhi menyebut dirinya sempat melakukan kolaborasi dan mengajukan artikel tentang persebaran pola jari runcing dari Maros-Pangkep hingga ke Muna. Dia juga sempat mempresentasikan tentang jari runcing tersebut di Paris.

Kemudian, dengan sejumlah temuan dan pengalamannya, Adhi menyampaikannya kepada para profesor dari Griffith University. Hal ini, dilanjutkan dengan pengambilan sample temuan di Metanduno dan Pominsa bersama dengan para arkeolog dan Dinas Kebudayaan. Katanya, pengambilan ini dilakukan berbarengan dengan pengambilan sample di Leang Karampuang.

Perjalanan panjang penemuan lukisan cadas ini, kata Adhi, melibatkan banyak pihak dan dilakukan dengan kolaborasi yang kuat. Dia juga menyebut penelitian di Muna telah dilakukan puluhan tahun lamanya oleh para seniornya. Adhi menyebut, hal itu membuat adanya panggilan tersendiri terhadapnya untuk melakukan riset di Muna.

"Selain untuk update data gambar cadas, juga untuk memperlengkap data gambar cadas yang saya miliki, seperti wilayah Buton Tengah juga yang sebelumnya belum ada laporan temuan situs gambar cadas, makanya saya dan kawan-kawan dari UHO melakukan survey di sana dan alhamdulillah dapat 14 situs di pesisir karst di sana, dibantu teman-teman lokal juga seperti Yoyo dan Tasrin," tutur Adhi.

Adhi menjelaskan bahwa usia minimum seni cadas Pulau Muna ini lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros–Pangkep yang ditemukan sebelumnya. Seni cadas ini juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

“Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” tambah Prof. Maxime Aubert, salah satu peneliti utama, dikutip dari rilis BRIN.

Dia juga menjelaskan soal bagaimana lukisan cadas tertua ini dapat dibuat oleh manusia modern 67.800 tahun lalu.

Kata Adhi, lukisan berbetuk cap tangan negatif tersebut dibuat dengan menempatkan tangan di dinding atau langit-langit gua, lalu pigmen oker yang mungkin dicampur dengan zat organik seperti cairan lemak binatang atau cairan lainnya disemprotkan lewat mulut, hingga menutup cap tangan dan menjadi stensil di dinding gua.

"Untuk cap tangan negatif dibuat dengan menempatkan tangan di dinding atau langit-langit gua, lalu pigmen oker yang mungkin dicampur zat organik seperti cairan lemak binatang atau cairan lainnya disemprotkan lewat mulut, hingga menutupi cap tangan dan menjadi stensil di media itu," ucap Adhi.

Kemudian, stensil tersebut tersimpan selama puluhan hingga ribuan tahun dan tumbuh batuan kolaroid di atas pigmen warna tersebut, hingga sampai kepada kita saat ini. Kata Adhi, cap tangan negatif dengan pola jari runcing merupakan khas Sulawesi, berbeda dengan di Kalimantan yang memiliki pola titik dan garis seperti tato.

Adhi menyebut, temuan lukisan cadas tertua ini membuktikan bahwa manusia modern atau homo sapiens telah memiliki kemampuan berimajinasi dan membuat gambar cadas sejak mereka melintasi paparan Sunda menuju paparan Sahul lewat kawasan Wallacea. Di Sulawesi, kata Adhi, telah terbukti bahwa perkembangan kognisi manusia modern awal, matang, dan berkembang melintasi beberapa puluh generasi sejak 67.800 tahun yang lalu.

"Ini juga membuktikan bahwa jalur migrasi utara dari Sunda ke Sahul mungkin yang dominan dipakai oleh homo sapiens, dari Kalimantan menuju Sulawesi, Seram, Misool, Papua hingga ke selatan dan sampai ke Australia," kata Adhi.

Ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan. Para peneliti meminta agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Baca juga artikel terkait PENELITIAN atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Rina Nurjanah